Riset Ungkap Faktor Sosial dan Ekonomi yang Memengaruhi Emisi Karbon di Jawa Barat

Oleh: Berty H. Meluko . 5 Juli 2026 . 15:24:59

Pertumbuhan ekonomi dan perkembangan wilayah membawa berbagai manfaat bagi masyarakat. Namun, peningkatan aktivitas industri, pertambahan penduduk, serta mobilitas yang semakin tinggi juga dapat memberikan tekanan terhadap lingkungan, salah satunya melalui peningkatan emisi karbon dioksida (CO2).

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam penelitian yang melibatkan Mohamad Zubaidi, dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), bersama Robert Kurniawan, Syahrizal Kautsar, Ribut Nurul Tri Wahyuni, Prana Ugiana Gio, Sri Kuswantono Wongsonadi, dan Fitri Andayani. Penelitian berjudul “Assessing economic and social determinants of carbon emissions towards sustainable development in West Java, Indonesia” mengkaji berbagai faktor sosial dan ekonomi yang berkaitan dengan perubahan emisi CO2 di Jawa Barat.

Jawa Barat dipilih sebagai wilayah penelitian karena memiliki aktivitas ekonomi dan jumlah penduduk yang tinggi, dengan sektor industri menjadi salah satu bagian penting dalam struktur ekonominya. Pada saat yang sama, peningkatan aktivitas ekonomi, kebutuhan energi, mobilitas masyarakat, serta perubahan tutupan lahan menjadi sejumlah persoalan yang perlu diperhatikan dalam upaya pembangunan rendah karbon.

Untuk memahami hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan emisi karbon, peneliti menganalisis data dari 27 wilayah di Jawa Barat selama periode 2015–2021. Penelitian memanfaatkan data statistik resmi serta data yang diperoleh melalui teknologi penginderaan jauh. Data emisi CO2 diperoleh dari citra satelit OCO-2, sedangkan kondisi vegetasi dianalisis menggunakan citra Landsat-8.

Data tersebut kemudian dianalisis bersama sejumlah indikator sosial dan ekonomi, antara lain pertumbuhan penduduk, produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita, investasi sektor industri, jumlah kendaraan bermotor pribadi, dan kepadatan vegetasi. Peneliti menggunakan pendekatan STIRPAT untuk melihat bagaimana faktor populasi, kemakmuran ekonomi, dan teknologi berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk, investasi sektor industri, dan jumlah kendaraan bermotor pribadi berpengaruh positif terhadap emisi CO2. Artinya, peningkatan pada ketiga faktor tersebut cenderung diikuti oleh meningkatnya emisi karbon. Secara keseluruhan, variabel yang digunakan dalam penelitian memiliki pengaruh yang signifikan terhadap emisi CO2, dengan model penelitian mampu menjelaskan sekitar 65 persen variasi emisi.

Pertumbuhan penduduk menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian. Bertambahnya jumlah penduduk dapat meningkatkan kebutuhan terhadap barang dan jasa, energi, transportasi, serta berbagai aktivitas rumah tangga. Peningkatan kebutuhan tersebut pada akhirnya dapat mendorong aktivitas produksi dan konsumsi energi yang lebih besar, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan emisi CO2.

Hal serupa terlihat pada investasi sektor industri. Investasi dapat mendorong peningkatan aktivitas produksi dan penggunaan energi. Jika perkembangan industri tidak diiringi dengan penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan dan efisiensi energi, peningkatan aktivitas tersebut dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap lingkungan.

