
Mengapa produktivitas jagung di Provinsi Gorontalo masih belum mampu melampaui rata-rata nasional, padahal daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi jagung di Indonesia? Sebuah penelitian dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap bahwa jawabannya tidak hanya terletak pada ketersediaan benih unggul atau pupuk, tetapi juga pada sejauh mana petani bersedia mengadopsi inovasi dalam budidaya jagung.
Temuan tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zulham Sirajuddin, Asda Rauf, dan Ririn Lole dari Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian mereka dipublikasikan dalam AGRISOCIONOMICS: Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dengan judul Adoption of Innovation in Corn: Adoption Diversity and Associated Characteristics of Farmers in Gorontalo, Indonesia.
Jagung memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat Gorontalo, tidak hanya sebagai komoditas unggulan yang menopang perekonomian daerah, tetapi juga sebagai bagian dari budaya pangan lokal. Meski demikian, produktivitas jagung di Gorontalo masih berada di bawah rata-rata nasional. Bahkan pada kondisi tertentu, seperti serangan hama dan penyakit tanaman, hasil panen dapat menurun hingga hanya sekitar dua sampai tiga ton per hektare. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tidak cukup hanya mengandalkan potensi lahan, tetapi juga membutuhkan penerapan teknologi budidaya yang lebih baik.
Untuk memahami persoalan tersebut, tim peneliti melakukan penelitian di Desa Butu, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango dengan melibatkan 107 petani jagung hibrida sebagai responden. Penelitian diawali melalui wawancara mendalam dengan penyuluh pertanian dan pihak industri benih untuk mengidentifikasi berbagai inovasi budidaya yang direkomendasikan dalam penerapan Good Agricultural Practice (GAP). Selanjutnya, rekomendasi tersebut dianalisis untuk mengetahui sejauh mana telah diterapkan oleh petani di lapangan.
Hasil penelitian mengidentifikasi sepuluh praktik budidaya yang menjadi bagian penting dalam penerapan GAP. Praktik tersebut meliputi penggunaan benih bersertifikat, penanaman satu benih pada setiap lubang tanam, pengaturan jarak tanam yang ideal, pemupukan sesuai dosis dan waktu yang dianjurkan, pengendalian gulma, penggunaan pupuk organik, pembumbunan tanaman, pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, serta penerapan teknik panen dan pascapanen yang tepat. Kesepuluh inovasi tersebut dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani jagung.
Menariknya, tingkat adopsi setiap inovasi tidak sama. Pengendalian hama dan penyakit menjadi praktik yang paling banyak diterapkan petani karena dinilai memiliki pengaruh langsung terhadap keberhasilan panen. Penyiangan gulma, pengeringan hasil panen, dan pemanenan tepat waktu juga menunjukkan tingkat penerapan yang tinggi. Sebaliknya, pengaturan jarak tanam menjadi inovasi yang paling rendah tingkat penerapannya. Sebagian petani masih memilih menanam lebih rapat agar lahan yang terbatas dapat dimanfaatkan secara maksimal, meskipun praktik tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan rekomendasi teknis budidaya.
Selain mengidentifikasi tingkat adopsi inovasi, penelitian ini juga mengungkap faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani dalam menerapkan teknologi budidaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa usia petani, pengalaman bertani, keaktifan dalam kelompok tani, serta partisipasi dalam kegiatan penyuluhan pertanian memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat adopsi inovasi. Sebaliknya, tingkat pendidikan formal, luas lahan, maupun jumlah anggota keluarga tidak menunjukkan pengaruh yang berarti terhadap keputusan petani dalam menerapkan inovasi budidaya.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa faktor manusia memegang peranan yang sama pentingnya dengan teknologi. Petani yang berusia lebih muda cenderung lebih terbuka terhadap penerapan inovasi baru dibandingkan petani yang lebih tua. Di sisi lain, pengalaman bertani yang panjang tidak selalu mendorong perubahan karena sebagian petani telah merasa nyaman dengan metode budidaya yang selama ini digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku menjadi salah satu tantangan utama dalam modernisasi sektor pertanian.
Penelitian ini juga menegaskan pentingnya peran kelompok tani dan penyuluhan pertanian sebagai sarana pembelajaran bagi petani. Melalui kelompok tani, petani dapat bertukar pengalaman, berbagi informasi, serta saling mendorong dalam menerapkan inovasi budidaya. Sementara itu, kegiatan penyuluhan memberikan kesempatan bagi petani untuk memperoleh pengetahuan baru, mengikuti demonstrasi teknologi, hingga meningkatkan kepercayaan diri dalam mengadopsi praktik pertanian yang lebih modern. Semakin aktif petani mengikuti kedua kegiatan tersebut, semakin tinggi pula peluang mereka untuk menerapkan inovasi di lahan usahanya.
Hasil penelitian ini memberikan pesan penting bahwa peningkatan produktivitas jagung tidak dapat dicapai hanya melalui penyediaan benih unggul, pupuk, atau bantuan sarana produksi. Yang tidak kalah penting adalah memastikan setiap inovasi benar-benar dipahami, diterima, dan diterapkan oleh petani melalui pendampingan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penguatan peran penyuluh pertanian dan kelompok tani menjadi strategi yang sangat penting untuk mempercepat adopsi inovasi sekaligus meningkatkan daya saing pertanian jagung di Gorontalo.
Melalui penelitian ini, tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo memberikan bukti bahwa keberhasilan pembangunan pertanian modern tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia dalam menerima perubahan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan berbagai pemangku kepentingan dalam merancang kebijakan yang mampu mempercepat penyebaran inovasi, meningkatkan produktivitas jagung, serta mendorong terwujudnya pertanian yang lebih maju, berdaya saing, dan berkelanjutan di Provinsi Gorontalo.
Sumber : https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/agrisocionomics/article/view/22453
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo menggelar workshop bertajuk "Dari Pengukuran ke Publikasi: Analisis Hasil Belajar dengan Model Rasch (Winsteps) dan Penulisan Artikel Scopus Berbantuan Claude AI" pada Rabu (1/7). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Lantai 2 Gedung LPPM UNG ini dilaksanakan secara luring dan daring, dengan peserta mengikuti workshop baik secara langsung maupun melalui Zoom Meeting. Workshop ini menjadi bagian dari komitmen LPPM dalam meningkatkan kapasitas dosen dan peneliti menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi internasional.
Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan akan berlangsung pada tanggal 03 November 2025, bertempat di Ruang Sidang Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Negeri Gorontalo. Seluruh dosen di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo diundang untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.
Kegiatan Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset, Menulis Jurnal, dan Menulis Systematic Literature Review akan dilaksanakan pada tanggal 21-23 Agustus 2025. Tempat : Azlea Convention Center Gorontalo
Coaching Mahasiswa Peserta KKN Profesi Kesehatan Tahun 2025, Tempat : Auditorium UNG, Pukul : 10.00 Wita, Pakaian Mahasiswa : Putih Hitam Jas Almamater