
Oleh : Mohamad Syafri Tuloli, Titin Seh Kinanti, dan Lanto Ningrayati Amali
Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia dan dunia. Kabar baiknya, riset terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo menunjukkan bahwa teknologi berbasis data dapat membantu mendeteksi risiko penyakit jantung lebih dini dan akurat. Penelitian yang dimuat dalam Jambura Journal of Informatics ini membandingkan tiga metode komputasi populer untuk memprediksi penyakit jantung. Hasilnya, metode bernama C4.5 terbukti paling unggul dibandingkan dua metode lainnya.
Tim peneliti menganalisis lebih dari 1.200 data pasien penyakit jantung yang dikumpulkan dari basis data kesehatan internasional. Data tersebut berisi informasi klinis seperti tekanan darah, kadar kolesterol, hingga kondisi kesehatan pasien.
Setelah melalui proses penyaringan dan pengolahan data, peneliti menguji tiga pendekatan berbeda untuk memprediksi apakah seseorang berisiko terkena penyakit jantung atau tidak. Tujuannya sederhana namun krusial: menemukan metode yang paling akurat dan dapat diandalkan untuk deteksi dini.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa algoritma C4.5 mampu memprediksi penyakit jantung dengan tingkat ketepatan lebih dari 81 persen, lebih tinggi dibandingkan metode Naïve Bayes dan K-Nearest Neighbors. Tak hanya itu, C4.5 juga dinilai lebih baik dalam mengenali pasien yang benar-benar berisiko terkena penyakit jantung. Artinya, kemungkinan kasus terlewat—yang bisa berakibat fatal—dapat ditekan.
“Metode ini lebih peka dalam mendeteksi kasus positif, sehingga sangat potensial digunakan untuk membantu tenaga medis mengambil keputusan lebih cepat,” tulis peneliti dalam laporannya.
Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan sistem pendukung keputusan medis, khususnya di fasilitas layanan kesehatan dengan keterbatasan dokter spesialis. Dengan bantuan sistem berbasis data, skrining awal penyakit jantung bisa dilakukan lebih cepat, murah, dan merata. Bagi masyarakat, teknologi ini berpotensi meningkatkan peluang deteksi dini, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi pasien memburuk. Dalam jangka panjang, hal ini diharapkan dapat menurunkan angka kematian akibat penyakit jantung.
Meski masih memiliki keterbatasan, seperti jumlah data dan variasi metode yang digunakan, penelitian ini menjadi langkah penting dalam pemanfaatan kecerdasan buatan untuk kesehatan masyarakat. Ke depan, peneliti merekomendasikan pengembangan aplikasi berbasis web atau mobile agar teknologi ini dapat digunakan secara lebih luas.
Dengan dukungan data dan teknologi yang tepat, deteksi dini penyakit jantung bukan lagi sekadar harapan, melainkan solusi nyata yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Source : https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jji/article/view/31158