
Kawasan pesisir Teluk Tomini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan biodiversitas laut yang tinggi di Indonesia. Namun, meningkatnya aktivitas manusia di wilayah pesisir juga membawa tantangan tersendiri terhadap kualitas lingkungan laut. Untuk memahami kondisi ekologis kawasan tersebut, tim peneliti melakukan kajian terhadap keanekaragaman gastropoda intertidal sebagai indikator kesehatan ekosistem pesisir.
Penelitian berjudul “Intertidal Gastropod Diversity in Hard-Bottom Habitats as an Indicator of Habitat Quality along Tomini Bay Coastline, Gorontalo, Indonesia” ini dilakukan oleh Miftahul Khair Kadim, Nuralim Pasisingi, Faizal Kasim, Sandrianto Djunaidi, Suciyono, Yenny Risjani, dan Muhamad Roem, yang dipublikasikan dalam jurnal Biodiversitas tahun 2026.
Penelitian tersebut mengkaji keanekaragaman gastropoda yang hidup pada habitat dasar keras di kawasan intertidal sepanjang pesisir Teluk Tomini, Gorontalo. Gastropoda dipilih karena organisme ini dikenal sensitif terhadap perubahan lingkungan dan sering digunakan sebagai bioindikator untuk menilai kualitas perairan.
Survei dilakukan di lima wilayah pesisir Gorontalo, yakni Kabupaten Pohuwato, Boalemo, Gorontalo, Bone Bolango, dan Kota Gorontalo, dengan total 21 sublokasi pengamatan. Pengambilan sampel dilakukan pada habitat dasar keras seperti batuan pantai, karang mati, hingga struktur buatan di kawasan pesisir.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat keanekaragaman gastropoda yang sangat tinggi di kawasan Teluk Tomini. Tim peneliti berhasil mengidentifikasi 195 spesies dari 33 famili dengan jumlah individu mencapai lebih dari 52 ribu. Famili Muricidae, Conidae, dan Neritidae menjadi kelompok yang paling dominan ditemukan di wilayah penelitian.
Meski demikian, distribusi gastropoda tidak tersebar merata di seluruh kawasan pesisir. Wilayah Bone Bolango, Kota Gorontalo, dan Kabupaten Gorontalo menunjukkan tingkat keanekaragaman dan kestabilan komunitas yang lebih baik dibandingkan beberapa wilayah lain seperti Pohuwato dan Boalemo.
Menurut tim peneliti, kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan seperti tingkat kekeruhan perairan, kandungan nutrien, oksigen terlarut, hingga keberadaan logam berat. Tingginya kekeruhan dan peningkatan nutrien diketahui menjadi faktor utama yang memengaruhi struktur komunitas gastropoda di kawasan pesisir.
Menariknya, beberapa lokasi yang berada di sekitar pelabuhan dan kawasan permukiman masih menunjukkan tingkat keanekaragaman yang cukup baik. Penelitian menjelaskan bahwa sirkulasi arus dan pertukaran massa air di Teluk Tomini membantu menyebarkan material tersuspensi sehingga tidak terakumulasi di satu lokasi tertentu. Selain itu, keberadaan struktur buatan seperti dermaga dan pemecah ombak juga menciptakan mikrohabitat baru yang mendukung kehidupan organisme bentik, termasuk gastropoda.
Sebaliknya, wilayah perairan semi tertutup di beberapa kawasan Pohuwato dan Boalemo menunjukkan tingkat keanekaragaman yang lebih rendah. Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya konsentrasi nitrat dan ortofosfat, tingginya kekeruhan, serta dominasi spesies yang lebih toleran terhadap tekanan lingkungan.
Untuk menilai kualitas habitat, penelitian ini menggunakan pendekatan biologis dan kualitas air secara bersamaan melalui metode AMBI, M-AMBI, serta Pollution Index (PI). Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar lokasi penelitian masih berada pada kategori ekologi yang baik dan belum mengalami gangguan lingkungan yang signifikan. Meski demikian, beberapa sublokasi mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan ekologis ringan akibat peningkatan aktivitas manusia dan bahan pencemar.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa gastropoda memiliki potensi besar sebagai bioindikator dalam pemantauan kesehatan ekosistem pesisir tropis. Perubahan komposisi spesies dan dominasi organisme tertentu dapat menjadi sinyal awal terjadinya degradasi lingkungan akibat sedimentasi, pencemaran, maupun pembangunan di kawasan pesisir.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa keanekaragaman gastropoda dapat menjadi penanda penting dalam membaca kondisi kesehatan ekosistem pesisir. Temuan ini tidak hanya memperkaya data biodiversitas laut di Teluk Tomini, tetapi juga memberikan dasar ilmiah bagi upaya pengelolaan wilayah pesisir yang lebih berkelanjutan. Dengan pemantauan yang tepat, kawasan pesisir Gorontalo memiliki peluang besar untuk tetap menjaga keseimbangan ekologis sekaligus mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.
Sumber: Kadim, M. K., Pasisingi, N., Kasim, F., Djunaidi, S., Suciyono, Risjani, Y., & Roem, M. (2026). Intertidal Gastropod Diversity in Hard-Bottom Habitats as an Indicator of Habitat Quality along Tomini Bay Coastline, Gorontalo, Indonesia. https://smujo.id/biodiv/article/view/24106
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo menggelar workshop bertajuk "Dari Pengukuran ke Publikasi: Analisis Hasil Belajar dengan Model Rasch (Winsteps) dan Penulisan Artikel Scopus Berbantuan Claude AI" pada Rabu (1/7). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Lantai 2 Gedung LPPM UNG ini dilaksanakan secara luring dan daring, dengan peserta mengikuti workshop baik secara langsung maupun melalui Zoom Meeting. Workshop ini menjadi bagian dari komitmen LPPM dalam meningkatkan kapasitas dosen dan peneliti menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi internasional.
Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan akan berlangsung pada tanggal 03 November 2025, bertempat di Ruang Sidang Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Negeri Gorontalo. Seluruh dosen di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo diundang untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.
Kegiatan Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset, Menulis Jurnal, dan Menulis Systematic Literature Review akan dilaksanakan pada tanggal 21-23 Agustus 2025. Tempat : Azlea Convention Center Gorontalo
Coaching Mahasiswa Peserta KKN Profesi Kesehatan Tahun 2025, Tempat : Auditorium UNG, Pukul : 10.00 Wita, Pakaian Mahasiswa : Putih Hitam Jas Almamater