Riset UNG Ungkap Strategi Penguatan Peternakan Sapi Gorontalo untuk Mendukung Pasokan IKN

Oleh: Berty H. Meluko . 9 Oktober 2026 . 14:19:46

Provinsi Gorontalo memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu daerah pemasok sapi potong guna mendukung kebutuhan pangan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan penguatan produksi, infrastruktur, pembiayaan, dan sistem distribusi agar rantai pasok ternak dapat berjalan lebih efisien.

Hal ini menjadi salah satu temuan penelitian yang dilakukan oleh Fahrul Ilham, Sahmin Noholo, Haris Singgili, dan Fahrudin Zain Olilingo dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian ini berjudul “Optimization Strategy for the Beef Cattle Commodity Market Chain in Gorontalo Province to Meet the Logistical Needs of the Nusantara Capital City (IKN), Indonesia".

Penelitian ini mengkaji strategi optimalisasi rantai pemasaran komoditas sapi potong di Gorontalo agar lebih siap menghadapi peluang pasar di IKN. Kajian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskriptif yang melibatkan 26 responden dari berbagai unsur dalam rantai pasok sapi potong, mulai dari peternak, pedagang ternak, pengecer daging, hingga pemangku kebijakan. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, observasi, dan wawancara mendalam. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan sektor peternakan sapi potong.

Salah satu aspek yang dikaji adalah kondisi populasi ternak dan ketersediaan daging sapi di Gorontalo. Berdasarkan data yang digunakan dalam penelitian, populasi sapi potong di provinsi ini mencapai 267.728 ekor pada 2023, meningkat dibandingkan dengan 230.435 ekor pada 2018. Perkembangan tersebut menunjukkan adanya potensi sumber daya ternak yang dapat menjadi modal bagi pengembangan sektor peternakan di daerah.

Dari sisi ketersediaan daging, penelitian mencatat bahwa pada 2023 ketersediaan daging sapi di Gorontalo mencapai 3.653,1 ton, sedangkan kebutuhan konsumsinya sebesar 2.598,7 ton. Terdapat selisih sekitar 1.054,4 ton antara ketersediaan dan kebutuhan konsumsi tersebut. Menurut kajian ini, selisih itu dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengelolaan cadangan daging di daerah, dengan sebagian berpotensi dialokasikan untuk mendukung pasokan ke IKN.

Meski demikian, selisih ketersediaan dan konsumsi tidak serta-merta berarti seluruh volume tersebut dapat langsung dikirim ke IKN. Pemenuhan kebutuhan pasar antardaerah tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat Gorontalo, kesinambungan produksi, kesehatan ternak, serta kesiapan sarana distribusi. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi bagian penting agar potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah kendala dalam distribusi sapi dari Gorontalo menuju Kalimantan Timur. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan infrastruktur pendukung, terutama fasilitas laboratorium untuk pemeriksaan kesehatan ternak serta sarana transportasi laut yang memadai. Ketersediaan fasilitas pemeriksaan kesehatan penting untuk mempercepat identifikasi penyakit hewan dan mendukung pemenuhan persyaratan pengiriman ternak antarpulau.

Selain infrastruktur, keterbatasan modal dan kebutuhan peningkatan produktivitas peternakan juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Tanpa dukungan pembiayaan, pendampingan teknis, dan akses terhadap sarana produksi, peningkatan populasi ternak belum tentu diikuti oleh peningkatan produktivitas dan efisiensi distribusi yang dibutuhkan untuk memasuki pasar yang lebih luas.

Berdasarkan analisis SWOT, para peneliti merekomendasikan strategi turnaround, yaitu strategi untuk mengatasi kelemahan internal dengan memanfaatkan peluang yang tersedia. Dalam konteks peternakan sapi potong di Gorontalo, pendekatan ini menekankan perlunya pembenahan sistem produksi dan pemasaran agar potensi daerah dapat berkembang menjadi rantai pasok yang lebih kompetitif.

Penguatan pembiayaan dan investasi menjadi salah satu langkah yang disoroti. Dukungan dari lembaga keuangan, perbankan, dan pihak terkait dapat membantu memenuhi kebutuhan modal untuk meningkatkan kapasitas produksi serta memperbaiki sarana pendukung distribusi. Di saat yang sama, pembangunan infrastruktur, termasuk fasilitas pemeriksaan kesehatan hewan dan peningkatan kapasitas transportasi laut, dinilai penting untuk memperlancar pengiriman ternak menuju pasar di Kalimantan Timur.

Peneliti juga menekankan pentingnya penyuluhan teknologi dan pelatihan bagi peternak untuk meningkatkan produktivitas usaha. Upaya ini perlu disertai kemitraan dengan pemasok pakan dan bibit ternak agar ketersediaan sarana produksi lebih terjamin. Kerja sama dengan pedagang dan distributor di Kalimantan Timur juga berpotensi memperkuat hubungan pasar sekaligus membantu memperbaiki efisiensi penyaluran ternak.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan peternakan sapi potong tidak hanya bergantung pada jumlah ternak yang dimiliki suatu daerah. Kesiapan rantai pasok juga ditentukan oleh keterhubungan antara peternak, penyedia sarana produksi, lembaga pembiayaan, fasilitas kesehatan hewan, transportasi, serta jaringan pemasaran. Dengan dukungan berbagai unsur tersebut, potensi peternakan daerah dapat dikelola secara lebih terarah.

Bagi Gorontalo, peluang untuk mendukung kebutuhan pasar IKN perlu dipandang sebagai proses pengembangan jangka panjang. Penguatan produksi lokal, perlindungan kebutuhan konsumsi masyarakat, jaminan kesehatan ternak, dan perbaikan distribusi perlu berjalan beriringan. Dengan demikian, peluang pasar yang terbuka dapat dimanfaatkan tanpa mengabaikan keberlanjutan usaha peternak dan kebutuhan pangan daerah.

Penelitian ini memberikan gambaran mengenai langkah-langkah yang dapat dipertimbangkan untuk memperkuat daya saing sapi potong Gorontalo. Rekomendasi yang dihasilkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan dan program pengembangan peternakan, terutama untuk membangun rantai pasok yang lebih efisien dan siap menjangkau pasar antardaerah.

 

Sumber: link jurnal

Agenda

23 September 2026

Diskusi Tindak lanjut Kerjasama

kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG

15 - 17 September 2026

Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026

10 September 2026

Monev Internal Penelitian Pendanaan Direktorat jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.

10 September 2026

Penyamaan Persepsi Monev Inernal Program Penelitian Tahun 2026

Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026