Riset UNG Kembangkan Hidrogel Bromelain dari Nanas untuk Mempercepat Penyembuhan Luka Bakar

Oleh: Berty H. Meluko . 14 Juli 2026 . 14:30:35

Nanas selama ini lebih dikenal sebagai buah yang kaya rasa dan mudah ditemukan di berbagai daerah. Namun, di balik tanaman tersebut terdapat enzim bromelain yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan. Potensi ini mendorong peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengembangkan bromelain sebagai bahan aktif dalam sediaan hidrogel untuk membantu mempercepat penyembuhan luka bakar.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Nurain Thomas, Mohamad Aprianto Paneo, Faradila Ratu Cindana Mo’o, Lisa Efriani Puluhulawa, dan Multiani S. Latif dari Program Studi Farmasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas Negeri Gorontalo melalui artikel berjudul Formulation of natural hydrogel from bromelain enzym and alginate-chitosan and the effectiveness test by in vivo in healing burns.

Penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk mengembangkan alternatif sediaan yang dapat mendukung proses penyembuhan luka bakar. Luka bakar tidak hanya menyebabkan kerusakan pada permukaan kulit, tetapi juga dapat memicu proses peradangan yang memengaruhi pemulihan jaringan. Karena itu, pengembangan bahan yang memiliki potensi membantu mengendalikan peradangan menjadi salah satu pendekatan yang menarik untuk diteliti.

Bromelain dipilih karena merupakan enzim yang terdapat pada jaringan tanaman nanas dan dikenal memiliki sejumlah aktivitas biologis, termasuk sifat antiinflamasi dan anti-edema. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan potensi bromelain dalam mendukung proses yang berkaitan dengan penyembuhan luka. Meski demikian, penelitian mengenai pemanfaatan bromelain sebagai bahan aktif dalam hidrogel untuk mempercepat penyembuhan luka bakar masih relatif terbatas, khususnya ketika dikombinasikan dengan alginat dan kitosan.

Dalam penelitian ini, bromelain dikombinasikan dengan alginat dan kitosan untuk membentuk sediaan hidrogel. Kombinasi kedua bahan tersebut dipilih karena dapat menghasilkan lapisan polimer dengan karakteristik yang mendukung pembentukan gel. Interaksi antara alginat dan kitosan juga menghasilkan struktur yang memiliki kekuatan mekanik lebih baik dibandingkan penggunaan salah satu bahan secara terpisah. Selain itu, material alginat-kitosan bersifat biodegradable sehingga menarik untuk dikembangkan sebagai bagian dari sistem penghantaran bahan aktif.

Sebelum menguji efektivitasnya, peneliti terlebih dahulu mengoptimalkan komposisi alginat dan kitosan. Tiga variasi formula diuji untuk memperoleh basis hidrogel dengan karakteristik fisik yang sesuai. Dari proses tersebut, formula dengan konsentrasi alginat 2 persen dan kitosan 2,5 persen dipilih sebagai basis untuk formulasi hidrogel bromelain.

Selanjutnya, bromelain ditambahkan dalam tiga konsentrasi berbeda, yaitu 0,1 persen, 0,5 persen, dan 1 persen. Masing-masing formula kemudian diuji untuk melihat efektivitasnya dalam mempercepat penyembuhan luka bakar derajat II.

Pengujian dilakukan secara in vivo menggunakan mencit jantan (Mus musculus). Hewan uji dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu kelompok yang memperoleh hidrogel bromelain dengan konsentrasi 0,1 persen, 0,5 persen, dan 1 persen. Penelitian juga menggunakan kelompok kontrol positif berupa Bioplacenton® gel serta kelompok kontrol negatif berupa basis gel alginat-kitosan tanpa bahan aktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi bromelain memberikan pengaruh terhadap kecepatan penyembuhan luka. Pengamatan pada hari ke-8, ke-12, dan ke-16 menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik dengan nilai p kurang dari 0,05. Dari seluruh formulasi yang diuji, hidrogel dengan kandungan bromelain 1 persen atau formula F3 menunjukkan proses penyembuhan paling cepat.

Hasil tersebut menjadi temuan penting dalam penelitian karena efektivitas formula F3 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol positif yang menggunakan Bioplacenton®. Dengan kata lain, dalam model penelitian yang digunakan, hidrogel bromelain 1 persen menunjukkan kemampuan penyembuhan luka yang sebanding secara statistik dengan kontrol positif tersebut.

Potensi tersebut dapat dikaitkan dengan aktivitas bromelain dalam proses peradangan. Berdasarkan pembahasan penelitian, bromelain dapat memengaruhi sejumlah proses yang berkaitan dengan respons inflamasi, termasuk pelepasan protease dan sitokin proinflamasi. Bromelain juga dikaitkan dengan percepatan re-epitelisasi, degradasi jaringan nekrotik, serta pengurangan proses oksidatif pada jaringan yang mengalami luka.

Temuan ini sekaligus memperlihatkan peluang pemanfaatan sumber daya hayati yang relatif mudah ditemukan sebagai bahan dalam pengembangan teknologi farmasi. Nanas yang selama ini banyak dimanfaatkan sebagai komoditas pangan memiliki kandungan bromelain yang dapat dikaji lebih lanjut untuk berbagai kebutuhan pengembangan produk kesehatan. Dalam konteks penelitian ini, bromelain dikembangkan bukan sebagai bahan tunggal, melainkan sebagai bahan aktif yang dihantarkan melalui sistem hidrogel berbasis alginat-kitosan.

Meski memberikan hasil yang menjanjikan, penelitian ini belum berarti bahwa hidrogel bromelain tersebut telah siap digunakan sebagai terapi pada manusia. Hasil yang diperoleh masih berasal dari pengujian in vivo pada mencit, sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi keamanan, efektivitas, stabilitas, serta aspek lain sebelum dapat dikembangkan menuju penggunaan klinis.

Penelitian para dosen UNG ini menunjukkan bagaimana pendekatan teknologi farmasi dapat mengubah potensi bahan alam menjadi sebuah inovasi yang lebih terarah. Melalui kombinasi bromelain, alginat, dan kitosan, penelitian tersebut menghasilkan formulasi hidrogel yang menunjukkan aktivitas dalam mempercepat penyembuhan luka bakar derajat II pada model hewan.

Formula dengan kandungan bromelain 1 persen menjadi formulasi yang memberikan hasil terbaik dalam penelitian. Temuan tersebut membuka ruang bagi penelitian lanjutan mengenai pemanfaatan bromelain sebagai bahan aktif dalam sediaan hidrogel, sekaligus memperkuat peluang pengembangan bahan alam lokal dan mudah diperoleh menjadi bagian dari inovasi di bidang farmasi dan kesehatan.

 

Sumber: https://jmpcr.samipubco.com/article_206269_2770083917432dc8af1a7c12857f5d86.pdf

Agenda

10 September 2026

Monev Internal Penelitian Pendanaan Direktorat jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.

10 September 2026

Penyamaan Persepsi Monev Inernal Program Penelitian Tahun 2026

Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

8 September 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026.

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo

7 September 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Penyamaan Persepsi Reviewer Monev Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026