
Memahami peserta didik tidak cukup hanya dengan melihat nilai dan capaian akademik. Kondisi psikologis, pengalaman pribadi, dan kesejahteraan siswa juga dapat memengaruhi proses belajar di sekolah. Berangkat dari kebutuhan tersebut, dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memperkenalkan pemanfaatan Global Psychotrauma Screen (GPS-T), sebuah instrumen skrining berbasis web yang dapat mendukung pemahaman awal terhadap kondisi psikologis peserta didik.
Pengenalan tersebut dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema “Pemanfaatan Web-Aplikasi Global Psychotrauma Screen untuk Media Evaluasi Pembelajaran dan Student Well-Being” yang diikuti 35 guru dari berbagai mata pelajaran di SMAN 1 Kota Gorontalo, Jumat (18/9/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) dan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNG. Tim pengabdian terdiri atas Dr. Herson Kadir, S.Pd., M.Pd., Puspita Dian Agustin, S.Pd., M.Pd., dan Nur Luthfi Ardhian, S.Pd., M.Pd. Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) UNG yang mendampingi peserta selama proses praktik.
Dalam lingkungan pendidikan, guru memiliki peran penting untuk mengenali kebutuhan belajar siswa yang beragam. Selain menyampaikan materi dan mengevaluasi hasil belajar, guru juga perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi konsentrasi, partisipasi, dan kenyamanan siswa selama mengikuti pembelajaran.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian memperkenalkan GPS-T sebagai salah satu instrumen yang dapat membantu memperoleh informasi awal mengenai indikasi masalah psikologis, termasuk gejala yang berkaitan dengan kecemasan dan pengalaman traumatik. Informasi tersebut berpotensi menjadi bahan pendukung bagi guru dan sekolah dalam memahami kondisi peserta didik secara lebih menyeluruh.
Para peserta tidak hanya menerima penjelasan mengenai aplikasi, tetapi juga mengikuti praktik penggunaannya secara langsung. Dengan pendampingan tim pengabdian dan mahasiswa PPG, guru mempelajari tahapan penggunaan GPS-T serta mendiskusikan kemungkinan pemanfaatannya dalam mendukung asesmen diagnostik pembelajaran.
Kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi guru dari berbagai bidang studi untuk mengenal instrumen tersebut, termasuk mereka yang tidak memiliki latar belakang khusus dalam Bimbingan dan Konseling (BK). Dengan pemahaman yang memadai, guru diharapkan dapat lebih peka terhadap kondisi siswa dan memahami kapan diperlukan koordinasi dengan pihak sekolah atau tenaga profesional.
Berdasarkan evaluasi kegiatan, 80 persen peserta dilaporkan telah menguasai penggunaan aplikasi GPS-T. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar guru peserta telah mampu menggunakan aplikasi setelah mengikuti pelatihan. Selain keterampilan teknis, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai posisi informasi hasil skrining sebagai data pendukung dalam mengenali kebutuhan peserta didik.
Pihak SMAN 1 Kota Gorontalo menyambut positif kegiatan tersebut. Pemanfaatan GPS-T dinilai berpotensi membantu sekolah memperoleh informasi awal mengenai kondisi siswa, termasuk indikasi kecemasan atau pengalaman traumatik yang mungkin memengaruhi proses belajar. Instrumen ini juga membuka wawasan bagi guru untuk memahami peserta didik dari sudut pandang yang lebih luas, tidak hanya berdasarkan hasil akademik.
Meski demikian, hasil skrining GPS-T tidak dapat diperlakukan sebagai diagnosis atau satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan mengenai kondisi siswa. Informasi yang diperoleh perlu ditafsirkan secara hati-hati, dengan memperhatikan konteks peserta didik serta prinsip kerahasiaan data. Apabila ditemukan indikasi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, sekolah perlu menindaklanjutinya sesuai kewenangan dengan melibatkan tenaga profesional yang kompeten.
Aspek tersebut menjadi penting agar penggunaan teknologi dalam pendidikan tetap berorientasi pada kepentingan dan perlindungan peserta didik. Instrumen digital dapat membantu menyediakan informasi awal, tetapi pendampingan dan keputusan terkait kebutuhan siswa tetap memerlukan pertimbangan yang tepat.
Melalui kegiatan pengabdian ini, UNG dan SMAN 1 Kota Gorontalo memperkuat kerja sama dalam menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan sekolah. Pemanfaatan GPS-T diharapkan dapat memperluas perspektif guru dalam merancang pembelajaran yang memperhatikan keragaman kebutuhan siswa, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih sehat dan mendukung student well-being atau kesejahteraan peserta didik.
kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026