Model Pembelajaran Baru Latih Calon Guru Mengambil Keputusan Berbasis Sains untuk Menjawab Persoalan Lingkungan

Oleh: Berty H. Meluko . 25 Juni 2026 . 11:21:44

Menguasai konsep sains belum tentu membuat seseorang mampu mengambil keputusan yang tepat ketika dihadapkan pada persoalan lingkungan. Isu seperti pencemaran air, kerusakan ekosistem, atau pengelolaan limbah tidak hanya membutuhkan pemahaman teori, tetapi juga kemampuan menganalisis berbagai sudut pandang, mengevaluasi bukti ilmiah, serta mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan sebelum menentukan solusi. Kemampuan inilah yang perlu dimiliki calon guru agar mampu membimbing peserta didik menghadapi berbagai tantangan di era modern.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Julhim S. Tangio, Lukman Abdul Rauf Laliyo, Frida Maryati Yusuf, Weny Musa, Masrid Pikoli, dan Rustam Husain mengembangkan model Environmental Problem-Based Learning (EPBL) berbasis Socio-Scientific Reasoning (SSR). Model ini dirancang untuk membantu calon guru kimia mengembangkan kemampuan bernalar ilmiah dalam menghadapi persoalan lingkungan melalui pembelajaran yang lebih kontekstual, reflektif, dan berbasis bukti.

Berbeda dengan pembelajaran konvensional yang lebih menitikberatkan pada penguasaan materi, model EPBL mengajak mahasiswa belajar melalui persoalan lingkungan yang nyata. Mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi ilmiah, mendiskusikan berbagai alternatif solusi, menyusun argumentasi berdasarkan data, hingga mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun sosial. Dengan pendekatan ini, pembelajaran tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga membentuk kemampuan Socio-Scientific Reasoning, yaitu kemampuan menalar persoalan yang memadukan aspek sains, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.

Sebagai bagian dari implementasi model, penelitian menggunakan persoalan pencemaran dan kerusakan ekosistem Danau Limboto sebagai konteks pembelajaran. Melalui kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mahasiswa diajak menghubungkan teori kimia dengan kondisi nyata di lapangan, menganalisis penyebab permasalahan, mempertimbangkan berbagai perspektif, serta merumuskan solusi berdasarkan bukti ilmiah. Pendekatan ini menjadikan proses belajar lebih bermakna karena mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga memahami penerapannya dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran yang dikembangkan memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran calon guru kimia. Selama proses pembelajaran, mahasiswa menunjukkan partisipasi yang tinggi dalam diskusi, lebih aktif menyampaikan argumentasi berbasis bukti, serta mampu mengevaluasi berbagai alternatif solusi terhadap persoalan lingkungan yang dikaji.

Peningkatan kemampuan mahasiswa juga terlihat dari hasil pengukuran Socio-Scientific Reasoning (SSR). Penelitian mencatat bahwa 82,97 persen mahasiswa mengalami peningkatan kemampuan SSR setelah mengikuti pembelajaran menggunakan model EPBL. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah lingkungan mampu membantu mahasiswa berpikir lebih kritis, mempertimbangkan berbagai perspektif, dan mengambil keputusan secara lebih rasional berdasarkan bukti ilmiah.

Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa pembelajaran sains akan lebih efektif apabila dikaitkan dengan persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Pendekatan seperti ini tidak hanya memperkuat penguasaan konsep, tetapi juga membentuk karakter calon guru yang mampu mendorong peserta didik berpikir kritis, menyusun argumentasi ilmiah, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Melalui penelitian ini, para peneliti menunjukkan bahwa integrasi persoalan lingkungan nyata ke dalam pembelajaran dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan sains. Model Environmental Problem-Based Learning berbasis Socio-Scientific Reasoning menjadi alternatif inovatif dalam mempersiapkan calon guru yang tidak hanya menguasai ilmu kimia, tetapi juga memiliki kemampuan bernalar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

 

Sumber: https://www.sciedupress.com/journal/index.php/jct/article/view/28720

Agenda

10 September 2026

Monev Internal Penelitian Pendanaan Direktorat jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.

10 September 2026

Penyamaan Persepsi Monev Inernal Program Penelitian Tahun 2026

Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

8 September 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026.

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo

7 September 2026

Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026

Penyamaan Persepsi Reviewer Monev Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026