
Bagaimana cara membuat generasi muda tetap mengenal cerita rakyat daerah di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital? Tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo menawarkan jawabannya melalui pengembangan e-module pembelajaran cerita rakyat berbasis kearifan lokal Gorontalo. Inovasi ini menghadirkan bahan ajar digital yang tidak hanya mendukung proses belajar Bahasa Indonesia, tetapi juga memperkuat literasi budaya dan kedekatan siswa dengan warisan budaya daerah.
Inovasi tersebut dipublikasikan dalam Journal of Ecohumanism melalui artikel berjudul Development of E-Module for Learning Folklore Based on Local Wisdom. Penelitian dilakukan oleh Sitti Rachmi Masie, Sayama Malabar, Arip Mulyanto, dan Jafar Lantowa dari Universitas Negeri Gorontalo dengan fokus mengembangkan media pembelajaran digital yang relevan dengan kebutuhan sekolah di kawasan Teluk Tomini.
Penelitian ini berawal dari temuan bahwa pembelajaran cerita rakyat di sejumlah sekolah menengah masih didominasi kisah-kisah dari luar daerah. Akibatnya, siswa kurang mengenal cerita rakyat Gorontalo yang sebenarnya kaya akan nilai kebersamaan, tanggung jawab sosial, dan kecintaan terhadap daerah. Kondisi tersebut mendorong perlunya bahan ajar yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti mengembangkan e-module berbasis kearifan lokal menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (Research and Development). Produk yang dihasilkan dirancang dapat diakses melalui komputer maupun telepon pintar, sehingga mendukung pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Berbagai fitur interaktif seperti ilustrasi, video, animasi, kuis, permainan edukatif, serta peta konsep disusun untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan mendorong siswa belajar secara mandiri.Keunggulan utama e-module ini terletak pada penggunaan cerita rakyat Gorontalo sebagai sumber belajar. Salah satu materi yang diangkat adalah Asal Usul Danau Limboto, yang dipilih karena memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat bagi masyarakat Gorontalo. Penyajian materi diperkaya dengan media audio-visual sehingga siswa tidak hanya mempelajari unsur-unsur cerita rakyat, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Sebelum diterapkan di sekolah, e-module melalui serangkaian validasi oleh ahli media, ahli materi, ahli bahasa, serta praktisi pendidikan. Hasil validasi menunjukkan seluruh aspek memperoleh kategori sangat valid setelah dilakukan penyempurnaan pada tampilan, isi materi, maupun penggunaan bahasa. Perbaikan tersebut menghasilkan bahan ajar yang dinilai lebih representatif terhadap budaya Gorontalo, mudah dipahami siswa, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.Efektivitas e-module kemudian diuji kepada 52 siswa di SMA Negeri 1 Batudaa Pantai dan SMA Negeri 1 Bone Pantai. Hasil uji coba menunjukkan respons yang sangat positif dengan tingkat penerimaan rata-rata mencapai 82,45 persen. Sebagian besar siswa menyatakan tampilan e-module menarik, materi lebih mudah dipahami, pembelajaran terasa lebih menyenangkan, serta membantu mereka menghubungkan cerita rakyat dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan media digital berbasis budaya lokal juga meningkatkan motivasi mereka untuk mempelajari cerita rakyat Gorontalo.
Selain efektif digunakan dalam pembelajaran, e-module ini dirancang agar dapat dimanfaatkan oleh sekolah dengan kondisi infrastruktur yang berbeda. Produk tersedia dalam format PDF maupun flipbook digital sehingga dapat diakses secara daring maupun luring. Untuk mendukung implementasinya, tim peneliti juga mendistribusikan e-module ke sejumlah sekolah di wilayah Teluk Tomini serta memberikan pelatihan kepada guru agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara optimal.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital tidak harus mengurangi kedekatan generasi muda dengan budaya lokal. Sebaliknya, ketika dipadukan dengan kearifan lokal, teknologi mampu menjadi media pembelajaran yang lebih kontekstual, menarik, dan relevan bagi siswa. E-module yang dikembangkan tim peneliti UNG menjadi contoh bagaimana inovasi pendidikan dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian budaya daerah sekaligus mendukung implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah.
Sumber: https://ecohumanism.co.uk/joe/ecohumanism/article/view/5967
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo
Penyamaan Persepsi Reviewer Monev Internal Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026