Pemetaan Spasial Kasus Stunting pada Bayi di Kota Samarinda Menggunakan Model DBSCAN

Oleh: Berty H. Meluko . 2 September 2026 . 10:00:20

Pemanfaatan data kesehatan tidak hanya dapat menunjukkan jumlah kasus stunting, tetapi juga membantu melihat bagaimana kasus tersebut tersebar di suatu wilayah. Pendekatan ini menjadi perhatian dalam penelitian yang melibatkan dosen Universitas Negeri Gorontalo, Isran K. Hasan, yang menganalisis pola spasial kasus stunting pada bayi di sejumlah kelurahan di Kota Samarinda.

Penelitian berjudul “Spatial Clustering of Urban Villages on Stunting Babies Data in Samarinda Using the DBSCAN Model” tersebut dilakukan oleh Nanda Arista Rizki, Asyril, Isran K. Hasan, Maulidah, Carolina Fadia Dewi, Dhira Syahlafandi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan Density-Based Spatial Clustering of Applications with Noise (DBSCAN) untuk mengelompokkan kelurahan berdasarkan data jumlah bayi stunting, berat badan, dan tinggi badan. Data yang digunakan berasal dari catatan Posyandu di seluruh kelurahan Kota Samarinda yang diperoleh melalui Dinas Kesehatan Kota Samarinda.

Analisis difokuskan pada bayi dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dari 15.594 data bayi yang tercatat, sebanyak 9.720 memenuhi kriteria 1.000 HPK. Setelah proses penghapusan data duplikat, penelitian menggunakan 4.880 sampel untuk dianalisis.

DBSCAN digunakan karena metode ini mampu mengelompokkan data berdasarkan kepadatan sekaligus mengenali wilayah yang memiliki karakteristik berbeda dari kelompok utama. Dengan demikian, wilayah yang tidak masuk dalam kelompok tertentu dapat menjadi perhatian tersendiri dalam analisis.

Dalam penelitian tersebut, parameter model ditentukan melalui pencarian kombinasi nilai epsilon (ε) dan MinPts dengan mempertimbangkan silhouette score. Hasil terbaik diperoleh pada ε = 0,95 dan MinPts = 3, dengan nilai silhouette score sebesar 0,432.

Model tersebut menghasilkan dua kelompok utama, sementara empat kelurahan berada di luar kelompok, yakni Budaya Pampang, Harapan Baru, Loa Bakung, dan Sambutan. Keempat wilayah tersebut menunjukkan karakteristik yang berbeda dibandingkan kelompok lainnya.Hasil analisis menunjukkan Harapan Baru memiliki jumlah bayi stunting paling tinggi, yakni 278 kasus. Berikutnya adalah Sambutan dengan 263 kasus dan Loa Bakung dengan 218 kasus. Ketiga wilayah tersebut menjadi prioritas utama berdasarkan hasil pengelompokan penelitian.

Namun, penelitian juga menemukan bahwa jumlah kasus tidak selalu menggambarkan keseluruhan persoalan. Budaya Pampang, misalnya, memiliki jumlah kasus paling rendah, yaitu dua kasus, tetapi rata-rata berat dan tinggi bayi pada wilayah tersebut tercatat rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah dengan jumlah kasus lebih sedikit tetap dapat memiliki kondisi yang memerlukan perhatian.

Melalui pemetaan spasial, penelitian menunjukkan bahwa sejumlah wilayah di pusat Kota Samarinda memiliki jumlah kasus stunting yang lebih tinggi. Peneliti mencatat pola tersebut sejalan dengan karakteristik kawasan perkotaan yang padat, yang dapat menghadapi tantangan terkait akses layanan kesehatan, sanitasi, dan pemenuhan kebutuhan gizi. Meski demikian, penelitian menekankan perlunya kajian lebih lanjut terhadap faktor sosial ekonomi dan kondisi masyarakat untuk memahami faktor yang mendasari pola tersebut.

Hasil penelitian kemudian digunakan untuk menyusun prioritas penanganan berbasis karakteristik wilayah. Kelurahan yang menjadi outlier dengan tingkat urgensi tinggi direkomendasikan mendapat penelusuran lebih lanjut mengenai akar persoalan, dukungan tim gizi, serta program suplementasi yang disertai pemantauan. Sementara itu, wilayah dalam kelompok lainnya dapat ditangani melalui program kesehatan masyarakat yang terkoordinasi dan pemantauan berkelanjutan.

Keterlibatan dosen UNG dalam penelitian ini memperlihatkan kontribusi bidang statistika dalam mengolah data kesehatan menjadi informasi yang dapat digunakan untuk membaca karakteristik wilayah. Pendekatan tersebut membuka ruang bagi pemanfaatan data secara lebih terarah dalam mendukung kajian dan perencanaan intervensi kesehatan masyarakat.

 

Sumber: Link jurnal

Agenda

23 September 2026

Diskusi Tindak lanjut Kerjasama

kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG

15 - 17 September 2026

Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026

10 September 2026

Monev Internal Penelitian Pendanaan Direktorat jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.

10 September 2026

Penyamaan Persepsi Monev Inernal Program Penelitian Tahun 2026

Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026