
Upaya menghadapi perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi dan perlindungan hutan, tetapi juga dengan cara mengelola lahan pertanian. Praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dapat membantu menjaga kualitas tanah, memanfaatkan kembali limbah, serta mengurangi dampak aktivitas pertanian terhadap lingkungan.
Hal ini menjadi perhatian dalam penelitian yang dilakukan oleh Zulham Sirajuddin, Asda Rauf, Karlena Arsyad, dan Nur Silfiah Amin dari Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian mereka mengkaji pengetahuan dan penerapan pertanian sirkular di kalangan petani jagung di Kecamatan Suwawa Selatan, Kabupaten Bone Bolango, serta faktor-faktor yang berkaitan dengan penerapannya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Review of Applied Socio-Economic Research, Volume 31, Edisi 1 Tahun 2026, ini melibatkan 300 petani jagung dari delapan desa di Kecamatan Suwawa Selatan. Hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan dan penerapan sejumlah praktik pertanian sirkular di kalangan petani masih tergolong rendah. Temuan ini memperlihatkan pentingnya memperkuat pendampingan dan penyebaran informasi agar praktik pertanian yang lebih berkelanjutan semakin dikenal dan diterapkan.
Pertanian sirkular merupakan pendekatan yang berupaya memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien dengan mengurangi limbah dan menggunakan kembali bahan yang masih bermanfaat. Dalam praktik pertanian, pendekatan ini dapat dilakukan melalui pemanfaatan pupuk organik, penanaman beberapa jenis tanaman dalam satu lahan, pergiliran tanaman, pengurangan pengolahan tanah yang berlebihan, serta pengelolaan sisa hasil pertanian agar tidak terbuang percuma.
Praktik-praktik tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kondisi lahan dan mendukung pengelolaan pertanian yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, penggunaan pupuk organik dapat membantu memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar petani, sementara pergiliran tanaman dan penanaman beberapa jenis tanaman dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesuburan tanah. Pengolahan tanah yang tidak berlebihan juga berkaitan dengan upaya mengurangi risiko erosi.
Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah praktik tersebut belum banyak dipahami dan diterapkan oleh petani yang menjadi responden. Para petani relatif lebih memahami pentingnya menanam pohon untuk membantu mencegah erosi tanah. Sebaliknya, pengetahuan tentang penggunaan pupuk organik, penanaman beberapa jenis tanaman dalam satu lahan, pengolahan tanah minimum, dan pergiliran tanaman masih terbatas.
Kondisi serupa terlihat dalam penerapannya. Petani terkadang melakukan pengolahan tanah minimum dan penanaman pohon, tetapi penggunaan pupuk organik, penanaman beberapa jenis tanaman dalam satu lahan, serta pergiliran tanaman dilaporkan belum dilakukan oleh responden. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya menuju pertanian yang lebih berkelanjutan tidak cukup hanya dengan memperkenalkan gagasan baru, tetapi juga perlu disertai pendampingan agar petani memahami manfaat dan cara menerapkannya sesuai kondisi lahan mereka.
Penelitian ini juga menemukan bahwa latar belakang pendidikan, luas lahan, dan keterlibatan dalam kegiatan penyuluhan pertanian berkaitan dengan aspek pengetahuan maupun praktik pertanian sirkular. Tingkat pendidikan dan partisipasi dalam penyuluhan memiliki hubungan dengan pengetahuan petani, sedangkan luas lahan dan keterlibatan dalam penyuluhan berkaitan dengan penerapan praktik tersebut. Hubungan ini tidak serta-merta membuktikan sebab-akibat, tetapi memberikan petunjuk mengenai faktor yang perlu diperhatikan dalam merancang program pendampingan petani.
Salah satu temuan yang menonjol adalah pentingnya kegiatan penyuluhan pertanian. Petani yang lebih aktif terlibat dalam kegiatan penyuluhan cenderung memiliki pengetahuan dan penerapan pertanian sirkular yang lebih baik. Karena itu, penyuluhan dapat menjadi ruang bagi petani untuk memperoleh informasi, berdiskusi mengenai persoalan yang dihadapi, serta mempelajari teknik pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan.
Bagi wilayah yang mengandalkan pertanian jagung seperti Bone Bolango, penguatan penyuluhan menjadi salah satu langkah penting untuk mendorong perubahan praktik budidaya. Materi pendampingan dapat disesuaikan dengan kebutuhan petani, mulai dari pengenalan pupuk organik, pengelolaan sisa hasil panen, hingga teknik menjaga kondisi tanah. Pendekatan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari petani diharapkan dapat membantu menjembatani pengetahuan dengan penerapan di lapangan.
Penelitian ini menegaskan bahwa upaya menghadapi perubahan iklim melalui sektor pertanian juga perlu memperhatikan pengetahuan, kebiasaan, dan akses petani terhadap informasi. Pertanian sirkular tidak hanya berbicara tentang teknik budidaya, tetapi juga tentang bagaimana sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih bijak untuk menjaga keberlanjutan usaha tani dan lingkungan.
Melalui penelitian ini, tim peneliti UNG menyoroti perlunya penguatan layanan penyuluhan agar petani jagung memiliki pemahaman dan kemampuan yang lebih baik dalam menerapkan praktik pertanian sirkular. Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah menuju pengelolaan pertanian yang lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesiapan petani menghadapi tantangan perubahan iklim.
Sumber: link jurnal
kunjungan dari LPPM Universitas Pattimura dalam rangka melakukan diskusi tindak lanjut kerjasama pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Hari, Tanggal : Rabu, 23 September 2026
Waktu : Pukul 09.00 WITA s.d selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. 2 LPPM UNG
Monitoring dan Evaluasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema KKN Tematik Tahap II dan KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo Tahun Anggaran 2026
Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo.
Dalam rangka persiapan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal Program Penelitian
Pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026