
Kearifan lokal tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang membuat pendidikan lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Hal tersebut ditunjukkan melalui penelitian yang mengintegrasikan nilai Huyula, kearifan lokal masyarakat Gorontalo, dalam pembelajaran IPA untuk mendukung proses belajar yang kolaboratif dan inklusif.
Penelitian berjudul “The Effectiveness of Cooperative Learning Integrated with Huyula Values and Variety of Media to Improve Science Mastery in Inclusive Environments” dilakukan oleh Abdul Haris Odja, Ratha Doung, Masrid Pikoli, Rasid Yunus, Wahyu M. Mohamad, dan Mursalin. Lima peneliti berasal dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), sementara D. Ratha berasal dari Institute of Technology of Cambodia. Penelitian tersebut diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan IPA Indonesia (JPII) Volume 14 Nomor 2 Tahun 2025, halaman 282–295.
Penelitian ini berangkat dari kebutuhan menghadirkan pembelajaran yang mampu mengakomodasi keberagaman peserta didik, termasuk siswa berkebutuhan pendidikan khusus yang belajar bersama siswa reguler. Para peneliti kemudian mengembangkan pembelajaran kooperatif yang memadukan nilai Huyula dengan berbagai media pembelajaran.
Huyula merupakan kearifan lokal Gorontalo yang mengandung nilai gotong royong dan saling membantu. Dalam penelitian ini, nilai tersebut diterapkan melalui tiga bentuk, yakni ambu, ti’ayo, dan hileiya. Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui kerja sama dalam kelompok, saling membantu menyelesaikan tugas, serta kepedulian terhadap teman yang mengalami kesulitan belajar.
Penelitian dilakukan di lima sekolah pada tiga kabupaten dan satu kota dengan melibatkan 335 siswa, terdiri atas 323 siswa reguler dan 12 siswa berkebutuhan pendidikan khusus. Pembelajaran diterapkan pada materi IPA mengenai usaha dan pesawat sederhana dengan memanfaatkan kegiatan eksperimen, video, tutorial, serta simulasi virtual PhET.Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan penguasaan konsep IPA setelah pendekatan pembelajaran diterapkan. Nilai rata-rata seluruh siswa meningkat dari 31,64 pada pre-test menjadi 83,12 pada post-test. Pada siswa reguler, nilai rata-rata meningkat dari 31,89 menjadi 83,65, sedangkan pada siswa berkebutuhan pendidikan khusus meningkat dari 25,00 menjadi 68,88.
Peningkatan tersebut juga tercermin dari nilai N-Gain rata-rata seluruh siswa sebesar 0,74 yang berada dalam kategori tinggi. Pada siswa reguler, nilai N-Gain mencapai 0,75, sedangkan siswa berkebutuhan pendidikan khusus memperoleh 0,58 yang berada dalam kategori sedang. Hasil analisis statistik penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil belajar sebelum dan sesudah penerapan pembelajaran.
Selain meningkatkan penguasaan konsep IPA, integrasi nilai Huyula memberikan ruang bagi siswa untuk belajar bekerja sama, saling membantu, dan menghargai teman dengan karakteristik yang berbeda. Dalam prosesnya, siswa reguler dan siswa berkebutuhan pendidikan khusus dapat terlibat dalam aktivitas pembelajaran bersama, sehingga nilai gotong royong dan kepedulian tidak hanya dipelajari sebagai konsep, tetapi diterapkan secara langsung dalam kegiatan kelas.
Penggunaan berbagai media pembelajaran juga menjadi bagian penting dalam pendekatan ini. Eksperimen langsung, media visual, video, dan simulasi membantu siswa memperoleh pengalaman belajar melalui berbagai cara. Bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar, variasi media memberikan alternatif untuk memahami materi secara lebih fleksibel.
Meski menunjukkan hasil positif, penelitian menemukan bahwa peningkatan pada siswa berkebutuhan pendidikan khusus masih lebih rendah dibandingkan siswa reguler. Temuan ini menunjukkan pentingnya strategi pembelajaran yang lebih terdiferensiasi serta pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
Para peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan nilai Huyula dan berbagai media efektif meningkatkan penguasaan konsep IPA sekaligus mendukung pembelajaran yang lebih inklusif. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kearifan lokal Gorontalo dapat menjadi bagian dari inovasi pendidikan, dengan menghadirkan nilai kerja sama, kepedulian, dan gotong royong dalam proses pembelajaran.
Sumber: https://journal.unnes.ac.id/journals/jpii/article/view/24087
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo
Penyamaan Persepsi Reviewer Monev Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026