
Kekayaan tumbuhan di Indonesia menyimpan beragam senyawa alami yang masih terus dieksplorasi oleh para peneliti. Salah satunya adalah tanaman dari genus Erythrina, yang diketahui memiliki berbagai jenis alkaloid dengan aktivitas biologis yang menarik untuk dikaji.
Potensi tersebut menjadi perhatian dalam penelitian yang melibatkan peneliti Universitas Negeri Gorontalo, Astin Lukum, bersama Abd. Wahid Rizaldi Akili, Nandang Permadi, Ari Hardianto, Jalifah Latip, dan Tati Herlina. Penelitian ini berjudul “Metabolite profiling and free radical scavenging activity studies of alkaloids from Erythrina crista-galli twigs through in vitro and in silico analysis”.
Penelitian ini secara khusus menyoroti ranting tanaman Erythrina crista-galli. Bagian tersebut dipilih karena relatif jarang dieksplorasi dalam penelitian alkaloid. Peneliti kemudian berupaya mengidentifikasi kandungan alkaloid sekaligus mengetahui kemampuan senyawa yang berhasil diperoleh dalam menangkal radikal bebas melalui pengujian laboratorium dan analisis komputasi.
Untuk mengidentifikasi kandungan senyawa, peneliti menggunakan Ultra-Performance Liquid Chromatography–Tandem Mass Spectrometry (UPLC-MS/MS). Dari analisis tersebut, ditemukan 12 alkaloid tipe erythrina yang teridentifikasi secara tentatif pada ekstrak ranting Erythrina crista-galli. Dari 12 senyawa tersebut, empat alkaloid berhasil diisolasi dan struktur kimianya dikonfirmasi menggunakan Nuclear Magnetic Resonance (NMR) dan Mass Spectrometry (MS). Keempat senyawa itu adalah crystamidine, 8-oxoerythraline, erythrinine, dan erythraline.
Peneliti kemudian menguji kemampuan keempat senyawa tersebut dalam menangkal radikal bebas menggunakan metode DPPH. Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan masing-masing senyawa tidak sama. Erythraline menjadi senyawa dengan aktivitas penangkal radikal bebas paling tinggi di antara empat alkaloid yang diuji, dengan nilai IC50 sebesar 182,5 ± 5,3 µg/mL. Berikutnya adalah erythrinine dengan nilai IC50 285 ± 10,9 µg/mL, crystamidine 681,4 ± 20,2 µg/mL, dan 8-oxoerythraline 868,2 ± 0,26 µg/mL.
Nilai tersebut memberikan gambaran bahwa erythraline memiliki kemampuan penangkal radikal bebas paling tinggi dibandingkan tiga senyawa lain yang diuji dalam penelitian. Sebagai pembanding, asam askorbat yang digunakan sebagai kontrol positif menunjukkan aktivitas yang jauh lebih tinggi dengan nilai IC50 sebesar 4,8 ± 0,12 µg/mL.
Menariknya, penelitian tidak berhenti pada pengujian di laboratorium. Peneliti juga menggunakan pendekatan in silico melalui Density Functional Theory (DFT) untuk melihat bagaimana karakteristik elektronik dan struktur molekul berkaitan dengan kemampuan senyawa dalam menangkal radikal bebas. Hasil analisis menunjukkan bahwa erythrinine dan erythraline memiliki kecenderungan lebih besar untuk bertindak sebagai donor elektron dibandingkan crystamidine dan 8-oxoerythraline. Karakteristik tersebut sejalan dengan hasil pengujian DPPH yang menunjukkan aktivitas penangkal radikal bebas lebih baik pada kedua senyawa tersebut.
Peneliti juga menemukan bahwa perubahan pada struktur dasar erythraline dapat menurunkan aktivitas penangkal radikal bebasnya. Analisis hubungan struktur dan aktivitas menunjukkan bahwa keberadaan gugus karbonil pada posisi tertentu berkaitan dengan penurunan aktivitas pada senyawa alkaloid yang diteliti.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas suatu senyawa alami tidak hanya ditentukan oleh jenis senyawanya, tetapi juga oleh struktur molekul dan karakteristik elektronik yang dimilikinya. Pemahaman mengenai hubungan tersebut menjadi penting untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut mengenai senyawa bioaktif dari tumbuhan.
Penelitian ini juga memberikan kontribusi dalam memperluas pengetahuan mengenai Erythrina crista-galli. Sebelumnya, penelitian mengenai alkaloid dari tanaman ini lebih banyak berfokus pada bagian tanaman lain, sementara rantingnya masih relatif jarang dieksplorasi. Studi ini hadir untuk mengisi celah tersebut sekaligus memberikan gambaran mengenai kandungan dan aktivitas senyawa yang terdapat di dalamnya.
Bagi pengembangan ilmu pengetahuan, hasil penelitian ini membuka ruang bagi kajian lanjutan terhadap alkaloid Erythrina, khususnya untuk memahami aktivitas biologis, mekanisme kerja, serta karakteristik senyawa secara lebih mendalam.
Meski demikian, temuan tersebut masih berada pada tahap penelitian laboratorium dan analisis komputasi. Hasil aktivitas penangkal radikal bebas pada pengujian DPPH belum dapat secara langsung diartikan sebagai bukti manfaat kesehatan pada manusia. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui lebih jauh potensi dan keamanan senyawa-senyawa tersebut.
Penelitian yang melibatkan peneliti UNG ini pada akhirnya memperlihatkan bahwa eksplorasi terhadap kekayaan hayati dapat menghasilkan pengetahuan baru mengenai senyawa alami yang sebelumnya belum banyak dikaji. Dari ranting Erythrina crista-galli, peneliti menemukan sejumlah alkaloid dengan karakteristik berbeda dan menunjukkan bahwa erythraline memiliki aktivitas penangkal radikal bebas paling tinggi di antara senyawa yang diuji.
Temuan tersebut menjadi pijakan awal bagi penelitian berikutnya sekaligus menunjukkan bagaimana riset kimia bahan alam dapat mengungkap potensi yang tersembunyi dari tumbuhan di sekitar kita.
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo
Penyamaan Persepsi Reviewer Monev Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026