Kabar Peneliti : Diversifikasi Pangan Lokal Untuk Kesehatan dan Budaya

Oleh: Chalid Luneto . 4 September 2025 . 19:28:18

Gorontalo - Sebuah provinsi yang dikenal dengan kekayaan lahan pertaniannya, kini menghadapi tantangan baru dalam menjaga ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Di tengah ancaman perubahan iklim, degradasi tanah, dan ketergantungan pada komoditas tunggal seperti jagung, muncul gerakan inovatif yang mendorong diversifikasi tanaman pangan sebagai solusi strategis.

Diversifikasi tanaman pangan bukan sekadar pergantian varietas, melainkan pendekatan sistemik yang menggabungkan aspek agronomi, ekologi, dan kesehatan masyarakat. Di berbagai wilayah Gorontalo, petani mulai mengintegrasikan tanaman lokal seperti ubi kayu, ubi jalar, kacang-kacangan, dan sayuran hortikultura ke dalam sistem tanam mereka. Langkah ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan gizi masyarakat.

Menurut Dr. Zulzain Ilahude, peneliti pertanian dari Universitas Negeri Gorontalo, diversifikasi tanaman mampu memperbaiki struktur tanah, mengurangi risiko gagal panen, dan memperluas akses pangan sehat. Monokultur jagung memang menguntungkan secara ekonomi jangka pendek, tetapi sangat rentan terhadap fluktuasi harga dan serangan hama. Diversifikasi adalah jalan tengah antara produktivitas dan keberlanjutan," ujarnya.

Pemerintah daerah pun mulai merespons dengan program pendampingan agroekologi dan pelatihan pertanian organik bagi kelompok tani. Kelompok tani di Kabupaten Bone Bolango, misalnya, telah berhasil mengembangkan sistem tumpangsari antara jagung, kacang tanah, dan tanaman herbal. Hasilnya, produktivitas meningkat 20 persen dan biaya pestisida berkurang drastis.

Dari sisi kesehatan, keberagaman pangan lokal turut mendukung pola makan yang lebih seimbang, aman dan sehat. Konsumsi ubi kayu dan ubi jalar, yang kaya serat dan mikronutrien, menjadi alternatif penting dalam menekan angka stunting dan penyakit degeneratif. Inovasi ini juga membuka peluang industri olahan pangan berbasis komunitas, seperti tepung jagung, susu jagung, keripik ubi, dan minuman herbal.

Namun, tantangan tetap ada. Akses terhadap benih unggul, pasar yang adil, dan dukungan kebijakan masih perlu diperkuat. Dibutuhkan sinergi antara petani, akademisi, pemerintah, dan sektor swasta untuk menjadikan diversifikasi sebagai gerakan kolektif, bukan sekadar eksperimen lokal.

Gorontalo memiliki potensi besar untuk menjadi model pertanian sehat dan berkelanjutan di Indonesia Timur. Dengan inovasi yang berpihak pada petani dan lingkungan, diversifikasi tanaman pangan bukan hanya solusi agraria, tetapi juga investasi masa depan bagi generasi yang lebih sehat dan mandiri.

Di tengah arus globalisasi dan dominasi pangan instan, Gorontalo menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang berbasis pada bahan pangan lokal seperti jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan dan sagu. Makanan seperti ilabulo, bilenthango, pilitode, binde luwopa bukan hanya warisan rasa, tetapi juga cerminan hubungan ekologis antara masyarakat dan tanahnya.

Sebelum arus pangan modern mendominasi, masyarakat Gorontalo telah lama mengandalkan bahan pangan lokal yang terbukti bergizi dan adaptif terhadap lingkungan tropis. Hingga dekade 1980-an, sagu dikenal luas sebagai makanan utama bayi. Teksturnya yang lembut dan kandungan karbohidrat kompleks menjadikannya pilihan ideal untuk menunjang pertumbuhan bayi dan anak-anak agar kuat dan sehat. Sagu tidak hanya mudah dicerna, tetapi juga bebas gluten dan cocok untuk berbagai olahan tradisional seperti Bi'o, ilabulo, dan kue sagu.

