
Zink merupakan salah satu mineral penting yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung sistem kekebalan dan pembentukan sel darah merah. Perannya dalam kesehatan menjadi perhatian dalam penelitian yang dilakukan oleh Laksmyn Kadir dan Sri M. Pateda, dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang mengkaji hubungan antara asupan zink, anemia, dan malaria.
Penelitian berjudul “Nutritional Zinc, Anaemia, and Malaria Outcomes: An Evidence-Based Synthesis of Trials, Epidemiological Data, and Mechanistic Insight”. Artikel ini merupakan tinjauan sistematis yang merangkum bukti dari berbagai penelitian, termasuk uji klinis, studi epidemiologi, dan kajian mekanisme biologis, untuk memahami pengaruh zink terhadap malaria dan anemia.
Hasil kajian menunjukkan bahwa suplementasi zink memiliki manfaat yang lebih konsisten terhadap perbaikan kadar hemoglobin dan penurunan tingkat keparahan anemia. Namun, pemberian zink saja belum menunjukkan penurunan kejadian malaria maupun jumlah parasit dalam darah secara signifikan.
Anemia merupakan salah satu komplikasi yang dapat menyertai infeksi malaria, terutama pada anak-anak dan ibu hamil. Kondisi ini dapat terjadi akibat kerusakan sel darah merah, peradangan, serta gangguan proses pembentukan sel darah merah di dalam tubuh.
Dalam kajian tersebut, peneliti menjelaskan bahwa zink berperan dalam berbagai proses biologis, termasuk pengaturan respons imun, metabolisme zat besi, dan pembentukan hemoglobin. Mineral ini juga berkaitan dengan pengaturan hepcidin, yaitu hormon yang membantu mengendalikan penyerapan dan distribusi zat besi dalam tubuh.
Ketika terjadi peradangan akibat infeksi, peningkatan hepcidin dapat membatasi ketersediaan zat besi untuk pembentukan sel darah merah. Zink berpotensi memengaruhi jalur tersebut melalui pengaturan respons peradangan dan metabolisme zat besi. Mekanisme ini membantu menjelaskan mengapa kecukupan zink dapat berkaitan dengan pemulihan anemia. Meski demikian, manfaat tersebut tidak berarti zink dapat menggantikan pemeriksaan medis atau penanganan anemia berdasarkan penyebabnya.
Salah satu temuan penting dalam kajian ini adalah belum konsistennya bukti bahwa suplementasi zink saja mampu mencegah malaria atau mengurangi kepadatan parasit penyebab penyakit tersebut. Malaria melibatkan interaksi kompleks antara parasit Plasmodium, sistem kekebalan tubuh, kondisi gizi, dan lingkungan. Karena itu, perbaikan status gizi tidak serta-merta membuat seseorang terlindungi dari infeksi malaria.
Peneliti menemukan bahwa intervensi yang menggabungkan zink dengan zat gizi lain atau program pengendalian malaria menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan pada sejumlah penelitian. Kombinasi intervensi tersebut berkaitan dengan perbaikan kadar hemoglobin dan pemulihan anemia, sementara dampaknya terhadap kejadian malaria cenderung lebih terbatas.
Temuan ini menegaskan bahwa zink sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pendekatan kesehatan dan gizi yang terintegrasi, bukan sebagai pengganti obat antimalaria maupun langkah pencegahan malaria lainnya.
Kajian ini juga menyoroti pentingnya status gizi pada kelompok rentan, khususnya anak-anak dan ibu hamil. Kedua kelompok tersebut memiliki kebutuhan gizi yang perlu diperhatikan, sementara anemia dan malaria dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius.
Sejumlah penelitian yang ditelaah menunjukkan perbaikan kadar hemoglobin dan penurunan anemia pada kelompok berisiko yang menerima intervensi zink. Manfaatnya cenderung lebih terlihat pada populasi dengan kekurangan zink atau prevalensi anemia yang tinggi.
Namun, hasil intervensi dapat berbeda-beda bergantung pada kondisi gizi awal, intensitas penularan malaria, kualitas pola makan, kepatuhan terhadap suplementasi, serta kondisi sosial ekonomi. Perbedaan metode pengukuran status zink dan rancangan penelitian juga memengaruhi kekuatan kesimpulan yang dapat ditarik.
Oleh sebab itu, penentuan kebutuhan suplementasi perlu mempertimbangkan kondisi individu dan rekomendasi tenaga kesehatan, bukan dilakukan secara sembarangan.
Selain membahas manfaat zink bagi tubuh, kajian ini mengidentifikasi peluang penelitian lanjutan mengenai hubungan antara metabolisme zink dan parasit malaria. Sejumlah penelitian mekanistik menunjukkan bahwa parasit Plasmodium memiliki protein dan sistem transportasi yang bergantung pada zink untuk menjalankan fungsi biologisnya.
Temuan tersebut membuka peluang untuk mengembangkan penelitian mengenai interaksi antara zat gizi dan obat antimalaria. Meski demikian, sebagian bukti mekanistik masih berasal dari penelitian laboratorium sehingga memerlukan pengujian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan dalam pelayanan kesehatan.
Peneliti juga menekankan perlunya uji klinis dengan rancangan yang lebih kuat, metode pengukuran status zink yang terstandar, serta evaluasi terhadap efektivitas intervensi gizi pada kelompok masyarakat yang berbeda.
Melalui kajian ini, Laksmyn Kadir dan Sri M. Pateda memberikan sintesis ilmiah mengenai pentingnya melihat persoalan malaria dan anemia secara terpadu. Hasilnya menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan zink dapat menjadi bagian dari upaya mendukung kesehatan, terutama dalam mengurangi beban anemia, tetapi tetap perlu disertai langkah pencegahan dan pengobatan malaria yang sesuai.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kajian kesehatan masyarakat dan strategi intervensi gizi berbasis bukti, khususnya bagi kelompok rentan di wilayah yang menghadapi persoalan malaria dan anemia.
Sumber: link jurnal
kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026