
Limbah cair industri tahu berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan apabila dibuang tanpa pengolahan yang memadai. Di sisi lain, kandungan bahan organik di dalam limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Potensi inilah yang dikaji dalam penelitian dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Trifandi Lasalewo, bersama Iqbal Syaichurrozi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Ecological Engineering & Environmental Technology tahun 2026 tersebut membahas upaya meningkatkan produksi biogas dari limbah cair industri tahu melalui proses pengolahan biologis. Studi ini mengombinasikan proses anaerobic digestion atau pencernaan anaerob dengan teknologi microbial electrolysis cell (MEC) untuk mengoptimalkan pembentukan gas, khususnya metana, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Limbah cair industri tahu mengandung bahan organik yang dapat terurai melalui aktivitas mikroorganisme. Namun, apabila langsung dibuang ke lingkungan, kandungan bahan organik yang tinggi dapat menurunkan kadar oksigen di perairan dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Melalui pengolahan anaerob, bahan organik tersebut dapat diuraikan oleh mikroorganisme hingga menghasilkan biogas yang mengandung metana.
Dalam penelitian ini menguji penambahan nikel klorida heksahidrat (NiCl2·6H2O) pada beberapa konsentrasi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap produksi biogas. Nikel digunakan karena dalam jumlah yang sesuai dapat mendukung aktivitas mikroorganisme pembentuk metana. Akan tetapi, konsentrasi yang terlalu tinggi berpotensi menghambat aktivitas mikroorganisme, sehingga penentuan dosis menjadi salah satu aspek penting dalam proses pengolahan.
Pengujian dilakukan pada skala laboratorium selama 15 hari menggunakan limbah cair industri tahu yang berasal dari wilayah Sukmajaya, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, Banten, dengan cairan rumen sebagai inokulum. Setelah menguji beberapa konsentrasi nikel pada proses pencernaan anaerob, peneliti membandingkan hasilnya dengan sistem yang menggabungkan pencernaan anaerob dan microbial electrolysis cell dengan tegangan 1,5 volt.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kedua teknologi dengan penambahan NiCl2·6H2O sebesar 2 miligram per liter menghasilkan produksi biogas dan metana terbaik di antara kondisi yang diuji. Pada kondisi tersebut, akumulasi produksi biogas mencapai 550,82 mililiter per liter, sedangkan produksi metana kumulatif mencapai 396,48 mililiter CH4 per liter.
Keunggulan sistem kombinasi tersebut juga terlihat dari kemampuannya mengurangi kandungan padatan dalam limbah. Pada konsentrasi nikel yang sama, tingkat penyisihan total padatan atau total solids (TS) meningkat dari 28,57 persen pada proses pencernaan anaerob menjadi 37,50 persen pada sistem kombinasi. Penyisihan padatan tersuspensi atau total suspended solids (TSS) juga meningkat dari 25,81 persen menjadi 39,87 persen. Sementara itu, penyisihan total padatan terlarut atau total dissolved solids (TDS) naik dari 31,14 persen menjadi 34,93 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggabungan teknologi MEC tidak hanya berpotensi meningkatkan produksi biogas, tetapi juga memperbaiki penyisihan sejumlah parameter padatan dalam limbah cair tahu. Dengan demikian, pendekatan ini membuka peluang pengembangan teknologi pengolahan limbah yang mengintegrasikan upaya pengendalian pencemaran dengan pemanfaatan sumber energi alternatif.
Peneliti juga melakukan analisis energi untuk membandingkan kinerja kedua sistem. Hasilnya, sistem pencernaan anaerob yang dikombinasikan dengan MEC pada dosis nikel 2 miligram per liter menghasilkan surplus energi sebesar 3.915,79 joule. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan surplus energi sebesar 2.928,50 joule pada sistem pencernaan anaerob konvensional dengan dosis nikel 4 miligram per liter. Perbandingan ini memperlihatkan potensi keuntungan energi dari sistem kombinasi pada kondisi pengujian yang dilakukan.
Meski memberikan hasil yang menjanjikan, temuan tersebut masih berasal dari pengujian skala laboratorium dengan sistem batch selama 15 hari. Karena itu, penerapannya pada industri memerlukan penelitian lanjutan, terutama untuk menilai kestabilan proses dalam jangka panjang, kinerja pada skala yang lebih besar, serta kelayakan ekonomi dan kebutuhan operasionalnya.
Penelitian Trifandi Lasalewo dan Iqbal Syaichurrozi ini menambah kajian mengenai pemanfaatan limbah industri sebagai sumber energi alternatif. Melalui pengembangan teknologi pengolahan yang tepat, limbah cair industri tahu berpeluang tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara lebih produktif dan berkelanjutan.
Sumber: link jurnal
kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026