Penggunaan kendaraan bermotor pribadi juga menjadi faktor yang berkaitan dengan peningkatan emisi. Bertambahnya jumlah kendaraan dapat meningkatkan penggunaan bahan bakar dan aktivitas transportasi, yang kemudian berkontribusi terhadap emisi karbon. Karena itu, pengembangan transportasi publik yang berkualitas menjadi salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Di sisi lain, penelitian menemukan temuan yang menarik terkait kepadatan vegetasi. Semakin tinggi kepadatan vegetasi, emisi CO2 cenderung semakin rendah. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan vegetasi dalam membantu menyerap karbon sekaligus menjaga kualitas lingkungan.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa ruang hijau bukan hanya berfungsi sebagai elemen pendukung kualitas kawasan, tetapi juga memiliki peran dalam upaya pengendalian emisi. Karena itu, peningkatan kualitas vegetasi dan pengembangan ruang terbuka hijau menjadi salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam pengelolaan lingkungan.

Penelitian ini juga menemukan adanya kondisi yang sesuai dengan hipotesis Environmental Kuznets Curve (EKC) di Jawa Barat selama 2015–2021. Secara sederhana, konsep tersebut menggambarkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahap tertentu dapat meningkatkan tekanan terhadap lingkungan, tetapi setelah melewati titik tertentu, perkembangan ekonomi dapat berjalan bersamaan dengan perbaikan kualitas lingkungan.

Temuan tersebut memberikan indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu harus berujung pada peningkatan tekanan lingkungan. Struktur ekonomi yang berkembang menuju sektor-sektor dengan nilai ekonomi tinggi dan tingkat polusi yang relatif lebih rendah dapat menjadi salah satu peluang untuk mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Dari sisi kebijakan, penelitian ini menunjukkan sejumlah arah yang dapat dipertimbangkan untuk menekan emisi CO2. Pada sektor industri, pengembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan, peningkatan kegiatan riset dan pengembangan, efisiensi energi, serta penggunaan sumber energi yang lebih bersih menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas produksi.

Sementara itu, pada sektor transportasi, peningkatan kualitas layanan transportasi publik dapat menjadi salah satu upaya untuk mendorong peralihan dari kendaraan pribadi. Pengembangan energi yang lebih bersih dan pengelolaan ruang hijau juga dapat mendukung upaya pengurangan emisi karbon.

Meski memberikan gambaran mengenai berbagai faktor yang berkaitan dengan emisi karbon, penelitian ini masih memiliki keterbatasan. Data emisi yang bersumber dari satelit OCO-2 dalam penelitian terbatas pada periode 2015–2021. Peneliti juga mencatat bahwa sejumlah faktor lain, seperti penggunaan energi dan energi terbarukan, belum dimasukkan dalam model karena keterbatasan data. Penelitian lanjutan dengan periode pengamatan yang lebih panjang, pengukuran emisi secara langsung, serta model yang lebih dinamis diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.

Penelitian yang melibatkan dosen UNG ini memperlihatkan bagaimana data statistik dan teknologi penginderaan jauh dapat digunakan secara bersamaan untuk memahami persoalan lingkungan. Pemanfaatan data satelit OCO-2 dan Landsat-8 memberikan informasi yang melengkapi data konvensional dalam melihat kondisi emisi karbon dan vegetasi di suatu wilayah.

Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa pengendalian emisi karbon tidak dapat dilepaskan dari bagaimana sebuah wilayah mengelola pertumbuhan ekonomi, perkembangan industri, mobilitas masyarakat, pertumbuhan penduduk, dan ruang hijau. Pembangunan berkelanjutan membutuhkan pendekatan yang mampu menjaga aktivitas ekonomi sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan.

Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi emisi karbon, hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan kajian maupun kebijakan yang lebih tepat dalam mendorong pembangunan rendah karbon dan menjaga kualitas lingkungan di masa mendatang.

 

Sumber: https://link.springer.com/article/10.1007/s44246-025-00200-0

Agenda

10 September 2026

Monev Internal Penelitian Pendanaan Direktorat jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.

10 September 2026

Penyamaan Persepsi Monev Inernal Program Penelitian Tahun 2026

Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

8 September 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026.

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo

7 September 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Penyamaan Persepsi Reviewer Monev Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026