
Nama sebuah desa bukan sekadar penanda lokasi di peta. Di baliknya, tersimpan sejarah, nilai budaya, dan cara pandang masyarakat terhadap alam dan kehidupannya. Inilah yang diungkap dalam jurnal berjudul “Toponymy of Bondaraya Village, Gorontalo Province: A Local Wisdom Study.”
Penelitian ini mengkaji toponimi—asal-usul dan makna nama tempat—di Desa Bondaraya, Provinsi Gorontalo. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, peneliti menelusuri cerita lisan, sejarah lokal, serta makna linguistik dari berbagai nama wilayah di desa tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa nama-nama tempat di Bondaraya bukanlah kebetulan, melainkan refleksi kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Dalam pembahasannya, jurnal ini menegaskan bahwa toponimi memiliki fungsi lebih dari sekadar identitas geografis. Nama tempat merekam:
Nama “Bondaraya” sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan kondisi geografis dan sejarah pembentukan wilayah tersebut. Setiap dusun, lahan, hingga bentang alam di desa itu menyimpan cerita tersendiri.
Penelitian menemukan bahwa sebagian besar nama tempat di Bondaraya lahir dari interaksi masyarakat dengan lingkungan alamnya. Ada nama yang merujuk pada jenis tanaman tertentu, ada yang menggambarkan kondisi tanah, dan ada pula yang terkait dengan tokoh atau peristiwa masa lalu.
Salah satu temuan penting jurnal ini adalah bahwa bahasa menjadi medium utama pelestarian kearifan lokal. Melalui nama-nama tempat, masyarakat Bondaraya mempertahankan identitas budaya mereka.
Toponimi di desa ini memperlihatkan:
Penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan zaman berpotensi menggerus makna asli nama-nama tempat. Modernisasi, perubahan administrasi, serta minimnya dokumentasi membuat sebagian generasi muda tidak lagi memahami asal-usul nama wilayahnya.
Dalam kesimpulannya, jurnal ini menegaskan bahwa toponimi adalah bagian dari warisan budaya tak benda yang perlu didokumentasikan dan dilestarikan. Nama tempat bukan sekadar simbol, tetapi representasi identitas kolektif masyarakat. Jika tidak dicatat dan dipahami, makna historis dan nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya bisa hilang. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi langkah penting dalam:
Studi tentang toponimi Bondaraya mengingatkan kita bahwa ruang hidup masyarakat selalu terikat pada cerita. Setiap nama tempat adalah penanda hubungan manusia dengan alam, sejarah, dan nilai-nilai yang mereka yakini.
Di tengah arus globalisasi, memahami makna nama tempat menjadi cara sederhana namun penting untuk menjaga jati diri. Desa Bondaraya menunjukkan bahwa kearifan lokal masih hidup—tersimpan rapi dalam setiap nama yang diucapkan sehari-hari.
Oleh : Mohamad Karmin Baruadi, Sunarty Suly Eraku, Novriyanto Napu, Hendra Hendra
Sumber : jurnal
Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan akan berlangsung pada tanggal 03 November 2025, bertempat di Ruang Sidang Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Negeri Gorontalo. Seluruh dosen di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo diundang untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.
Kegiatan Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset, Menulis Jurnal, dan Menulis Systematic Literature Review akan dilaksanakan pada tanggal 21-23 Agustus 2025. Tempat : Azlea Convention Center Gorontalo
Coaching Mahasiswa Peserta KKN Profesi Kesehatan Tahun 2025, Tempat : Auditorium UNG, Pukul : 10.00 Wita, Pakaian Mahasiswa : Putih Hitam Jas Almamater
Penandatangan Kontrak Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Bagi Dosen Penerima dan Kepala LPPM. Penelitian-PPM Biaya DPPM Dikti dan Internal PNBP UNG