
Upaya meningkatkan ketepatan sistem peringatan dini banjir tidak hanya bergantung pada kemampuan memantau tinggi muka air sungai. Pola dan posisi hujan yang terjadi di suatu wilayah juga menjadi faktor yang perlu dipahami untuk memperkirakan seberapa cepat aliran air mencapai titik pemantauan.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam penelitian yang melibatkan dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Aristi Ayuningsi Ode Asri, bersama peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Penelitian tersebut mengkaji pengaruh posisi pusat hujan (rainfall centroid) terhadap lead time atau waktu yang tersedia antara terjadinya hujan dan datangnya aliran banjir di wilayah hulu Sungai Citarum, Jawa Barat.
Studi berjudul “The Effect of Rainfall Centroid Position on Lead Time in the Upstream Citarum River” ini mengambil lokasi di wilayah Majalaya dan Sapan yang termasuk kawasan hulu Sungai Citarum. Kedua wilayah tersebut diketahui memiliki kerentanan terhadap banjir sehingga pengembangan sistem peringatan dini menjadi penting untuk memberikan waktu bagi masyarakat dan pihak terkait dalam melakukan tindakan mitigasi maupun evakuasi.
Dalam penelitian tersebut, tim menguji hipotesis bahwa semakin jauh posisi pusat hujan dari lokasi pengukuran, semakin panjang pula waktu yang tersedia sebelum aliran banjir tiba. Untuk mengujinya, peneliti memanfaatkan sejumlah sumber data, antara lain data curah hujan dari satelit Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP), data pengamatan curah hujan, tinggi muka air, debit sungai, serta data geografis wilayah.
Pusat hujan dihitung berdasarkan distribusi curah hujan secara spasial. Setiap titik atau piksel pada data satelit memiliki nilai curah hujan tertentu yang kemudian digunakan untuk menentukan posisi pusat hujan. Dengan pendekatan tersebut, wilayah dengan curah hujan lebih tinggi memberikan bobot lebih besar dalam menentukan posisi pusat hujan. Analisis data dilakukan menggunakan R Studio.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang menarik. Hubungan antara jarak pusat hujan dan lead time ternyata tidak dapat dibuktikan secara konsisten. Titik pusat hujan memang menunjukkan pola persebaran tertentu, tetapi jaraknya dari stasiun pengukuran tidak memperlihatkan hubungan langsung dengan panjang waktu peringatan banjir.
Analisis temporal juga memperlihatkan bahwa pola curah hujan berubah pada setiap kejadian dan lead time. Pada waktu tertentu, distribusi hujan antara titik yang paling dekat dan paling jauh dari stasiun pengukuran dapat menunjukkan karakter yang berbeda. Namun, pada waktu lainnya distribusi tersebut relatif seragam. Kondisi ini menunjukkan bahwa pola hujan memiliki tingkat kerandoman yang tinggi sehingga pengaruh posisi pusat hujan terhadap lead time tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jaraknya.
Temuan tersebut menjadi penting dalam pengembangan sistem peringatan dini banjir. Penelitian ini menunjukkan bahwa posisi pusat hujan saja belum cukup untuk menjelaskan berapa lama waktu yang tersedia sebelum banjir mencapai suatu lokasi. Faktor hidrologis dan karakteristik hujan lainnya perlu dipertimbangkan secara bersamaan.
Peneliti menyebutkan bahwa penelitian lanjutan perlu memasukkan sejumlah faktor, seperti distribusi hujan berdasarkan waktu, intensitas hujan, serta faktor hidrologis wilayah. Pendekatan yang lebih komprehensif diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan antara karakteristik hujan dan lead time dalam sistem peringatan dini banjir.
Bagi kawasan yang memiliki risiko banjir tinggi seperti hulu Sungai Citarum, informasi tersebut dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem peringatan dini yang lebih akurat. Sistem yang mampu memperkirakan waktu datangnya banjir secara lebih baik akan memberikan ruang bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk melakukan tindakan pencegahan lebih cepat.
Penelitian ini sekaligus memperlihatkan bahwa dalam kajian kebencanaan, tidak semua dugaan awal selalu terbukti melalui data. Justru, temuan bahwa posisi pusat hujan tidak menunjukkan pengaruh yang konsisten terhadap lead time membuka ruang bagi penelitian berikutnya untuk menemukan kombinasi faktor yang lebih tepat dalam memprediksi datangnya banjir.
Sumber: Link jurnal
kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026