Enam Varietas Jagung Lokal Gorontalo Tunjukkan Keragaman Karakter dan Kandungan Gizi

Oleh: Berty H. Meluko . 17 Juli 2026 . 15:32:41

Jagung lokal Gorontalo atau yang dikenal masyarakat sebagai binthe tidak hanya memiliki bentuk, ukuran, dan warna yang beragam, tetapi juga menyimpan perbedaan kandungan nutrisi pada setiap varietasnya. Penelitian terbaru mengungkap keragaman karakter morfologi dan kandungan gizi pada enam varietas jagung lokal Gorontalo, yakni binthe doti, kiki, siropu, momala, pulo, dan damahu.

Penelitian berjudul Morphological Traits and Nutritional Value of Six Local Cultivars of Maize (Zea mays) from Gorontalo, Indonesia dilakukan oleh akademisi Universitas Negeri Gorontalo Novri Youla Kandowangko, Margaretha Solang, Febriyanti, serta Aisyah Ahmad dari Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BSIP) Provinsi Gorontalo. Penelitian tersebut diterbitkan dalam Biodiversitas Volume 26 Nomor 5 Tahun 2025.

Kajian ini penting karena jagung memiliki posisi kuat dalam kehidupan masyarakat Gorontalo. Selain menjadi bahan pangan, berbagai varietas jagung lokal telah lama digunakan dalam beragam makanan tradisional. Namun, keberadaan sejumlah varietas lokal tersebut mulai semakin jarang ditemukan sehingga karakterisasi dan dokumentasi menjadi penting untuk mendukung upaya pelestariannya.

Penelitian dilakukan dengan mengamati enam varietas jagung lokal yang dikumpulkan dari sejumlah wilayah di Gorontalo. Tanaman kemudian ditanam pada kebun percobaan untuk diamati karakter morfologinya, mulai dari tinggi tanaman, posisi tongkol, ukuran batang dan daun, karakter bunga, ukuran serta bobot tongkol, hingga karakter biji. Kandungan nutrisi biji juga dianalisis, meliputi kadar air, abu, lemak, protein, karbohidrat, gula, amilosa, serta beberapa mineral.

Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang cukup jelas antarkultivar. Tinggi tanaman, misalnya, berada pada kisaran 115 hingga 195 sentimeter. Varietas pulo menjadi yang tertinggi, sedangkan siropu memiliki tinggi rata-rata paling rendah. Perbedaan juga terlihat pada ukuran tongkol. Siropu memiliki tongkol paling panjang, sekitar 19 sentimeter, sementara kiki memiliki tongkol paling pendek, sekitar 8,4 sentimeter. Bobot 1.000 biji juga bervariasi, dari 145 hingga 320 gram.

Keragaman tersebut menunjukkan bahwa setiap jagung lokal memiliki karakteristik tersendiri. Perbedaan tidak hanya berkaitan dengan faktor genetik, tetapi juga dapat dipengaruhi lingkungan tempat tanaman tumbuh. Karakterisasi seperti ini menjadi tahap awal yang penting untuk memahami sumber daya genetik sebelum dimanfaatkan dalam penelitian pemuliaan dan pengembangan varietas.

Dari sisi kandungan gizi, penelitian juga menemukan variasi antarkultivar. Kandungan protein berada pada kisaran 8,82–12,53 persen, sedangkan lemak berkisar 2,85–5,09 persen dan karbohidrat sekitar 71–77 persen. Kiki memiliki kandungan protein tertinggi, yakni 12,53 persen, sementara momala memiliki kandungan lemak tertinggi sebesar 5,09 persen.

Kandungan amilosa juga menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. Varietas kiki memiliki kandungan amilosa tertinggi sebesar 22 persen, sedangkan pulo memiliki kandungan paling rendah. Sementara itu, kandungan gula pereduksi pada keenam varietas berada pada kisaran 0,54–1,92 persen.

Perbedaan juga ditemukan pada kandungan mineral. Penelitian menganalisis seng, tembaga, kalsium, magnesium, dan kalium pada masing-masing varietas. Hasilnya menunjukkan bahwa kiki memiliki kandungan seng sebesar 46,89 ppm, sementara momala memiliki kandungan magnesium yang relatif tinggi dibandingkan varietas lainnya. Kandungan mineral yang berbeda antarkultivar diperkirakan berkaitan dengan faktor genetik serta kondisi tanah dan lingkungan tempat tanaman tumbuh.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa jagung lokal Gorontalo memiliki kekayaan karakter yang cukup besar. Satu varietas dapat menonjol pada karakter tertentu, sementara varietas lainnya memiliki karakter berbeda yang juga berpotensi dimanfaatkan. Keragaman ini menjadi sumber daya penting bagi penelitian lanjutan, termasuk untuk memahami karakter tanaman dan mendukung pengembangan produk pangan berbasis jagung lokal.

Bagi Gorontalo, hasil penelitian tersebut memperkuat pentingnya menjaga keberadaan varietas jagung lokal. Pelestarian tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan tanaman sebagai sumber daya genetik, tetapi juga menjaga keberagaman pangan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Penelitian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa enam varietas jagung lokal Gorontalo memiliki keragaman nyata, baik dari karakter pertumbuhan maupun kandungan nutrisi bijinya. Kekayaan tersebut menjadi potensi yang perlu dipertahankan dan dikembangkan melalui penelitian lebih lanjut, sehingga jagung lokal Gorontalo tetap menjadi bagian penting dari sumber daya pangan dan genetik daerah.

 

Sumber: https://smujo.id/biodiv/article/view/19864

Informasi

Agenda