
Transformasi digital terus mendorong lahirnya inovasi dalam dunia pendidikan, termasuk dalam cara guru menyampaikan materi di kelas. Salah satu teknologi yang kini semakin banyak dimanfaatkan adalah Augmented Reality (AR), yaitu teknologi yang mampu memadukan dunia nyata dengan objek virtual sehingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menarik.
Inovasi tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Manda Rohandi, Jemmy A. Pakaja, Arip Mulyanto, Dian Novian, Hermila A., Sri Ayu Ashari, dan Bariq Nugraha dari Universitas Negeri Gorontalo. Melalui penelitian yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Electrical Engineering and Computer Science, tim peneliti mengembangkan media pembelajaran berbasis Augmented Reality untuk materi desain topologi jaringan pada siswa sekolah menengah kejuruan.
Penelitian ini berangkat dari kondisi pembelajaran di SMK Negeri 1 Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru, proses pembelajaran topologi jaringan masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan fasilitas praktikum, akses materi yang sebagian besar hanya melalui buku, serta metode pembelajaran yang cenderung berpusat pada guru. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa kesulitan memahami konsep-konsep topologi jaringan yang bersifat abstrak.
Sebagai solusi, tim peneliti mengembangkan aplikasi pembelajaran berbasis AR yang dapat dijalankan pada perangkat Android. Dengan memanfaatkan kamera ponsel, siswa dapat melihat model topologi jaringan dalam bentuk tiga dimensi dan berinteraksi langsung dengan objek virtual tersebut. Melalui visualisasi ini, hubungan antarperangkat dalam jaringan dapat diamati secara lebih nyata dibandingkan hanya melalui gambar dua dimensi di buku pelajaran.
Proses pengembangan aplikasi dilakukan menggunakan pendekatan Multimedia Development Life Cycle (MDLC), mulai dari tahap perancangan konsep, penyusunan materi, pembuatan model tiga dimensi menggunakan Blender, pengembangan aplikasi dengan Unity dan Vuforia, hingga pengujian langsung kepada pengguna.
Uji coba dilakukan terhadap 31 siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Negeri 1 Bulango Selatan. Hasilnya menunjukkan respons yang positif terhadap media pembelajaran yang dikembangkan. Sebanyak 59 persen siswa menilai desain media AR menarik, sementara 58 persen menyatakan animasi yang disajikan membantu mereka memahami materi topologi jaringan. Selain itu, hampir separuh responden menyatakan media tersebut meningkatkan motivasi mereka untuk mempelajari materi, dan mayoritas siswa menilai penyajian materi menjadi lebih mudah dipahami.
Menurut para peneliti, visualisasi tiga dimensi yang dihadirkan melalui teknologi AR memungkinkan siswa mengeksplorasi komponen jaringan secara lebih interaktif. Mereka tidak hanya membaca teori, tetapi juga dapat mengamati bentuk dan susunan topologi jaringan secara virtual sehingga proses belajar menjadi lebih menarik dan kontekstual.
Meski demikian, penelitian ini juga menekankan bahwa pemanfaatan teknologi Augmented Reality perlu didukung oleh kesiapan guru dan siswa dalam memanfaatkan teknologi digital. Penggunaan AR bukan dimaksudkan untuk menggantikan peran guru, melainkan menjadi media pendukung yang dapat memperkaya pengalaman belajar dan membantu penyampaian materi yang sulit divisualisasikan secara konvensional.
Temuan ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi yang dikembangkan oleh sivitas akademika Universitas Negeri Gorontalo memiliki potensi untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di era digital. Dengan pendekatan yang lebih interaktif dan berbasis pengalaman, Augmented Reality dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang relevan untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan dunia pendidikan dan industri yang terus berkembang.
Sumber : https://ijeecs.iaescore.com/index.php/IJEECS/article/view/36323