
Gorontalo – Mempelajari sistem endokrin menjadi salah satu tantangan bagi mahasiswa keperawatan karena materi yang kompleks dan membutuhkan pemahaman konsep sekaligus kemampuan menerapkannya dalam konteks profesi. Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengembangkan model pembelajaran yang disebut Ten-Jump Model.
Model tersebut dikembangkan dan diuji dalam penelitian berjudul Enhancing Endocrine System Learning in Nursing Education: A Ten-Jump Model Developed at Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian ini melibatkan Cecy Rahma Karim, Elya Nusantari, Frida Maryati Yusuf, Margaretha Solang, Weny J. A. Musa, dan Nova Elysia Ntobuo.
Penelitian ini berangkat dari kebutuhan menghadirkan strategi pembelajaran yang dapat membantu mahasiswa memahami materi sistem endokrin secara lebih mendalam. Materi tersebut memiliki konsep yang saling berkaitan sehingga mahasiswa perlu mampu menghubungkan pengetahuan dasar dengan persoalan yang relevan dengan bidang keperawatan. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam pendidikan keperawatan adalah Problem-Based Learning (PBL) dengan model seven-jump. Namun, peneliti melihat masih terdapat sejumlah tantangan dalam penerapannya, terutama dalam membangun pemahaman konseptual dan kontekstual secara menyeluruh, meningkatkan motivasi belajar, serta mendorong mahasiswa untuk belajar secara mandiri. Perkembangan teknologi juga membuka peluang untuk memperkaya proses pembelajaran dengan pendekatan yang lebih interaktif.
Untuk menjawab tantangan tersebut, peneliti mengembangkan Ten-Jump Model, yaitu pengembangan dari kerangka seven-jump dengan menambahkan tahapan pembelajaran untuk memperdalam pemahaman teori dan penerapannya. Model ini juga mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran, termasuk pemanfaatan platform digital untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman belajar mahasiswa. Pengembangan model dilakukan menggunakan metodologi ADDIE, yang mencakup tahapan analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Melalui pendekatan ini, model pembelajaran dikembangkan secara sistematis dan dievaluasi dari sisi validitas, kepraktisan, serta efektivitas sebelum diterapkan dalam proses pembelajaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ten-Jump Model memenuhi kriteria validitas dan standar pendidikan serta dinilai praktis untuk diterapkan dalam pembelajaran. Model ini juga dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, mendorong pembelajaran mandiri, serta meningkatkan motivasi dan keterlibatan dalam proses belajar. Dari sisi penerapan, evaluasi awal menunjukkan tingkat kepraktisan model mencapai 78,26 persen. Setelah beberapa kali pelaksanaan, tingkat kepraktisan meningkat dan berada pada rentang 80 persen hingga 100 persen. Peningkatan tersebut dikaitkan dengan semakin baiknya kemampuan dosen dalam menerapkan tahapan model sekaligus memfasilitasi keterlibatan mahasiswa selama proses pembelajaran.
Keunggulan Ten-Jump Model terletak pada upayanya menggabungkan pembelajaran yang terstruktur dengan kesempatan bagi mahasiswa untuk membangun pengetahuan secara mandiri. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa tidak hanya memahami materi sistem endokrin, tetapi juga mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi persoalan profesional.
Dalam konteks pendidikan keperawatan, kemampuan memahami konsep secara mendalam menjadi penting karena calon tenaga kesehatan tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta menghubungkan pengetahuan dengan situasi yang mungkin dihadapi dalam praktik.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan model pembelajaran dapat menjadi salah satu cara untuk merespons perubahan kebutuhan pendidikan tinggi dan dunia profesi. Integrasi teknologi dalam proses belajar memberikan ruang bagi mahasiswa untuk lebih aktif mendokumentasikan, mendiskusikan, dan membagikan pengalaman belajar mereka.
Meski demikian, peneliti juga mengakui bahwa penerapan model masih menghadapi sejumlah tantangan. Dosen membutuhkan pemahaman dan panduan yang memadai agar setiap tahapan Ten-Jump Model dapat diterapkan secara efektif. Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk melihat kemampuan model beradaptasi dengan berbagai gaya belajar dan konteks pembelajaran yang berbeda.
Ke depan, Ten-Jump Model berpotensi dikembangkan untuk digunakan pada mata kuliah atau bidang lain yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Peneliti merekomendasikan penerapan skenario permasalahan yang berkaitan langsung dengan tanggung jawab profesional mahasiswa sehingga kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan dapat semakin terasah.
Pengembangan Ten-Jump Model menjadi salah satu kontribusi akademisi Universitas Negeri Gorontalo dalam menghadirkan inovasi pembelajaran di bidang pendidikan keperawatan. Model ini memperlihatkan bahwa strategi pembelajaran yang dirancang berdasarkan kebutuhan mahasiswa dan didukung pemanfaatan teknologi dapat menjadi alternatif untuk memperkaya pengalaman belajar sekaligus membantu mempersiapkan mahasiswa menghadapi tuntutan profesional di masa depan.
Sumber: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/2331186X.2025.2451485
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026
Judul : Pengendalian Spesies Invasif melalui Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengolahan Ikan Sapu-sapu menjadi Tepung Ikan sebagai Upaya Penguatan Ekonomi Lokal" Desa Limehe Timur Kecamatan Tabongo
Judul : Penguatan Kemandirian Petani melalui Koperasi Merah putih Desa Polohungo Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo