Sacha Inchi Bangkit di Tabongo Timur: Strategi Pemberdayaan untuk Ketahanan Pangan dan Peningkatan Ekonomi

Oleh: Berty H. Meluko . 5 Februari 2026 . 11:08:01

Desa Tabongo Timur, Kabupaten Gorontalo, kini menatap masa depan baru melalui pengembangan Sacha Inchi (Plukenetia volubilis L.)—tanaman bernutrisi tinggi yang dikenal sebagai “kacang Inca”. Hal ini tertuang dalam jurnal pengabdian berjudul “Developing Sacha Inchi Cultivation in Tabongo Timur Village: An Empowerment Strategy for Food Security and Economic Improvement.”

Program ini tidak sekadar memperkenalkan tanaman baru, tetapi membangun strategi pemberdayaan menyeluruh untuk mendukung ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Dari Komoditas Alternatif Menjadi Unggulan Desa

Sacha Inchi sebenarnya sudah diperkenalkan di Tabongo Timur sejak 2021, namun belum dibudidayakan secara serius. Melalui Program Desa Binaan (PDB) tahun 2024, tim pengabdi dari Universitas Negeri Gorontalo bersama mitra desa melakukan intervensi selama delapan bulan. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA)—metode partisipatif yang melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Sasaran utama program ini adalah 25 anggota BUMDes dan 20 anggota Kelompok Tani Hutakiki Jaya. Hasil koordinasi menunjukkan komitmen kuat dari pemerintah desa dan kelompok tani untuk menjadikan Sacha Inchi sebagai komoditas unggulan.

Tanaman Kecil dengan Kandungan Gizi Besar

Sacha Inchi dikenal kaya protein (25–27%), minyak sehat (41–54%), serta asam lemak omega-3 yang penting untuk fungsi antiinflamasi dan kesehatan sel. Bijinya juga mengandung vitamin E, polifenol, dan berbagai mineral. Tak hanya bijinya, daun dan kulitnya pun memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan herbal dan produk bernilai tambah. Kandungan inilah yang membuat Sacha Inchi memiliki nilai ekonomi tinggi, baik untuk industri pangan maupun kosmetik.

Budidaya Semi-Organik yang Ramah Lingkungan

Program ini memberikan pelatihan teknis budidaya secara detail, mulai dari pemilihan benih, teknik pematahan dormansi, penyemaian, pemupukan, hingga pengendalian hama secara biologis. Budidaya dilakukan secara organik atau semi-organik, dengan menekankan penggunaan pupuk alami dan menghindari pestisida kimia beracun. Tanaman mulai berbunga pada usia 3–4 bulan dan dapat dipanen pertama kali pada usia 7–8 bulan.

Produktivitasnya cukup menjanjikan:

  • Panen awal: 300–500 gram per pohon
  • Usia 3 tahun: hingga 2 kg per pohon
  • Berbuah sepanjang tahun dengan panen rutin bulanan

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.

Inovasi Produk: Dari Biji ke Produk Bernilai Tinggi

Tak berhenti pada budidaya, program ini juga mengajarkan inovasi produk. Masyarakat dilatih mengolah Sacha Inchi menjadi: Minyak Sacha Inchi, Susu nabati, Selai, Kue dan snack bar.Hasil evaluasi menunjukkan: Pemahaman peserta meningkat hingga 90% setelah sosialisasi, Keterampilan pengolahan meningkat 80% setelah pelatihan.

Teknologi pendukung seperti mesin pengolah minyak dan kultivator juga diberikan sesuai standar Good Manufacturing Practices (GMP) untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.

Perubahan Pola Pikir dan Dampak Ekonomi

Salah satu capaian penting program ini adalah perubahan pola pikir petani. Jika sebelumnya hanya bergantung pada komoditas seperti jagung, kini masyarakat mulai melihat potensi ekonomi baru dari Sacha Inchi. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok tani menjadi kunci keberhasilan. Pendekatan partisipatif menciptakan rasa memiliki terhadap program, sehingga keberlanjutan lebih terjamin.

Menuju Sentra Industri Sacha Inchi

Dalam kesimpulannya, jurnal ini menegaskan bahwa intervensi teknis, sosial, dan teknologi secara terpadu berhasil meningkatkan produktivitas dan kualitas produk Sacha Inchi di Tabongo Timur. Desa ini kini diproyeksikan menjadi sentra pengolahan Sacha Inchi yang kompetitif, mendukung ketahanan pangan lokal sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.

Model pemberdayaan ini berpotensi direplikasi di desa lain yang ingin mengoptimalkan sumber daya lokal demi kesejahteraan bersama.

 

Oleh : Yuszda K. Salimi, Lanto Ningrayati Amali, Umar Sako Baderan, Siti Aisa Liputo, Erni Mohamad

Sumber : https://journal.umtas.ac.id/ABDIMAS/article/view/5474

Agenda

3 November 2025

Klinik Proposal Penelitian dan Pengabdian Bagi Dosen di Lingkungan Universitas Negeri Gorontalo, Hibah DPPM KEMDIKTISAINTEK T.A. 2026

Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan akan berlangsung pada tanggal 03 November 2025, bertempat di Ruang Sidang Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Negeri Gorontalo. Seluruh dosen di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo diundang untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.

21 - 23 Agustus 2025

Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset

Kegiatan Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset, Menulis Jurnal, dan Menulis Systematic Literature Review akan dilaksanakan pada tanggal 21-23 Agustus 2025. Tempat : Azlea Convention Center Gorontalo

3 Juli 2025

Coaching Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan 2025

Coaching Mahasiswa Peserta KKN Profesi Kesehatan Tahun 2025, Tempat : Auditorium UNG, Pukul : 10.00 Wita, Pakaian Mahasiswa : Putih Hitam Jas Almamater

23 Juni 2025

Penandatangan Kontrak Penelitian dan Pengabdian bagi Dosen UNG

Penandatangan Kontrak Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Bagi Dosen Penerima dan Kepala LPPM. Penelitian-PPM Biaya DPPM Dikti dan Internal PNBP UNG