
Kulit rambutan yang selama ini kerap dibuang sebagai limbah buah ternyata menyimpan potensi untuk dikembangkan sebagai sumber senyawa bioaktif. Sebuah penelitian yang melibatkan Djuna Lamondo dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengkaji respons asam elagat dalam ekstrak kulit rambutan terhadap profil lemak darah dan kondisi jaringan hati pada tikus dengan model obesitas.
Penelitian berjudul “Analysis of Ellagic Acid Response in Nephelium lappaceum Peel Extract in the Obesity Rat Model” tersebut dipublikasikan dalam jurnal Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education, Volume 18 Nomor 1 Tahun 2026. Studi ini menyoroti peluang pemanfaatan kulit rambutan sebagai bahan alami yang berpotensi mendukung pengembangan pendekatan penanganan gangguan metabolisme akibat obesitas.
Rambutan (Nephelium lappaceum L.) merupakan buah tropis yang banyak ditemukan di Indonesia. Selain daging buahnya, bagian kulit juga mengandung sejumlah senyawa polifenol, termasuk asam elagat, geraniin, dan korilagin. Senyawa-senyawa tersebut menjadi perhatian dalam penelitian karena memiliki aktivitas antioksidan dan berpotensi berperan dalam proses metabolisme lemak.
Obesitas sendiri tidak hanya berkaitan dengan penumpukan lemak tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi metabolisme dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Salah satu organ yang dapat terdampak adalah hati, terutama ketika terjadi penumpukan lemak dan tekanan oksidatif yang mengganggu fungsi sel.
Dalam penelitian ini, tim menggunakan 25 tikus jantan galur Sprague-Dawley yang dibagi ke dalam lima kelompok. Kelompok tersebut meliputi kontrol normal, kelompok dengan model obesitas, kelompok obesitas yang diberi asam elagat, serta kelompok obesitas yang diberi ekstrak kulit rambutan dengan dosis 15 dan 30 miligram per kilogram berat badan.
Perlakuan diberikan secara oral selama 30 hari setelah pembentukan model obesitas. Peneliti kemudian mengevaluasi sejumlah parameter, antara lain lemak viseral, profil lipid darah yang meliputi kolesterol, LDL, HDL, dan trigliserida, serta kondisi jaringan hati. Pemeriksaan enzim hati ALT dan AST juga dilakukan sebagai bagian dari penilaian fungsi dan kondisi organ tersebut.
Rancangan ini memungkinkan peneliti membandingkan respons kelompok yang memperoleh perlakuan dengan kelompok kontrol. Meski demikian, hasil pada hewan percobaan belum dapat langsung disamakan dengan efek yang mungkin terjadi pada manusia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kulit rambutan dan asam elagat memberikan respons pada beberapa parameter metabolisme lemak. Salah satu temuan penting terlihat pada kadar trigliserida. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antarkelompok, dengan kadar trigliserida pada kelompok yang menerima ekstrak kulit rambutan dosis 15 mg/kg berat badan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol normal.
Pada parameter lain, seperti lemak viseral, kolesterol total, LDL, dan HDL, penelitian ini tidak menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik antarkelompok. Temuan tersebut menunjukkan bahwa respons terhadap ekstrak kulit rambutan tidak sama pada seluruh indikator metabolisme lemak yang diperiksa.
Peneliti juga menemukan perbedaan pada gambaran histologis atau struktur jaringan hati. Kelompok tikus dengan model obesitas yang tidak memperoleh perlakuan menunjukkan kerusakan jaringan lebih berat dibandingkan kelompok kontrol normal. Sementara itu, kelompok yang menerima ekstrak kulit rambutan memperlihatkan tingkat kerusakan yang lebih rendah, meskipun kondisi jaringan hati belum sepenuhnya kembali seperti kelompok normal.
Hasil tersebut mengindikasikan adanya potensi efek perlindungan terhadap jaringan hati pada tikus model obesitas. Namun, perubahan pada enzim hati ALT dan AST tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antarkelompok. Karena itu, temuan mengenai perlindungan jaringan hati perlu dipahami terutama berdasarkan hasil pemeriksaan histologis, bukan sebagai bukti bahwa seluruh fungsi hati telah pulih.
Penelitian ini juga memberikan perspektif mengenai pemanfaatan limbah pertanian. Kulit rambutan yang umumnya tidak dikonsumsi dapat menjadi bahan baku untuk diteliti lebih lanjut sebagai sumber senyawa bioaktif. Apabila potensinya dapat dikembangkan melalui penelitian lanjutan, pemanfaatan tersebut berpeluang menambah nilai guna hasil pertanian sekaligus mengurangi limbah organik.
Meskipun demikian, pengembangan ekstrak kulit rambutan sebagai bahan pangan fungsional atau produk berbasis herbal masih memerlukan tahapan penelitian yang lebih luas. Peneliti menekankan perlunya kajian lanjutan untuk menentukan dosis dan durasi pemberian yang optimal, memperjelas mekanisme kerja senyawa aktif, serta menilai potensi penerapannya pada penelitian praklinis dan klinis.
Dengan demikian, hasil studi ini belum dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa kulit rambutan atau ekstraknya terbukti mengatasi obesitas pada manusia. Penelitian ini lebih tepat dipandang sebagai salah satu langkah awal untuk memahami potensi senyawa alami dalam ekstrak kulit rambutan terhadap metabolisme lemak dan kondisi jaringan hati.
Oleh: Lisdiana, Djuna Lamondo, Annisaa Basar, Nugrahaningsih WH, Mirtaati Naimah, Yofi Ersyada Damayanti, Amalia Wilda Aulia, Fitria Salsabila
Sumber: link jurnal
kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026