
Pencemaran logam berat dalam sumber air menjadi persoalan lingkungan yang tidak hanya mengancam kualitas ekosistem, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat. Sebuah penelitian yang melibatkan dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengungkapkan adanya titik-titik pencemaran logam berat pada sumber air di kawasan industri Jakarta, dengan anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan terhadap risiko paparan.
Penelitian berjudul Health Risk Assessment of Heavy Metals in Drinking Water Sources: Waste Water Management tersebut diterbitkan dalam International Journal of Environmental Science and Development, Volume 17, Nomor 2, Tahun 2026. Salah satu penulisnya adalah Syarwani Canon dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Gorontalo.
Penelitian ini mengkaji keberadaan lima jenis logam berat, yakni timbal (Pb), kadmium (Cd), arsenik (As), merkuri (Hg), dan kromium (Cr), pada berbagai sumber air di daerah tangkapan Sungai Siliwangi, kawasan industri Jakarta. Kajian tersebut juga menganalisis potensi dampak paparan logam berat terhadap kesehatan manusia serta keterkaitannya dengan pengelolaan air limbah.
Untuk memperoleh gambaran kualitas air, tim peneliti mengumpulkan 40 sampel dari 20 titik pengambilan sampel pada musim kemarau dan musim hujan tahun 2024. Sampel mencakup air tanah, air permukaan sungai, dan air buangan instalasi pengolahan air limbah. Konsentrasi logam berat dianalisis menggunakan instrumen Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS), sedangkan penilaian risiko kesehatan dilakukan dengan mengacu pada protokol Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau Environmental Protection Agency (EPA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rata-rata kelima logam berat yang dianalisis masih berada dalam batas pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh sumber air yang diteliti bebas dari pencemaran.
Peneliti menemukan bahwa konsentrasi timbal melampaui batas pedoman WHO sebesar 10 mikrogram per liter pada 25 persen sampel. Konsentrasi timbal tertinggi mencapai 25,8 mikrogram per liter, sedangkan arsenik mencapai 18,5 mikrogram per liter. Temuan ini memperlihatkan bahwa pencemaran tidak tersebar secara merata, melainkan terkonsentrasi pada titik-titik tertentu yang memerlukan perhatian lebih serius.
Perbedaan konsentrasi antartitik pengambilan sampel menjadi salah satu aspek penting dalam penelitian ini. Penilaian kualitas air tidak cukup hanya mengandalkan nilai rata-rata, tetapi juga perlu mempertimbangkan lokasi dengan tingkat pencemaran tinggi yang berpotensi meningkatkan paparan masyarakat terhadap zat berbahaya.
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah tingginya konsentrasi logam berat pada air buangan instalasi pengolahan air limbah dibandingkan dengan sumber air lainnya. Rata-rata konsentrasi timbal pada air buangan mencapai 15,3 mikrogram per liter, sedangkan kadmium mencapai 3,8 mikrogram per liter dan arsenik 11,5 mikrogram per liter. Untuk kromium, konsentrasinya mencapai rata-rata 22,7 mikrogram per liter, lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata pada air tanah yang sebesar 8,5 mikrogram per liter.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa air buangan masih membawa kandungan logam berat yang perlu dikendalikan. Kondisi ini mengindikasikan perlunya evaluasi terhadap efektivitas proses pengolahan air limbah, khususnya dalam mengurangi kandungan logam berat sebelum air buangan dilepaskan ke lingkungan.
Analisis hubungan ant logam juga menunjukkan korelasi kuat antara timbal dan kadmium, dengan nilai korelasi 0,85. Hubungan tersebut mengindikasikan kemungkinan adanya sumber pencemaran yang sama, yang menurut peneliti dapat berkaitan dengan aktivitas industri di sekitar lokasi penelitian.
Selain itu, konsentrasi logam berat cenderung lebih tinggi pada musim kemarau dibandingkan musim hujan. Secara rata-rata, konsentrasi logam yang dianalisis turun sekitar 37 persen pada musim hujan. Peneliti mengaitkan pola ini dengan pengenceran akibat curah hujan dan perubahan kondisi hidrologis. Artinya, perubahan musim perlu diperhitungkan dalam pemantauan kualitas air secara berkala.