Selain sagu, jagung tua juga memiliki tempat istimewa dalam tradisi kuliner Gorontalo. Diolah dengan teknik khas yang melibatkan perendaman dalam air kapur, jagung tua diubah menjadi makanan tradisional bernama binde luwopa. Proses ini tidak hanya meningkatkan cita rasa, tetapi juga memperpanjang daya simpan dan memperkaya tekstur. Binde luwopa biasanya disajikan dengan lauk sederhana seperti ikan kering atau sagela, menciptakan kombinasi rasa gurih dan legit yang menggugah selera. Hidangan ini kerap hadir dalam acara keluarga, syukuran, dan bahkan menjadi makanan utama di lingkungan keluarga.

Tak kalah penting, pisang rebus juga menjadi simbol pangan lokal yang merakyat. Kaya akan serat dan energi, pisang rebus sering disajikan bersama sambal atau dabu-dabu sebagai kudapan sehat dalam berbagai kesempatan, dari sarapan pagi hingga jamuan rapat desa. Keberadaan pisang sebagai tanaman yang mudah tumbuh di pekarangan menjadikannya sumber pangan yang inklusif dan berkelanjutan.

Mengangkat kembali makanan-makanan ini dalam acara resmi seperti pernikahan, rapat pemerintahan, dan pertemuan adat bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga strategi membangun kesadaran pangan lokal. Ketika generasi muda mengenal dan mengapresiasi makanan berbasis sagu, jagung, dan pisang, mereka turut menjaga keberlanjutan pertanian dan memperkuat identitas budaya Gorontalo.

Mengangkat makanan khas berbahan dasar sagu, jagung dan umbi-umbian dalam acara resmi seperti pernikahan, rapat pemerintahan, dan pertemuan adat bukan sekadar pelestarian budaya, melainkan strategi nyata dalam membangun kesadaran pangan lokal. Ketika menu tradisional tampil berdampingan dengan hidangan modern, pesan yang tersampaikan adalah bahwa pangan lokal bukan simbol masa lalu, melainkan fondasi masa depan.

Sagu, misalnya, memiliki nilai gizi tinggi dan ketahanan terhadap perubahan iklim. Tanaman ini tumbuh baik di lahan marginal dan tidak memerlukan input kimia tinggi. Umbi-umbian seperti ubi jalar, talas, dan singkong juga kaya serat, vitamin, dan dapat diolah menjadi berbagai bentuk makanan yang menarik dan bergizi.  Bahkan dahulu pernah populer singkong dengan sebutan si Bogoro.

Pemerintah daerah dan pelaku industri kuliner memiliki peran penting dalam mempromosikan makanan lokal ini. Festival kuliner yang sering dilakukan, lomba kreasi makanan tradisional, dan penyediaan menu lokal di hotel serta restoran dapat menjadi langkah strategis. Bahkan, penyusunan pedoman konsumsi pangan berbasis lokal untuk acara pemerintahan bisa menjadi kebijakan afirmatif yang memperkuat identitas pangan Gorontalo.

Dengan menjadikan makanan lokal sebagai bagian dari protokol sosial dan budaya, Gorontalo tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membangun sistem pangan yang lebih tangguh, sehat, dan berkelanjutan. Ini adalah langkah kecil dengan dampak besar---karena di balik setiap piring ilabulo, binde luwopa, dan bi'o tersimpan cerita tentang tanah, tradisi, dan harapan.

Penulis ; Zulzain Ilahude, Dosen Faperta UNG Gorontalo

 

Sumber Berita Repost : https://www.kompasiana.com

 

Agenda

3 November 2025

Klinik Proposal Penelitian dan Pengabdian Bagi Dosen di Lingkungan Universitas Negeri Gorontalo, Hibah DPPM KEMDIKTISAINTEK T.A. 2026

Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan akan berlangsung pada tanggal 03 November 2025, bertempat di Ruang Sidang Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Negeri Gorontalo. Seluruh dosen di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo diundang untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.

21 - 23 Agustus 2025

Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset

Kegiatan Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset, Menulis Jurnal, dan Menulis Systematic Literature Review akan dilaksanakan pada tanggal 21-23 Agustus 2025. Tempat : Azlea Convention Center Gorontalo

3 Juli 2025

Coaching Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan 2025

Coaching Mahasiswa Peserta KKN Profesi Kesehatan Tahun 2025, Tempat : Auditorium UNG, Pukul : 10.00 Wita, Pakaian Mahasiswa : Putih Hitam Jas Almamater

23 Juni 2025

Penandatangan Kontrak Penelitian dan Pengabdian bagi Dosen UNG

Penandatangan Kontrak Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Bagi Dosen Penerima dan Kepala LPPM. Penelitian-PPM Biaya DPPM Dikti dan Internal PNBP UNG