Terumbu Karang Biluhu Timur Masih Terjaga, Jadi Habitat Ratusan Jenis Ikan

Oleh: Berty H. Meluko . 27 Juli 2026 . 10:13:02

Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Biluhu Timur, Kabupaten Gorontalo, masih menyimpan ekosistem terumbu karang yang relatif terjaga. Penelitian terbaru menunjukkan tutupan karang hidup di kawasan tersebut mencapai rata-rata 82,8 persen pada kedalaman 3 meter dan 69,35 persen pada kedalaman 10 meter. Kondisi tersebut sekaligus mendukung keberadaan beragam ikan karang yang hidup di dalam ekosistem tersebut.

Temuan itu merupakan bagian dari penelitian oleh akademisi Universitas Negeri Gorontalo yang berjudul A Preliminary Analysis of Coral Cover and Fish Abundance in the Regional Marine Conservation Area of Biluhu Timur, Gorontalo, Indonesia yang diterbitkan dalam AACL Bioflux Volume 18, Issue 1 Tahun 2025. Penelitian melibatkan Hasim, Zulkifli Katili, Sri N. Hamzah, Farid S. Musrifah, dan Lukman Samatowa.

Penelitian ini berangkat dari kondisi ekosistem pesisir Gorontalo yang menghadapi tekanan. Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa sebagian ekosistem terumbu karang di wilayah Gorontalo berada dalam kondisi rusak dan kerusakan tersebut banyak dipengaruhi aktivitas manusia. Kondisi ini menjadi salah satu alasan pentingnya pengembangan kawasan konservasi untuk menjaga keanekaragaman hayati, sumber daya laut, serta fungsi ekologis kawasan pesisir.

Biluhu Timur merupakan salah satu kawasan konservasi di Teluk Gorontalo yang memiliki zona inti dan zona pemanfaatan terbatas. Zona pemanfaatan terbatas telah dimanfaatkan untuk kegiatan wisata bahari, seperti berenang, snorkeling, dan menyelam. Kehadiran aktivitas tersebut membuat kondisi terumbu karang menjadi penting untuk terus dipantau agar pemanfaatan kawasan dapat berjalan tanpa mengurangi kualitas ekosistem laut.

Untuk mendapatkan gambaran kondisi ekosistem, penelitian dilakukan selama lima bulan, dari November 2023 hingga April 2024. Pengamatan dilakukan pada empat stasiun yang menjadi lokasi aktivitas snorkeling dan penyelaman. Dua stasiun berada lebih jauh dari permukiman, sementara dua lainnya berada lebih dekat dengan kawasan permukiman. Terumbu karang diamati pada kedalaman 3 meter dan 10 meter menggunakan metode Line Intercept Transect, sedangkan ikan karang diamati melalui metode sensus visual.

Hasil pengamatan memberikan gambaran cukup positif. Pada kedalaman 3 meter, kondisi terumbu karang di empat stasiun berada pada kategori baik hingga sangat baik dengan rata-rata tutupan karang hidup mencapai 82,8 persen. Berdasarkan kriteria yang digunakan dalam penelitian, rata-rata tersebut masuk dalam kategori sangat baik. Dua lokasi bahkan mencatat tutupan karang hidup masing-masing sebesar 90,2 persen dan 89,2 persen, dengan persentase karang mati yang relatif rendah, yakni 1 persen dan 2,8 persen.

Kondisi terumbu pada kedalaman 10 meter menunjukkan variasi yang lebih besar. Secara keseluruhan, rata-rata tutupan karang hidup mencapai 69,35 persen dan berada pada kategori sedang hingga sangat baik. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun kondisi terumbu tidak sepenuhnya seragam di setiap lokasi, sebagian kawasan masih memiliki tutupan karang hidup yang cukup tinggi.

Terumbu karang yang masih relatif baik tersebut menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan. Penelitian mencatat lebih dari 5.200 individu ikan karang, dengan keragaman yang mencapai lebih dari 140 spesies dan 27 famili berdasarkan data yang dilaporkan dalam penelitian. Pada kedalaman 3 meter, jumlah ikan tertinggi ditemukan di Stasiun 2 dengan 1.032 individu, sedangkan Stasiun 1 mencatat 865 individu. Sementara pada kedalaman 10 meter, jumlah tertinggi ditemukan di Stasiun 1 dengan 854 individu.

Keberadaan ikan dalam jumlah dan keragaman tersebut tidak dapat dilepaskan dari kondisi terumbu karang sebagai habitatnya. Terumbu menyediakan ruang untuk berlindung, mencari makanan, dan menjalankan berbagai aktivitas kehidupan bagi ikan karang. Karena itu, ketika kualitas terumbu menurun, ruang hidup bagi berbagai jenis ikan juga berpotensi ikut berkurang.

Penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara kondisi tutupan karang dengan keberadaan ikan karang. Lokasi dengan tutupan karang yang lebih tinggi cenderung mendukung jumlah dan keragaman ikan yang lebih besar. Dengan demikian, menjaga terumbu karang pada dasarnya juga berarti menjaga habitat bagi berbagai jenis ikan yang bergantung pada ekosistem tersebut.

Namun, kondisi yang relatif baik tersebut bukan berarti Biluhu Timur terbebas dari ancaman. Kawasan ini berada di tengah aktivitas pemanfaatan pesisir, termasuk wisata bahari. Penelitian menyebutkan bahwa ekosistem terumbu karang dapat mengalami tekanan akibat berbagai aktivitas manusia, seperti pencemaran, penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, eutrofikasi, serta fenomena pemutihan karang yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Karena itu, keberadaan terumbu karang yang masih baik di Biluhu Timur perlu dipandang sebagai aset ekologis yang harus dipertahankan. Aktivitas wisata dapat terus dikembangkan, tetapi perlu berjalan seiring dengan pengelolaan kawasan yang memperhatikan daya dukung lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.

Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi awal dalam mendukung pengelolaan KKPD Biluhu Timur. Data mengenai tutupan karang dan keberadaan ikan memberikan gambaran mengenai kondisi ekologis kawasan sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga habitat laut dari berbagai tekanan yang dapat menurunkan kualitasnya.

Pada akhirnya, Biluhu Timur tidak hanya menawarkan keindahan bawah laut bagi wisatawan, tetapi juga menyimpan ekosistem yang menjadi rumah bagi beragam kehidupan laut. Dengan tutupan karang yang masih relatif tinggi dan keanekaragaman ikan yang besar, kawasan ini memiliki modal ekologis penting yang perlu dijaga agar manfaat konservasi dan pemanfaatan laut dapat terus berjalan secara berkelanjutan.

 

Sumber : https://bioflux.com.ro/docs/2025.148-162.pdf

Informasi

Agenda