Pengabdian UNG Olah Ikan Sapu-Sapu Menjadi Tepung Ikan untuk Perkuat Ekonomi Masyarakat

Oleh: Berty H. Meluko . 2 September 2026 . 09:20:33

Keberadaan ikan sapu-sapu di perairan dapat menjadi persoalan ketika populasinya berkembang dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Di sisi lain, keberadaan ikan tersebut juga dapat dilihat sebagai peluang untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Potensi tersebut dikembangkan melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pengendalian Spesies Invasif melalui Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengolahan Ikan Sapu-Sapu menjadi Tepung Ikan sebagai Upaya Penguatan Ekonomi.” Program ini dilaksanakan di Desa Limehe Timur, Kecamatan Tabongo, dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku tepung ikan.

Program tersebut dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Negeri Gorontalo yang terdiri atas Sri Rahayu Kalaka, S.Pi., M.Si., Prof. Dr. Femy Mahmud Sahami, S.Pi., M.Si., dan Dr. Mohamad Agus Salim Monoarfa, S.E., M.M. Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan sejumlah mahasiswa UNG sebagai bagian dari proses pemberdayaan dan pendampingan masyarakat.

Melalui program ini, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan ikan sapu-sapu yang sebelumnya kurang bernilai ekonomi menjadi bahan baku produk olahan berupa tepung ikan. Pengolahan tersebut menjadi pendekatan untuk mengurangi keberadaan ikan sapu-sapu sekaligus memanfaatkannya menjadi produk yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat.

Proses pemberdayaan tidak hanya diarahkan pada pengolahan bahan baku, tetapi juga pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menghasilkan tepung ikan. Dengan adanya keterampilan tersebut, masyarakat memiliki alternatif pemanfaatan hasil tangkapan ikan sapu-sapu sehingga tidak semata-mata dipandang sebagai spesies yang mengganggu ekosistem.

Pengolahan menjadi tepung ikan juga membuka peluang pemanfaatan lebih lanjut sebagai bahan yang memiliki nilai guna. Pendekatan ini mempertemukan aspek lingkungan dan ekonomi dalam satu kegiatan, yaitu pengendalian spesies invasif melalui pemanfaatan hasil perairan yang selama ini belum optimal.

Melalui kesempatan melakukan monev, Ketua LPPM UNG, Prof. Lanto Ningrayati Amali, menyampaikan bahwa program tersebut menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat diatasi melalui pendekatan yang sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Program ini memberikan pendekatan yang menarik karena ikan sapu-sapu yang selama ini menjadi persoalan di perairan dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai guna. Kami berharap masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan pengolahan, tetapi juga mampu mengembangkan pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai peluang ekonomi,” ujarnya.

Melalui program pengabdian ini, masyarakat Desa Limehe Timur diharapkan memiliki kemampuan untuk memanfaatkan ikan sapu-sapu secara lebih produktif sekaligus berkontribusi dalam upaya pengendalian spesies invasif. Pengolahan menjadi tepung ikan menjadi salah satu langkah untuk mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang pemanfaatan sumber daya yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Informasi

Agenda