
Limbah sisik ikan selama ini lebih banyak berakhir sebagai buangan, padahal bagian tubuh ikan tersebut masih menyimpan protein yang dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah. Peluang ini ditunjukkan melalui penelitian Universitas Negeri Gorontalo yang mengembangkan gelatin dari sisik ikan kakaktua (Scarus sp.) dengan memanfaatkan cuka aren (Arenga pinnata) sebagai bahan ekstraksi alami.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Rahim Husain, Sriwulan R. Masambe, Lukman Mile, dan Rita Marsuci Harmain dari Universitas Negeri Gorontalo. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam Food Chemistry Advances pada 2025 dengan judul “Evaluating the impact of Palm vinegar (Arenga pinnata) concentration on the chemical and physical characteristics of Parrotfish (Scarus sp.) scale gelatin”.
Gelatin merupakan bahan yang banyak digunakan dalam industri pangan karena memiliki kemampuan membentuk gel, sekaligus dapat dimanfaatkan dalam berbagai produk lainnya. Selama ini, sebagian besar gelatin komersial berasal dari sumber mamalia. Pengembangan gelatin berbahan dasar ikan menjadi salah satu alternatif yang menarik karena dapat memanfaatkan limbah perikanan sekaligus membuka sumber gelatin non-mamalia.
Dalam penelitian ini, sisik ikan kakaktua diperoleh dari limbah rumah tangga dan restoran di Desa Deme 2, Kecamatan Sumalata Timur, Kabupaten Gorontalo Utara. Sementara itu, cuka aren yang digunakan berasal dari Desa Hulawa, Kecamatan Sumalata Timur. Sisik ikan terlebih dahulu direndam dalam cuka aren selama tujuh hari hingga melunak, kemudian diekstraksi menggunakan air panas pada suhu 80°C selama enam jam. Ekstrak yang diperoleh selanjutnya disaring, dikeringkan, dan diolah menjadi bubuk gelatin.
Peneliti menguji tiga perbandingan volume cuka aren terhadap berat sisik, yaitu 3:1, 5:1, dan 7:1. Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan rasio tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sejumlah karakteristik gelatin yang diuji.
Pada karakteristik fisik, suhu pembentukan gel berada pada kisaran sekitar 11–12°C, sedangkan titik leleh berkisar 26,6–27,1°C. Hasil pengujian juga menunjukkan kadar air gelatin berada pada kisaran 7,11–7,29 persen. Nilai tersebut masih berada di bawah batas maksimum kadar air yang dicantumkan dalam beberapa standar yang dibahas dalam penelitian.Sementara itu, kadar abu berada pada kisaran 8,79–9,26 persen dan menjadi salah satu aspek yang masih perlu diperbaiki. Nilai tersebut masih lebih tinggi dibandingkan batas yang dirujuk dalam standar SNI. Peneliti mengaitkan kondisi ini dengan kemungkinan masih adanya mineral atau kalsium yang tersisa pada sisik setelah proses ekstraksi. Karena itu, tahap demineralisasi dan pemurnian masih perlu dioptimalkan pada penelitian berikutnya.
Nilai pH gelatin berada pada kisaran 4,25–4,4. Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan cuka aren memiliki potensi sebagai media ekstraksi alami untuk menghasilkan gelatin dari sisik ikan kakaktua. Dari tiga perlakuan yang diuji, rasio 7:1 dipandang paling menguntungkan berdasarkan kecenderungan suhu gel dan titik leleh yang sedikit lebih tinggi serta kadar abu yang lebih rendah, meskipun perbedaannya secara statistik tidak signifikan.
Temuan ini membuka peluang pemanfaatan limbah sisik ikan menjadi bahan yang memiliki nilai guna lebih tinggi. Di sisi lain, penggunaan cuka aren sebagai bahan alami dalam proses ekstraksi memperlihatkan potensi pengembangan pengolahan hasil perikanan yang lebih berkelanjutan.
Penelitian selanjutnya masih diperlukan untuk mengoptimalkan konsentrasi cuka, lama perendaman, proses penghilangan mineral, serta karakteristik fungsional gelatin agar dapat dikembangkan lebih jauh untuk berbagai kebutuhan industri.
Sumber: link jurnal
kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026