
Pembelajaran bahasa Inggris di perguruan tinggi tidak selalu dapat menggunakan materi yang bersifat umum. Mahasiswa dari bidang hukum, teknik, kesehatan, ekonomi, pertanian, hingga pariwisata membutuhkan kemampuan bahasa Inggris yang sesuai dengan istilah, konteks, dan kebutuhan komunikasi di bidang masing-masing. Pendekatan inilah yang dikenal sebagai English for Specific Purposes (ESP).
Kebutuhan tersebut menjadi perhatian dalam penelitian kolaboratif yang dilakukan Rasuna Talib, Yuniar Galuh Larasati, Zulkifli Tanipu, dan Titien Fatmawaty Mohammad. Penelitian ini mengkaji berbagai hambatan dalam pengembangan bahan ajar ESP di Universitas Negeri Gorontalo, sekaligus memetakan faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas penyusunan dan penggunaan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan dokumentasi yang melibatkan 11 pengajar ESP di lingkungan perguruan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar ESP dipengaruhi oleh empat aspek yang saling berkaitan, yakni ketersediaan bahan ajar, kapasitas dan beban kerja dosen, dukungan struktural kelembagaan, serta ketersediaan infrastruktur.
Pada aspek bahan ajar, penelitian menemukan bahwa sejumlah pengajar belum memiliki perangkat pembelajaran ESP yang secara khusus disusun berdasarkan kebutuhan program studi. Keterbatasan tersebut terlihat dari belum tersedianya silabus dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang secara spesifik dirancang untuk ESP, sementara bahan ajar yang digunakan masih sering bersifat umum atau disusun secara terpisah dari kebutuhan bidang keilmuan mahasiswa. Kondisi ini membuat proses pembelajaran belum sepenuhnya diarahkan pada kemampuan bahasa yang benar-benar dibutuhkan mahasiswa dalam bidang akademik maupun profesionalnya.
Tantangan berikutnya berkaitan dengan kapasitas dan beban kerja dosen. Pengembangan bahan ajar ESP membutuhkan penguasaan bahasa Inggris sekaligus pemahaman terhadap bidang yang menjadi konteks pembelajaran. Di sisi lain, para pengajar menghadapi beban mengajar dan tugas akademik lainnya sehingga waktu untuk melakukan analisis kebutuhan, menyusun materi, maupun mengembangkan bahan ajar secara khusus menjadi terbatas. Penelitian juga mencatat masih terbatasnya kesempatan mengikuti pelatihan atau lokakarya yang secara khusus membahas pengembangan bahan ajar ESP.
Dari sisi kelembagaan, penelitian menunjukkan pentingnya dukungan institusi dalam menciptakan ekosistem yang memungkinkan bahan ajar ESP dikembangkan secara berkelanjutan. Dukungan tersebut mencakup pedoman yang jelas, mekanisme pengawasan terhadap ketersediaan dan kualitas bahan ajar, dukungan pembiayaan, koordinasi antarpihak, serta kesempatan bagi dosen untuk mengikuti pengembangan profesional di bidang ESP.
Sementara itu, aspek infrastruktur juga menjadi bagian penting dalam pengembangan pembelajaran ESP. Penelitian menemukan adanya keterbatasan fasilitas pendukung, seperti laboratorium bahasa, perangkat pembelajaran, buku dan sumber referensi khusus, serta akses terhadap sumber daya digital. Kendala konektivitas internet dan belum optimalnya akses terhadap jurnal, buku elektronik, maupun basis data khusus juga dapat membatasi dosen dalam memperoleh referensi terbaru untuk menyusun bahan ajar.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan bahan ajar ESP bukan semata-mata persoalan kemampuan dosen dalam menyusun materi. Persoalannya berkaitan dengan ekosistem pembelajaran secara lebih luas, mulai dari perangkat kurikulum, kapasitas sumber daya manusia, kebijakan dan dukungan kelembagaan, hingga fasilitas serta teknologi yang tersedia.
Dalam konteks pendidikan tinggi, keberadaan bahan ajar ESP menjadi penting karena pembelajaran bahasa Inggris diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami istilah dan komunikasi yang relevan dengan bidang studinya. Materi yang kontekstual juga dapat membantu mahasiswa menghubungkan kemampuan bahasa Inggris dengan kebutuhan akademik dan dunia kerja. Penelitian ini menekankan bahwa peningkatan kualitas bahan ajar ESP perlu dilakukan melalui dukungan institusional yang lebih kuat, pelatihan dan pengembangan profesional bagi dosen, kebijakan yang jelas, kolaborasi lintas program studi, serta penguatan infrastruktur pembelajaran.
Melalui penelitian ini, pengembangan ESP dipandang sebagai bagian penting dari upaya memperkuat relevansi pembelajaran bahasa Inggris di perguruan tinggi. Bahan ajar yang disusun berdasarkan kebutuhan mahasiswa dan karakteristik bidang keilmuan diharapkan tidak hanya mendukung proses pembelajaran di kelas, tetapi juga membantu mahasiswa mempersiapkan kemampuan komunikasi yang dibutuhkan dalam lingkungan akademik dan profesional.
Sumber: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/2331186X.2025.2608411
kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026