Akses Teknologi dan Pendidikan Dinilai Penting untuk Meningkatkan Literasi Digital Petani di Wilayah Pesisir Kabupaten Bone Bolango

Oleh: Berty H. Meluko . 16 Mei 2026 . 15:19:16

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, termasuk di sektor pertanian. Kini, berbagai pengetahuan mengenai teknik budidaya, pengendalian hama, hingga informasi pasar dapat diakses melalui internet dan media sosial. Namun, kemampuan memanfaatkan teknologi tersebut tidak dimiliki secara merata oleh semua petani.

Hal inilah yang menjadi perhatian Nur Silfiah Amin, Zulham Sirajuddin, dan Karlena Arsyad dari Universitas Negeri Gorontalo. Melalui penelitian yang melibatkan 366 petani pesisir di Kabupaten Bone Bolango, mereka mengkaji bagaimana faktor-faktor sosial demografi memengaruhi tingkat literasi digital masyarakat tani di wilayah pesisir.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses terhadap teknologi digital masih menjadi tantangan. Dari seluruh responden yang diteliti, hanya 42,6 persen yang memiliki akses terhadap perangkat teknologi informasi dan komunikasi, seperti smartphone, laptop, atau komputer. Sementara itu, 57,4 persen lainnya belum memiliki akses terhadap perangkat tersebut. Kondisi ini menjadi salah satu hambatan dalam meningkatkan kemampuan petani untuk memanfaatkan informasi digital dalam mendukung kegiatan usahatani.

Penelitian juga mengukur enam aspek literasi digital, mulai dari kemampuan mencari informasi pertanian secara daring, memanfaatkan media sosial untuk berdiskusi, menonton video edukasi pertanian, menerapkan informasi digital dalam praktik budidaya, memahami pengetahuan baru melalui perangkat digital, hingga kemampuan membedakan informasi yang akurat dan yang tidak akurat. Secara umum, tingkat literasi digital petani berada pada kategori sedang, dengan rata-rata capaian sekitar 46,51 persen, menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital telah berkembang tetapi masih memerlukan penguatan.

Melalui analisis statistik, para peneliti menemukan bahwa usia menjadi salah satu faktor yang berpengaruh signifikan terhadap literasi digital. Semakin tinggi usia petani, kecenderungan tingkat literasi digitalnya semakin rendah. Sebaliknya, tingkat pendidikan menunjukkan pengaruh positif yang signifikan, sehingga petani dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengakses dan memanfaatkan teknologi digital.

Selain itu, jumlah tanggungan keluarga juga ditemukan memiliki pengaruh positif meskipun relatif kecil. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kebutuhan ekonomi dapat mendorong petani untuk lebih aktif memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperoleh informasi dan mencari peluang peningkatan kesejahteraan.

Di sisi lain, penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kelamin, luas lahan, dan pengalaman usahatani tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat literasi digital. Dengan kata lain, pengalaman bertani yang panjang atau kepemilikan lahan yang lebih luas tidak secara otomatis membuat petani lebih mampu memanfaatkan teknologi digital dalam aktivitas pertanian.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi digital di sektor pertanian tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia yang menggunakannya. Pendidikan dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi faktor penting dalam meningkatkan literasi digital masyarakat tani.

Berdasarkan hasil penelitian, para peneliti merekomendasikan pengembangan program pelatihan literasi digital yang lebih adaptif, terutama bagi petani berusia lanjut dan mereka yang memiliki tingkat pendidikan formal lebih rendah. Selain itu, pemanfaatan media pembelajaran yang sederhana, seperti video tutorial, aplikasi pesan singkat, dan kegiatan penyuluhan berbasis kebutuhan lokal, dinilai dapat membantu memperluas akses pengetahuan digital di kalangan petani pesisir.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan gambaran bahwa peningkatan literasi digital merupakan bagian penting dari upaya modernisasi sektor pertanian. Dengan dukungan akses teknologi yang lebih merata, pendidikan yang memadai, serta kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, perguruan tinggi, dan komunitas lokal, petani pesisir memiliki peluang lebih besar untuk memanfaatkan teknologi digital guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka di masa depan.

 

Sumber : https://jurnal.unigal.ac.id/mimbaragribisnis/article/view/21572

Agenda

10 September 2026

Monev Internal Penelitian Pendanaan Direktorat jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.

10 September 2026

Penyamaan Persepsi Monev Inernal Program Penelitian Tahun 2026

Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

8 September 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026.

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo

7 September 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Penyamaan Persepsi Reviewer Monev Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026