
Akses pendidikan di Kota Gorontalo menunjukkan capaian yang relatif tinggi pada jenjang sekolah dasar, tetapi tantangan masih terlihat ketika peserta didik melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kondisi ini menjadi salah satu temuan penelitian yang menganalisis perkembangan pembangunan sosial di bidang pendidikan berdasarkan indikator Net Enrollment Rate (NER) atau angka partisipasi murni.
Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Ethnoscience and Technology in Education Studies (IJEVSS), Volume 05 Nomor 01 Tahun 2026, tersebut mengkaji perkembangan partisipasi pendidikan di Kota Gorontalo selama periode 2014–2024 sekaligus menyusun proyeksi hingga 2030. Hasilnya menunjukkan bahwa pemerataan akses pendidikan masih memerlukan perhatian, terutama pada jenjang sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan perguruan tinggi.
Penelitian ini dilakukan oleh Djunaida Kandow, Dian Rahayu Maku, Mustakim Mokoginta, Indriyati Lanangawa, dan Meilan Daud dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Gorontalo, bersama Mohammad Zubair Hippy dan Siti Rahmatia Machieu dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Para peneliti menggunakan pendekatan gabungan kuantitatif dan kualitatif. Data partisipasi pendidikan dianalisis menggunakan sejumlah metode peramalan, yakni regresi, exponential smoothing, dan ARIMA. Analisis tersebut dilengkapi wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan untuk memperkuat pemahaman terhadap kondisi dan tantangan pendidikan di daerah.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa partisipasi pendidikan pada jenjang sekolah dasar di Kota Gorontalo relatif tinggi. Angka NER jenjang ini pernah mencapai 100 persen pada 2017 dan tercatat sebesar 98,83 persen pada 2024. Capaian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar anak pada kelompok usia sekolah dasar telah mengakses pendidikan sesuai jenjang usianya.
Namun, gambaran berbeda terlihat pada jenjang pendidikan berikutnya. Pada 2024, NER sekolah menengah pertama tercatat sebesar 69,70 persen, sedangkan jenjang sekolah menengah atas mencapai 61,38 persen. Adapun pada pendidikan tinggi, indikator partisipasi yang digunakan dalam penelitian tercatat sebesar 42,38 persen.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan akses pendidikan tidak berhenti pada upaya memastikan anak masuk sekolah dasar. Keberlanjutan pendidikan hingga jenjang menengah dan perguruan tinggi juga perlu menjadi perhatian, sehingga lebih banyak penduduk dapat melanjutkan pendidikan sesuai kelompok usia dan kebutuhannya.
Penelitian ini mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkaitan dengan kondisi tersebut, antara lain keterbatasan ekonomi dan sosial serta belum meratanya akses terhadap infrastruktur digital. Pandemi COVID-19 juga disebut memperberat tantangan partisipasi pendidikan, terutama ketika proses pembelajaran semakin bergantung pada teknologi dan akses internet.
Kondisi ekonomi keluarga dapat memengaruhi kemampuan peserta didik untuk bertahan dalam pendidikan, sedangkan keterbatasan sarana digital berpotensi menghambat akses terhadap pembelajaran berbasis teknologi. Karena itu, peningkatan partisipasi pendidikan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada ketersediaan sekolah, tetapi juga memperhatikan kondisi keluarga, dukungan pembiayaan, dan kualitas layanan pendidikan.
Untuk melihat kemungkinan perkembangan ke depan, para peneliti menyusun proyeksi NER hingga 2030. Dalam skenario moderat, angka partisipasi pendidikan diperkirakan mencapai 99,91 persen untuk sekolah dasar, 77,87 persen untuk sekolah menengah pertama, 66,79 persen untuk sekolah menengah atas, dan 45,68 persen untuk pendidikan tinggi.
Angka-angka tersebut merupakan hasil proyeksi berdasarkan pola data dan asumsi yang digunakan dalam penelitian, sehingga bukan jaminan bahwa capaian itu akan terwujud secara otomatis. Perkembangannya tetap bergantung pada berbagai faktor, termasuk kesinambungan kebijakan pendidikan, kondisi sosial ekonomi masyarakat, dan pemerataan fasilitas pendukung pembelajaran.
Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan penguatan kebijakan afirmatif untuk memperluas akses pendidikan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Program beasiswa, bantuan pendidikan, Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah), dan subsidi pendidikan dinilai perlu diperkuat agar dukungannya menjangkau kelompok yang membutuhkan secara lebih efektif.
Selain itu, pemerataan infrastruktur digital dan peningkatan kapasitas guru dalam memanfaatkan pembelajaran berbasis teknologi menjadi bagian penting dari upaya memperluas kesempatan belajar. Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, masyarakat, dan sektor swasta juga diperlukan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan.
Penelitian ini turut menekankan pentingnya pengembangan pendidikan vokasi dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya memperluas kesempatan memperoleh pengetahuan, tetapi juga dapat mendukung mobilitas sosial dan meningkatkan daya saing sumber daya manusia.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan perlu dilihat tidak hanya dari tingginya partisipasi pada jenjang dasar, tetapi juga dari kemampuan sistem pendidikan menjaga keberlanjutan belajar hingga jenjang yang lebih tinggi. Pemerataan akses, dukungan bagi keluarga rentan, dan peningkatan kualitas layanan menjadi bagian penting untuk memperkuat pembangunan sosial di Kota Gorontalo.
Sumber: https://e-journal.citakonsultindo.or.id/index.php/IJEVSS/article/view/2905
kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026