Penelitian Ungkap Perubahan Tutupan Lahan dan Dinamika Banjir di DAS Konaweha

Oleh: Berty H. Meluko . 19 Agustus 2026 . 13:40:10

Perubahan tutupan lahan dan kejadian banjir merupakan dua persoalan lingkungan yang saling berkaitan. Kondisi tersebut terlihat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Konaweha, Sulawesi Tenggara, yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami dinamika tutupan lahan sekaligus perubahan luas wilayah terdampak banjir. Untuk memahami perubahan tersebut secara lebih menyeluruh, penelitian dilakukan dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan data citra satelit dalam rentang waktu 2015–2024.

Penelitian ini dilakukan oleh Septianto Aldiansyah, Laode Muhamad Irsan, dan Nur Hasanah. Laode Muhamad Irsan merupakan peneliti dari Program Studi Agroteknologi, Universitas Negeri Gorontalo.

DAS Konaweha menjadi wilayah penting untuk dikaji karena merupakan DAS terbesar di Provinsi Sulawesi Tenggara dengan luas sekitar 697.947 hektare. Wilayahnya mencakup Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Kolaka, dan Kota Kendari. Penelitian mencatat bahwa kawasan ini memiliki sejarah banjir yang cukup panjang dan kejadian banjir dapat berdampak pada permukiman maupun lahan pertanian.

Untuk melihat perubahan tersebut, peneliti menggabungkan data radar Sentinel-1 dan citra optik Landsat-8 yang diolah melalui platform Google Earth Engine. Data Sentinel-1 digunakan untuk memetakan genangan banjir, sedangkan Landsat-8 digunakan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan dan tutupan lahan. Analisis genangan dilakukan menggunakan metode Otsu thresholding, sementara perubahan tutupan lahan dianalisis dengan algoritma Random Forest.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas genangan banjir mengalami perubahan yang cukup besar. Pada 2015, wilayah yang teridentifikasi mengalami genangan mencapai 6.709,24 hektare. Luasan tersebut meningkat tajam menjadi 16.295,35 hektare pada 2020, sebelum menurun menjadi 9.243,28 hektare pada 2024. Sebagian besar genangan ditemukan di wilayah bagian hilir DAS Konaweha.

Pada saat yang sama, penelitian menemukan perubahan signifikan pada tutupan lahan selama periode 2015–2024. Luas hutan primer berkurang sekitar 7.836,50 hektare, lahan pertanian berkurang 32.515,43 hektare, dan lahan basah juga mengalami penurunan. Sebaliknya, hutan sekunder bertambah sekitar 14.120,16 hektare. Pada 2024, kawasan hutan masih mendominasi DAS Konaweha dengan proporsi sekitar 79,99 persen yang terdiri atas hutan primer dan hutan sekunder. Namun, luas lahan terbangun, lahan terbuka, badan air, semak, serta perkebunan kelapa sawit juga mengalami peningkatan.

Menariknya, lahan pertanian menjadi jenis tutupan lahan yang paling banyak terdampak genangan. Pada 2015, 2020, dan 2024, sekitar 64 persen, 64 persen, dan 61 persen dari area genangan masing-masing berada pada lahan pertanian. Sementara itu, proporsi genangan pada kawasan terbangun meningkat dari 0,93 persen pada 2015 menjadi 2,98 persen pada 2024. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan dinamika banjir tidak hanya berkaitan dengan kondisi sungai, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap penggunaan lahan dan aktivitas masyarakat.

Penelitian juga menunjukkan adanya keterkaitan antara perubahan penggunaan dan tutupan lahan dengan dinamika banjir. Berkurangnya hutan primer dan meningkatnya kawasan terbangun berpotensi memengaruhi kemampuan lingkungan dalam menyerap dan menahan air. Hutan primer memiliki struktur vegetasi, lapisan serasah, dan sistem perakaran yang berperan dalam meningkatkan infiltrasi serta mengendalikan aliran permukaan. Karena itu, perubahan kualitas tutupan hutan perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan DAS.

Meski demikian, penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa perubahan tutupan lahan secara langsung menjadi satu-satunya penyebab banjir. Peneliti menegaskan bahwa hubungan tersebut masih bersifat indikatif karena penelitian tidak menggunakan pemodelan hidrologi atau pemodelan curah hujan untuk mengukur hubungan sebab-akibat secara langsung. Dinamika banjir juga dipengaruhi oleh faktor hidrometeorologi, termasuk intensitas dan durasi hujan, kondisi topografi, serta karakteristik sistem drainase.

Dari sisi teknologi, penelitian ini memperlihatkan potensi penginderaan jauh untuk membantu pemantauan banjir dan perubahan lingkungan dalam skala wilayah yang luas. Penggunaan Sentinel-1 memungkinkan pemantauan genangan meskipun kondisi tutupan awan menjadi kendala, sementara integrasi dengan data Landsat-8 memberikan gambaran perubahan tutupan lahan dalam jangka panjang. Hasil validasi menunjukkan akurasi pemetaan tutupan lahan dan genangan yang relatif tinggi.

Temuan tersebut dapat menjadi informasi pendukung dalam pengelolaan DAS, mitigasi bencana, dan perencanaan tata ruang. Pemetaan wilayah rawan genangan yang dikombinasikan dengan informasi perubahan tutupan lahan dapat membantu mengidentifikasi kawasan yang perlu mendapat perhatian lebih, termasuk perlindungan vegetasi, pengelolaan lahan pertanian, pengendalian kawasan terbangun, serta rehabilitasi vegetasi di sepanjang daerah aliran sungai.

Penelitian ini pada akhirnya menegaskan pentingnya melihat persoalan banjir tidak hanya sebagai fenomena air yang meluap, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika ekosistem dan perubahan bentang alam. Pemanfaatan data satelit secara multitemporal dapat memberikan gambaran berbasis data mengenai bagaimana suatu wilayah berubah dari waktu ke waktu, sekaligus menjadi dasar bagi pengelolaan lingkungan dan pengurangan risiko bencana yang lebih terarah.

 

Sumber: https://reference-global.com/article/10.2478/jlecol-2026-0021

Agenda

23 September 2026

Diskusi Tindak lanjut Kerjasama

kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG

15 - 17 September 2026

Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026

10 September 2026

Monev Internal Penelitian Pendanaan Direktorat jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.

10 September 2026

Penyamaan Persepsi Monev Inernal Program Penelitian Tahun 2026

Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026