
Pemanfaatan bahan alami untuk mendukung kesehatan ikan budi daya terus menjadi perhatian dalam penelitian akuakultur. Salah satu bahan yang berpotensi dikembangkan adalah ekstrak daun ubi jalar ungu (Ipomoea batatas). Penelitian kolaborasi yang melibatkan peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan Universitas Airlangga menemukan bahwa penambahan ekstrak daun tersebut ke dalam pakan dapat membantu mengurangi kerusakan jaringan organ ikan Neolissochilus soroides yang terpapar amonia.
Temuan ini dipublikasikan dalam artikel ilmiah berjudul “Effect of Purple Sweet Potato Leaf Extract Supplementation on the Histopathology of Gills, Liver, and Kidneys in Neolissochilus soroides Exposed to Ammonia as a Stressor” di Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries, Volume 29 Nomor 2, halaman 953–965, tahun 2025.
Penelitian tersebut melibatkan Suciyono, Darmawan Setia Budi, Hapsari Kenconojati, Afri Arnita Sari, Shovia Finny Anggreani, Arafik Lamadi dari Universitas Negeri Gorontalo, Maya Nurwartanti Yunita dari Universitas Airlangga, serta Ainulyakin H. Imlani dari Mindanao State University, Filipina. Kajian ini berfokus pada kemungkinan penggunaan ekstrak daun ubi jalar ungu sebagai sumber senyawa antioksidan untuk membantu melindungi jaringan organ ikan ketika menghadapi tekanan akibat paparan amonia.
Amonia merupakan salah satu persoalan penting dalam sistem budi daya ikan. Senyawa ini dapat terbentuk dari sisa pakan, kotoran ikan, serta penguraian bahan organik di dalam air. Jika kadarnya meningkat, amonia dapat mengganggu proses metabolisme dan memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika senyawa reaktif dalam tubuh menimbulkan kerusakan pada sel.
Dampaknya dapat terlihat pada sejumlah organ penting ikan. Insang yang berperan dalam pertukaran gas dapat mengalami kerusakan jaringan, sementara hati dan ginjal yang mendukung proses metabolisme serta pengaturan fungsi tubuh juga dapat terdampak. Kondisi ini menjadi tantangan dalam budi daya, terutama bagi jenis ikan yang sensitif terhadap perubahan kualitas air.
Dalam penelitian ini, para peneliti menguji ikan Neolissochilus soroides, yang dikenal sebagai ikan mahseer. Sebanyak 200 ekor ikan digunakan dalam percobaan dengan empat perlakuan penambahan ekstrak daun ubi jalar ungu pada pakan, yakni 0 persen sebagai kontrol, 2,5 persen, 5 persen, dan 7,5 persen. Setiap perlakuan dilakukan dengan lima ulangan. Pemberian pakan dengan tambahan ekstrak berlangsung selama 40 hari, kemudian ikan dipaparkan amonium klorida (NH4Cl) berkonsentrasi 10 ppm selama 48 jam untuk menguji responsnya terhadap stres.
Para peneliti kemudian mengamati kondisi jaringan insang, hati, dan ginjal melalui pemeriksaan histopatologi, yakni pengamatan struktur jaringan menggunakan mikroskop. Pemeriksaan dilakukan sebelum pemeliharaan, setelah 40 hari pemberian perlakuan, dan setelah paparan amonia. Melalui metode ini, peneliti dapat membandingkan jumlah sel normal dan berbagai bentuk kerusakan jaringan, termasuk degenerasi, perdarahan, dan nekrosis atau kematian sel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun ubi jalar ungu selama 40 hari memberikan pengaruh nyata terhadap kondisi jaringan ketiga organ yang diamati. Jumlah sel normal meningkat, sedangkan kerusakan berupa degenerasi, perdarahan, dan nekrosis menurun dibandingkan dengan kelompok kontrol. Secara umum, hasil yang lebih baik terlihat pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak 5 persen dan 7,5 persen.
Kedua konsentrasi tersebut menunjukkan hasil yang lebih baik dalam mempertahankan sel normal dan menekan sebagian bentuk kerusakan jaringan dibandingkan konsentrasi 2,5 persen dan kelompok kontrol. Peneliti juga melaporkan bahwa konsentrasi 7,5 persen memberikan hasil paling baik dalam menekan kerusakan sel secara keseluruhan pada periode pemeliharaan. Namun, pada sejumlah parameter setelah ikan terpapar amonia selama 48 jam, perbedaan antarperlakuan tidak lagi signifikan secara statistik. Artinya, manfaat perlakuan perlu dipahami sesuai parameter dan waktu pengamatan, bukan sebagai perlindungan mutlak terhadap seluruh dampak amonia.
Salah satu penjelasan yang diajukan berkaitan dengan kandungan senyawa bioaktif dalam daun ubi jalar ungu, termasuk flavonoid dan antosianin. Senyawa tersebut dikenal memiliki aktivitas antioksidan yang berpotensi membantu mengendalikan radikal bebas. Dalam kondisi stres oksidatif, radikal bebas yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan sel dan merusak komponen jaringan. Kehadiran senyawa antioksidan berpotensi membantu mengurangi dampak tersebut.
Meski demikian, penelitian ini terutama menilai perubahan struktur jaringan organ ikan. Karena itu, hasilnya belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa ekstrak tersebut secara langsung meningkatkan kelangsungan hidup, mempercepat pertumbuhan, atau menjamin ketahanan ikan dalam berbagai kondisi budi daya. Pengujian lebih lanjut diperlukan untuk menilai manfaatnya pada skala pemeliharaan yang lebih luas, termasuk pengaruh terhadap pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, kualitas air, dan keamanan penggunaan jangka panjang.
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa bahan alami yang mudah dijumpai, seperti daun ubi jalar ungu, berpeluang dikaji lebih jauh sebagai bahan tambahan pakan dalam pengembangan akuakultur. Pemanfaatannya dapat menjadi salah satu arah penelitian untuk mendukung kesehatan ikan, terutama dalam menghadapi tekanan lingkungan. Namun, penggunaan ekstrak sebagai bagian dari praktik budi daya tetap perlu disertai pengelolaan kualitas air yang baik, karena pengendalian sumber amonia tetap menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko kerusakan pada ikan.
Sumber: link jurnal
kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026