Kombinasi Konseling dan Aplikasi Digital Tingkatkan Kebersihan Gigi Remaja di Gorontalo

Oleh: Berty H. Meluko . 7 September 2026 . 13:19:49

Pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat edukasi kesehatan gigi dan mulut pada remaja. Penelitian yang melibatkan Irwan dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama sejumlah peneliti Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa kombinasi konseling tatap muka dan pendampingan melalui aplikasi berbasis ponsel memberikan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan perilaku menyikat gigi dan kebersihan mulut remaja dibandingkan konseling tatap muka saja.

Penelitian tersebut  berjudul “Effectiveness of Combined Face-to-Face and Mobile-Based Motivational Interviewing on Oral Hygiene Status and Behavior Among Adolescents in Gorontalo, Indonesia: A Quasi-Experimental Study”. Studi ini mengangkat pentingnya pendekatan edukasi yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendorong remaja membangun kebiasaan menjaga kesehatan gigi secara konsisten.

Penelitian dilakukan di sejumlah sekolah menengah atas di Kota Gorontalo pada Januari hingga April 2025. Sebanyak 100 remaja berusia 15–18 tahun dilibatkan dan dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama memperoleh konseling tatap muka yang dipadukan dengan aplikasi berbasis Android, sedangkan kelompok kedua hanya mendapatkan konseling tatap muka.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dikenal sebagai Motivational Interviewing (MI), yakni metode konseling yang membantu seseorang mengenali alasan, membangun motivasi, dan mendorong perubahan perilaku secara bertahap. Dalam konteks kesehatan gigi, pendekatan ini diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran remaja tentang pentingnya kebiasaan menyikat gigi dan menjaga kebersihan mulut.

Pada kelompok yang menggunakan aplikasi, proses konseling diperkuat dengan materi edukasi kesehatan mulut, pengingat menyikat gigi dua kali sehari, pesan motivasi yang dikirim secara berkala, serta fitur pencatatan mandiri untuk memantau kebiasaan. Sementara itu, kedua kelompok sama-sama memperoleh konseling tatap muka secara mingguan selama tiga bulan.

Perkembangan peserta dievaluasi sejak awal penelitian hingga bulan ketiga. Peneliti menilai perubahan pengetahuan, perilaku menyikat gigi, dan status kebersihan mulut. Salah satu instrumen yang digunakan ialah Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S), yaitu indeks untuk menilai tingkat kebersihan mulut. Pada indeks ini, nilai yang lebih rendah menunjukkan kondisi kebersihan mulut yang lebih baik.

Hasil penelitian memperlihatkan peningkatan pada kedua kelompok, tetapi perubahan pada kelompok yang memperoleh konseling dan dukungan aplikasi digital cenderung lebih besar. Skor median pengetahuan kesehatan gigi pada kelompok kombinasi meningkat dari 4 menjadi 8, sedangkan kelompok konseling tatap muka saja meningkat dari 5 menjadi 7.

Perubahan juga terlihat pada perilaku menyikat gigi. Skor median kelompok kombinasi meningkat dari 10 menjadi 15, sementara kelompok konseling tatap muka saja berubah dari 12 menjadi 13. Pada aspek kebersihan mulut, skor median OHI-S kelompok kombinasi turun dari 3,2 menjadi 1,4. Adapun kelompok konseling tatap muka saja mengalami penurunan dari 2,8 menjadi 2,0.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa dukungan digital berpotensi memperkuat proses perubahan perilaku yang dibangun melalui konseling. Pengingat rutin, pesan motivasi, materi edukasi, dan pencatatan mandiri dapat membantu remaja menjaga perhatian terhadap kesehatan gigi dalam aktivitas sehari-hari, tidak hanya ketika mengikuti sesi konseling.

Meski demikian, hasil penelitian perlu dipahami sesuai dengan batasannya. Studi ini menggunakan desain kuasi-eksperimental, bukan pembagian peserta secara acak, sehingga hasilnya belum dapat memastikan bahwa perbedaan yang ditemukan sepenuhnya disebabkan oleh penggunaan aplikasi. Penelitian juga dilakukan pada kelompok remaja di wilayah tertentu dengan periode pengamatan tiga bulan. Karena itu, penelitian lanjutan dengan cakupan lebih luas dan waktu pemantauan lebih panjang diperlukan untuk menilai keberlanjutan perubahan perilaku tersebut.

Bagi upaya promosi kesehatan di kalangan remaja, penelitian ini memberikan gambaran bahwa edukasi tatap muka dapat diperkuat dengan teknologi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta. Pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif dalam merancang program kesehatan gigi yang lebih interaktif dan berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan kebutuhan serta karakteristik kelompok sasaran.

 

Oleh: Deliyana Imelda Katili, Ayub Irmadani Anwar, Ichlas Nanang Afandi, Irfan Sugianto, A. Arsunan Arsin, Indra Fajarwati Ibnu, Nurlindah Hamrun, Irwan

Sumber: link jurnal

Agenda

23 September 2026

Diskusi Tindak lanjut Kerjasama

kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG

15 - 17 September 2026

Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026

10 September 2026

Monev Internal Penelitian Pendanaan Direktorat jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.

10 September 2026

Penyamaan Persepsi Monev Inernal Program Penelitian Tahun 2026

Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026