
Tim peneliti UNG berhasil merekonstruksi sejarah tektonik wilayah Gorontalo sejak jutaan tahun lalu melalui analisis fosil mikro foraminifera yang tersimpan dalam batuan karbonat. Riset ini membuka perspektif baru tentang proses penurunan kerak bumi (subsidence) yang membentuk kawasan Gorontalo sekaligus memperkuat dasar ilmiah mitigasi bencana geologi di daerah rawan gempa.
Penelitian yang diketuai Dr. Aang Panji Permana, S.T., M.T bersama Prof. Dr. Dewi Wahyuni K. Baderan, S.Pd., M.Si ini telah dipublikasikan pada jurnal internasional terindeks Scopus (Q3), News of the National Academy of Sciences of the Republic of Kazakhstan – Series of Geology and Technical Sciences edisi 2025. Kegiatan riset didanai melalui LPPM UNG dalam skema Riset Akselerasi Lektor Kepala (PNBP UNG), sebagai bagian dari komitmen penguatan riset unggulan kebumian di tingkat nasional dan internasional.
Penelitian lapangan dilakukan di Desa Ombulo, Kabupaten Gorontalo, dengan mengkaji lapisan batugamping setebal hingga 25 meter. Tim menggunakan pendekatan biostratigrafi, analisis petrografi, serta rekonstruksi paleobatimetri untuk menelusuri perubahan lingkungan laut purba yang pernah membentuk kawasan tersebut. Melalui pengamatan mikroskopis, peneliti berhasil mengidentifikasi 16 spesies foraminifera bentonik—organisme laut mikroskopis bercangkang kalsium karbonat yang sangat peka terhadap perubahan kedalaman laut. Fosil-fosil ini berfungsi sebagai “arsip alami” yang merekam dinamika geologi masa lampau.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pada Kala Pliosen Awal, sekitar 6,4–5,8 juta tahun lalu, wilayah Gorontalo mengalami pendalaman lingkungan pengendapan secara signifikan. Kedalaman laut berubah dari paparan tengah sekitar 178 meter menjadi lereng atas laut dalam sekitar 500 meter. Dengan kata lain, terjadi penurunan lebih dari 320 meter dalam rentang waktu geologis yang relatif singkat.
Menariknya, perubahan tersebut tidak sejalan dengan fluktuasi muka air laut global pada periode yang sama. Hal ini menegaskan bahwa faktor utama yang mengontrol evolusi cekungan Gorontalo adalah aktivitas tektonik lokal berupa penurunan kerak bumi, bukan sekadar perubahan iklim global.
“Distribusi fosil foraminifera merekam dengan sangat jelas dinamika tektonik wilayah ini. Data kami menunjukkan bahwa Gorontalo mengalami subsidence intensif pada Pliosen Awal,” jelas Dr. Aang Panji Permana.
Temuan ini memiliki implikasi strategis, tidak hanya bagi pengembangan ilmu kebumian, tetapi juga untuk mitigasi bencana geologi, penataan kawasan lindung geologi, serta eksplorasi energi—khususnya dalam memahami karakter reservoir karbonat di kawasan Teluk Tomini dan sekitarnya. riset ini menjadi pijakan awal yang penting dalam memperkuat basis data geologi regional, khususnya untuk mendukung perencanaan tata ruang, pengelolaan kawasan rawan bencana, dan pengembangan sumber daya geologi di wilayah Gorontalo dan sekitarnya.
Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan akan berlangsung pada tanggal 03 November 2025, bertempat di Ruang Sidang Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Negeri Gorontalo. Seluruh dosen di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo diundang untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.
Kegiatan Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset, Menulis Jurnal, dan Menulis Systematic Literature Review akan dilaksanakan pada tanggal 21-23 Agustus 2025. Tempat : Azlea Convention Center Gorontalo
Coaching Mahasiswa Peserta KKN Profesi Kesehatan Tahun 2025, Tempat : Auditorium UNG, Pukul : 10.00 Wita, Pakaian Mahasiswa : Putih Hitam Jas Almamater
Penandatangan Kontrak Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Bagi Dosen Penerima dan Kepala LPPM. Penelitian-PPM Biaya DPPM Dikti dan Internal PNBP UNG