Riset UNG Ungkap Kaitan Anomali Iklim, Kekeringan, dan Produksi Jagung di Gorontalo

Oleh: Berty H. Meluko . 18 Juli 2026 . 13:12:03

Sebagai salah satu komoditas pertanian penting di Gorontalo, produksi jagung turut dipengaruhi kondisi ketersediaan air. Ketika curah hujan menurun, cadangan air tanah dapat berkurang dan meningkatkan risiko kekeringan. Kondisi ini menjadi perhatian dalam penelitian sejumlah dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang mengkaji kaitan anomali iklim dengan kekeringan dan produksi jagung.

Penelitian tersebut dilakukan Wawan Pembengo, Yunnita Rahim, Mohamad Lihawa, Zulzain Ilahude, Hayatiningsih Gubali, Muhammad Arief Azis, Fauzan Zakaria, dan Nurdin melalui studi berjudul Climate Anomalies of Maize Drought Level Based on Land Water Balance in Gorontalo Province, Indonesia, yang diterbitkan dalam Agricultural Science Digest.

Penelitian dilakukan di Kecamatan Limboto dengan menganalisis data iklim selama 20 tahun, periode 1997–2016. Data curah hujan, suhu, radiasi matahari, kelembapan, dan kecepatan angin digunakan untuk menghitung keseimbangan air lahan serta tingkat kekeringan berdasarkan pendekatan evapotranspirasi FAO Penman-Monteith.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode El Niño cenderung disertai tingkat kekeringan yang lebih tinggi. Pada El Niño kuat 1997–1998, 2002–2003, dan 2015–2016, tingkat kekeringan berada pada kategori sedang hingga kuat. Sementara pada tahun normal, kekeringan lebih banyak berada pada kategori lemah.

Periode 1997–1998 menjadi salah satu kondisi paling menonjol. Penelitian mencatat kekeringan kuat berlangsung selama delapan bulan, sementara pada 1997 juga terjadi defisit air selama Juni hingga November. Akumulasi kehilangan air potensial mencapai 1.869 mm pada periode tersebut. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap ketersediaan air yang dapat berpengaruh terhadap budidaya jagung.

Dalam analisis penelitian, produksi jagung tercatat menurun sebesar 11,93 persen pada tahun El Niño, sedangkan pada tahun La Niña terjadi peningkatan sebesar 3,92 persen. Namun, peneliti menegaskan bahwa perubahan produksi tidak semata-mata ditentukan oleh anomali iklim. Faktor lain, seperti luas areal pertanian dan program Agropolitan Jagung pada 2002–2014, turut berperan dalam peningkatan produksi.

Pada 1999 yang dikategorikan sebagai La Niña kuat, misalnya, luas panen jagung mencapai 40.695 hektare dengan produksi 90.288 ton. Sementara pada 2007 yang dikategorikan sebagai La Niña sedang, luas panen mencapai 119.027 hektare dengan produksi 572.785 ton.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya melihat keseimbangan air dalam menghadapi variasi iklim. El Niño dapat meningkatkan risiko kekeringan akibat berkurangnya curah hujan, sedangkan La Niña cenderung meningkatkan ketersediaan air yang dapat mendukung periode tanam, meski kelebihan air juga perlu diantisipasi.

Penelitian ini memberikan gambaran bahwa pemantauan iklim dan ketersediaan air dapat menjadi bagian penting dalam perencanaan budidaya jagung. Informasi tersebut dapat membantu pengelolaan waktu tanam dan air agar pertanian Gorontalo lebih adaptif terhadap perubahan kondisi iklim.

 

Sumber : https://arccjournals.com/journal/agricultural-science-digest/DF-613

Informasi

Agenda