Selain mengukur konsentrasi logam berat, penelitian ini mengevaluasi potensi dampaknya terhadap kesehatan berdasarkan kelompok usia. Hasil analisis menunjukkan bahwa anak-anak memiliki indeks bahaya nonkanker (Hazard Index atau HI) sebesar 6,1, lebih tinggi dibandingkan kelompok remaja sebesar 4,1 dan orang dewasa sebesar 2,9. Dalam penilaian risiko yang digunakan peneliti, nilai HI di atas 1 menunjukkan adanya potensi risiko kesehatan nonkanker yang perlu diperhatikan. Karena seluruh kelompok usia memiliki nilai di atas ambang tersebut, hasil penelitian menegaskan perlunya upaya pengendalian paparan logam berat, terutama bagi anak-anak.
Arsenik dan timbal menjadi kontributor utama terhadap indeks bahaya pada kelompok anak-anak. Kerentanan ini berkaitan dengan sejumlah faktor yang dipertimbangkan dalam penilaian risiko, termasuk perbedaan karakteristik fisiologis, konsumsi air relatif terhadap berat badan, serta perkembangan sistem saraf dan kekebalan tubuh.
Penelitian juga mengidentifikasi arsenik sebagai salah satu perhatian utama dalam penilaian risiko kanker. Nilai risiko kanker rata-rata yang dilaporkan untuk arsenik berada pada tingkat yang memerlukan perhatian serius. Meski demikian, angka tersebut merupakan hasil pemodelan risiko berdasarkan konsentrasi logam dalam air, bukan jumlah kasus kanker yang telah teramati secara langsung pada masyarakat di lokasi penelitian.
Temuan ini memperkuat pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan melalui pengendalian pencemaran, pemantauan kualitas air, dan pencegahan penggunaan sumber air yang tidak memenuhi persyaratan keamanan.
Berdasarkan hasil penelitian, penanganan pencemaran logam berat memerlukan pendekatan yang terarah, terutama pada titik-titik yang berdekatan dengan kawasan industri dan saluran pembuangan air limbah. Peneliti merekomendasikan peningkatan kemampuan instalasi pengolahan air limbah melalui penerapan teknologi yang lebih efektif untuk menghilangkan logam berat.
Penguatan standar pengolahan awal limbah industri sebelum dialirkan ke sistem pengolahan bersama juga menjadi langkah penting. Selain itu, pemantauan kualitas air perlu dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan variasi musim dan kondisi setiap lokasi, sehingga potensi pencemaran dapat diidentifikasi lebih dini.
Peneliti turut menekankan perlunya perlindungan terhadap sumber air tanah serta peningkatan perhatian terhadap kelompok masyarakat yang lebih rentan, khususnya anak-anak. Langkah-langkah tersebut dapat membantu mengarahkan intervensi berdasarkan tingkat risiko dan karakteristik pencemaran di masing-masing wilayah.
Meski memberikan gambaran penting mengenai risiko logam berat, penelitian ini memiliki keterbatasan. Pengambilan sampel hanya dilakukan selama satu tahun, sementara analisis belum membedakan bentuk kimia setiap logam yang dapat memiliki tingkat toksisitas berbeda. Penilaian risiko juga berfokus pada paparan melalui konsumsi air dan belum mencakup jalur paparan lain, seperti makanan yang berasal dari lahan yang diairi air tercemar. Karena itu, pemantauan jangka panjang dan kajian paparan yang lebih menyeluruh masih diperlukan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan kualitas air tidak cukup hanya berorientasi pada pemenuhan nilai rata-rata baku mutu. Identifikasi titik pencemaran, peningkatan efektivitas pengolahan air limbah, serta perlindungan kelompok rentan menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan sumber air.
Melalui kajian berbasis data ilmiah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan dalam memperkuat pengendalian pencemaran serta mengembangkan sistem pengelolaan air yang lebih aman dan berkelanjutan.
Oleh: Peni Pujiastuti, Iskahar Iskahar, Syarwani Canon, Sajidah Putri, Wisber Wiryanto, and Kassem Jumma
kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026