
Upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas kapas nasional dapat dimulai dari pemanfaatan sumber daya genetik tanaman yang memiliki karakter unggul. Penelitian yang melibatkan akademisi Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Mayasari Yamin, berhasil mengidentifikasi tiga aksesi kapas yang berpotensi digunakan sebagai tetua dalam pengembangan varietas kapas unggul baru.
Penelitian tersebut mengkaji keragaman karakter morfo-agronomi pada 266 aksesi kapas dari koleksi plasma nutfah. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman karakter yang dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan, sekaligus mengidentifikasi karakter penting yang dapat digunakan sebagai dasar seleksi.
Kapas merupakan salah satu tanaman penting sebagai sumber serat alami untuk industri tekstil. Namun, pengembangan kapas di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk penurunan luas areal dan produksi serta gangguan hama dan penyakit. Kondisi tersebut membuat pengembangan varietas dengan produktivitas dan kualitas serat yang lebih baik menjadi salah satu kebutuhan penting dalam pengembangan kapas nasional.
Dalam penelitian ini, para peneliti mengamati 16 karakter kuantitatif dari 266 aksesi kapas. Karakter yang diamati mencakup sejumlah aspek pertumbuhan, produksi, dan kualitas serat, antara lain tinggi tanaman, jumlah cabang, waktu berbunga, jumlah dan bobot buah kapas, indeks biji, panjang dan kehalusan serat, kekuatan serat, hingga tingkat kerentanan tanaman terhadap serangan hama.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa setiap aksesi memiliki tingkat keragaman karakter yang berbeda. Keragaman tersebut menjadi bagian penting dalam proses pemuliaan karena memberikan peluang bagi peneliti untuk memilih sumber genetik dengan karakter yang sesuai untuk dikembangkan lebih lanjut.
Salah satu temuan menarik penelitian ini berkaitan dengan hubungan antara karakter pertumbuhan, produksi, dan kualitas serat. Sejumlah karakter menunjukkan hubungan dengan hasil kapas. Jumlah buah kapas per tanaman, misalnya, memiliki hubungan positif dengan beberapa karakter pertumbuhan dan kualitas serat. Sebaliknya, tingkat kerentanan terhadap serangan Amrasca biguttula menunjukkan hubungan negatif dengan sejumlah karakter tersebut.
Untuk menentukan karakter yang paling potensial digunakan dalam proses seleksi, penelitian tidak hanya menggunakan analisis korelasi, tetapi juga analisis jalur. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat pengaruh langsung maupun tidak langsung dari berbagai karakter terhadap kandungan serat kapas. Dari analisis tersebut, kehalusan serat menjadi salah satu karakter penting. Karakter ini memiliki korelasi positif dan sangat nyata dengan kandungan serat, dengan nilai korelasi sebesar 0,210. Kehalusan serat juga menunjukkan pengaruh langsung sebesar 0,156 dan pengaruh total sebesar 0,134 terhadap kandungan serat.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kehalusan serat dapat dimanfaatkan sebagai salah satu karakter seleksi tidak langsung pada koleksi aksesi kapas yang diteliti. Dengan kata lain, karakter tersebut dapat membantu peneliti mempersempit pilihan ketika menentukan sumber genetik yang memiliki prospek untuk dikembangkan lebih lanjut.
Peneliti kemudian melakukan penyaringan terhadap aksesi yang memiliki kombinasi karakter kandungan serat dan kehalusan serat yang potensial. Dari proses pengelompokan tersebut, diperoleh tiga aksesi yang menonjol, yakni CEA N 268, CEDIX, dan L21999-10-71.
Ketiga aksesi tersebut dinilai potensial untuk digunakan sebagai sumber tetua dalam program pengembangan varietas kapas unggul baru. Identifikasi ini menjadi penting karena pemuliaan tanaman membutuhkan sumber genetik dengan karakter tertentu untuk menghasilkan kombinasi sifat yang diharapkan pada generasi berikutnya.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pengelompokan dan karakterisasi plasma nutfah memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya genetik. Dengan mengetahui kesamaan dan perbedaan karakter antaraksesi, peneliti dapat menentukan sumber genetik yang lebih tepat untuk digunakan dalam program pemuliaan.
Hasil penelitian ini pada akhirnya memberikan arah yang lebih jelas dalam pemanfaatan koleksi plasma nutfah kapas. Dari ratusan aksesi yang diamati, penelitian berhasil mengidentifikasi CEA N 268, CEDIX, dan L21999-10-71 sebagai kandidat yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan varietas kapas unggul pada tahapan penelitian selanjutnya.
Temuan ini juga membuka peluang untuk penelitian lanjutan guna menguji lebih jauh potensi ketiga aksesi tersebut sebelum dikembangkan dalam tahapan pemuliaan berikutnya. Dengan demikian, hasil penelitian tidak hanya memperkaya informasi mengenai keragaman genetik kapas, tetapi juga memberikan pijakan awal untuk menghasilkan varietas yang memiliki karakter produksi dan kualitas serat yang lebih baik.
Sumber: https://journal.ipb.ac.id/index.php/hayati/article/view/54936
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo
Penyamaan Persepsi Reviewer Monev Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026