Mengenal Kontaminan Kimia dalam Pangan dan Upaya Menjaga Keamanannya

Oleh: Berty H. Meluko . 14 Mei 2026 . 17:55:07

Keamanan pangan menjadi salah satu isu yang semakin mendapat perhatian di tengah berkembangnya sistem produksi dan distribusi makanan di seluruh dunia. Selain nilai gizi, pangan yang dikonsumsi masyarakat juga harus terbebas dari berbagai zat berbahaya yang dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan. Mulai dari logam berat, residu pestisida, hingga senyawa kimia yang terbentuk selama proses pengolahan, berbagai kontaminan dapat memasuki rantai pangan melalui beragam jalur dan memerlukan pengawasan yang ketat.

Persoalan tersebut menjadi fokus kajian ilmiah yang dilakukan oleh Muhammad Isra, Adnan Engelen, Zainudin A.K. Antuli, dan Riel J.J. Umboh. Melalui sebuah artikel tinjauan (review article) yang dipublikasikan di jurnal Food Control, para peneliti merangkum berbagai hasil penelitian terkini mengenai sumber kontaminan kimia pada pangan, dampaknya terhadap kesehatan, perkembangan teknologi deteksi, serta strategi yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko kontaminasi.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa kontaminan kimia dapat berasal dari berbagai sumber. Aktivitas industri, penggunaan pestisida dan pupuk dalam pertanian, pencemaran lingkungan, proses pengolahan makanan pada suhu tinggi, hingga bahan kemasan tertentu dapat menjadi jalur masuknya senyawa kimia ke dalam produk pangan. Apabila tidak dikendalikan dengan baik, zat-zat tersebut berpotensi terakumulasi dalam rantai makanan dan meningkatkan risiko paparan pada manusia.

Artikel ini juga mengulas berbagai jenis kontaminan yang menjadi perhatian global, seperti logam berat berupa timbal, merkuri, arsenik, dan kadmium, serta mikotoksin yang dihasilkan oleh jamur. Selain itu, para penulis menyoroti munculnya kontaminan baru, termasuk per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) dan nanoplastik, yang kini menjadi perhatian para ilmuwan dan regulator di berbagai negara karena potensi dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan.

Menurut kajian tersebut, paparan jangka panjang terhadap beberapa kontaminan kimia dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan sistem saraf, kerusakan ginjal, gangguan hormonal, hingga beberapa jenis kanker. Namun, tingkat risiko sangat dipengaruhi oleh jenis kontaminan, besarnya paparan, frekuensi konsumsi, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.

Di tengah tantangan tersebut, perkembangan teknologi membuka peluang baru untuk memperkuat sistem keamanan pangan. Para peneliti mengulas berbagai inovasi deteksi modern, mulai dari sensor berbasis nanoteknologi dan metode spektroskopi hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Teknologi-teknologi ini dinilai berpotensi membantu proses identifikasi kontaminan secara lebih cepat, sensitif, dan efisien sehingga dapat mendukung pengawasan keamanan pangan di masa depan.

Selain teknologi deteksi, artikel ini juga membahas berbagai strategi mitigasi yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko kontaminasi. Beberapa di antaranya meliputi pemanfaatan mikroorganisme dalam proses bioremediasi, penggunaan bahan pengawet alami, pengembangan kemasan aktif yang lebih aman, serta perbaikan praktik produksi dan pengolahan pangan agar risiko terbentuknya kontaminan dapat diminimalkan sejak awal.

Kajian tersebut menekankan bahwa perlindungan terhadap kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu, perlu menjadi perhatian khusus dalam penyusunan kebijakan keamanan pangan. Oleh karena itu, pembaruan standar regulasi, pemantauan berbasis bukti ilmiah, dan evaluasi risiko secara berkala menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Lebih jauh, para peneliti menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat dalam membangun sistem keamanan pangan yang efektif. Pengawasan yang kuat, pemanfaatan teknologi modern, komunikasi risiko yang jelas, serta harmonisasi regulasi antarnegara dinilai menjadi komponen penting untuk menghadapi tantangan kontaminan kimia yang terus berkembang.

Secara keseluruhan, artikel tinjauan ini memberikan gambaran komprehensif bahwa menjaga keamanan pangan tidak cukup dilakukan melalui pengujian produk akhir semata. Pencegahan sejak tahap produksi, pemanfaatan inovasi teknologi, serta penguatan sistem pengawasan dan regulasi merupakan langkah yang saling melengkapi untuk memastikan pangan yang beredar aman dikonsumsi dan mampu mendukung kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Sumber : https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0956713526001702

Informasi

Agenda