
Upaya pencegahan HIV/AIDS pada remaja membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang berkaitan dengan perilaku berisiko. Sebuah penelitian yang mengkaji perilaku remaja di Gorontalo mengungkap bahwa pembentukan perilaku berisiko HIV/AIDS berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari pengetahuan, budaya, media, ketaatan beragama, hingga kondisi sosial dan ekonomi.
Temuan tersebut disampaikan dalam penelitian kolaboratif berjudul Behavioral Model of the Risk of HIV/AIDS in Gorontalo Transmission Adolescents. Penelitian ini ditulis oleh Irwan, Ayub Irmadhani Anwar, Deliyana I Katili, dan Yasir Mokodompis. Irwan dan Yasir Mokodompis merupakan penelti dan dosen Universitas Negeri Gorontalo, sementara dua peneliti lainnya berasal dari Universitas Hasanuddin.
Penelitian ini berangkat dari kondisi HIV/AIDS di Gorontalo yang masih menjadi perhatian. Data yang dikutip dalam penelitian mencatat terdapat 198 kasus HIV/AIDS yang dilaporkan di Provinsi Gorontalo pada 2023. Sebanyak 87 persen kasus tersebut berada pada kelompok usia produktif 25–35 tahun. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan edukasi sejak masa remaja sebagai bagian dari strategi kesehatan masyarakat jangka panjang.
Untuk memahami faktor yang berkaitan dengan perilaku berisiko, penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional dengan melibatkan 200 responden remaja perempuan berusia 17 tahun di Kota Gorontalo. Analisis dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) melalui pendekatan analisis jalur dengan bantuan perangkat lunak AMOS 8.50. Sejumlah faktor dianalisis dalam model, antara lain budaya, pengetahuan, paparan media, ketaatan beragama, kondisi ekonomi, serta faktor keluarga dan keyakinan yang berkaitan dengan pembentukan niat dan perilaku.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku berisiko HIV/AIDS pada remaja berkaitan dengan proses pembentukan keyakinan dan niat yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan lingkungan. Perilaku yang menjadi perhatian dalam penelitian mencakup aktivitas seksual pranikah, penggunaan narkotika suntik, serta tindakan seperti tato atau tindik tubuh.
Salah satu temuan penting terlihat dalam model perilaku remaja perempuan. Analisis menunjukkan bahwa behavioral beliefs, normative beliefs, dan control beliefs berpengaruh terhadap niat. Selanjutnya, niat ditemukan berpengaruh terhadap perilaku berisiko. Ketaatan beragama juga dilaporkan memiliki pengaruh signifikan terhadap niat pada model remaja perempuan dengan nilai p = 0,001.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa upaya pencegahan HIV/AIDS pada remaja perempuan perlu memperhatikan berbagai faktor yang membentuk niat sebelum seseorang mengambil keputusan. Pengetahuan mengenai HIV/AIDS menjadi salah satu aspek penting, tetapi cara remaja memandang suatu perilaku, norma yang diyakini, serta keyakinan terhadap kemampuan mengendalikan diri juga menjadi bagian dari proses pembentukan perilaku.
Peran media turut menjadi perhatian dalam model remaja perempuan. Penelitian menunjukkan bahwa media berpengaruh terhadap pengetahuan, yang kemudian berkaitan dengan pembentukan keyakinan. Selanjutnya, control beliefs atau keyakinan mengenai kemampuan mengendalikan perilaku berpengaruh terhadap niat. Temuan ini menunjukkan bahwa informasi yang diterima remaja melalui media dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam strategi edukasi dan pencegahan HIV/AIDS.
Sementara itu, analisis dalam model remaja laki-laki menunjukkan pola yang berbeda. Dalam model yang dianalisis, niat dan sejumlah variabel yang diuji tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku berisiko. Temuan ini mengindikasikan adanya kemungkinan faktor lain yang belum tercakup dalam model penelitian yang turut memengaruhi perilaku remaja laki-laki, seperti lingkungan fisik, teman sebaya, pola asuh, serta faktor psikologis.
Perbedaan pola yang terlihat dalam model remaja laki-laki dan perempuan menjadi salah satu temuan yang menarik. Hal tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan HIV/AIDS pada remaja perlu mempertimbangkan karakteristik dan faktor yang berbeda pada setiap kelompok sasaran. Pendekatan yang seragam belum tentu mampu menjawab seluruh faktor yang membentuk perilaku remaja.
Penelitian ini juga memperlihatkan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam memberikan edukasi kesehatan kepada remaja. Informasi mengenai HIV/AIDS perlu disampaikan bersama dengan penguatan kemampuan mengambil keputusan, pengendalian diri, dukungan keluarga, lingkungan pergaulan yang sehat, serta literasi media agar remaja mampu menyaring informasi yang mereka terima.
Bagi dunia pendidikan dan kesehatan masyarakat, temuan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merancang program pencegahan HIV/AIDS yang lebih kontekstual. Sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial dapat mengambil peran bersama dalam menciptakan ruang edukasi yang membantu remaja memahami risiko sekaligus membangun kemampuan untuk menghindari perilaku yang dapat membahayakan kesehatan.
Penelitian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa memahami faktor-faktor yang berkaitan dengan perilaku remaja merupakan bagian penting dalam merancang strategi pencegahan HIV/AIDS. Faktor yang berperan dalam pembentukan perilaku dapat berbeda antara kelompok remaja, sehingga pendekatan berbasis bukti yang mempertimbangkan aspek sosial, budaya, psikologis, dan lingkungan menjadi penting untuk mendukung upaya pencegahan HIV/AIDS di Gorontalo.
Keterlibatan akademisi Universitas Negeri Gorontalo dalam penelitian ini turut memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan kajian yang relevan dengan persoalan kesehatan masyarakat di daerah. Hasil penelitian dapat menjadi salah satu referensi untuk memperkaya pemahaman mengenai faktor yang berkaitan dengan perilaku remaja dan mendukung pengembangan strategi edukasi serta pencegahan HIV/AIDS yang lebih tepat sasaran di Gorontalo.
Sumber: https://ecohumanism.co.uk/joe/ecohumanism/article/view/6170
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo
Penyamaan Persepsi Reviewer Monev Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026