
Obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut menjadi salah satu persoalan kesehatan yang terus berkembang di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan pola makan, tetapi juga memiliki hubungan dengan karakteristik wilayah, kebiasaan konsumsi, serta latar belakang budaya masyarakat.
Hal tersebut terungkap dalam penelitian berjudul “Central Obesity Analysis from the Aspect of Risky Foods and Food Consumption Patterns Related to Cultural Systems: The 2023 SKI Study” yang diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat, Volume 21 Nomor 3 Tahun 2026, halaman 555–565. Penelitian ini melibatkan sejumlah peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yakni Hartono Hadjarati, Nasrun Pakaya, Widy Susanti Abdulkadir, dan Edy Dharma Putra Duhe, bersama Oktia Woro Kasmini Handayani dari Universitas Negeri Semarang.
Penelitian ini berangkat dari meningkatnya prevalensi obesitas sentral pada penduduk Indonesia berusia 15–54 tahun. Berdasarkan data yang digunakan dalam penelitian, prevalensi obesitas sentral meningkat dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 36,8 persen pada 2023. Obesitas sentral dalam penelitian ini merujuk pada kondisi lingkar perut lebih dari 90 sentimeter pada laki-laki dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan yang tidak sedang hamil. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan berbagai penyakit degeneratif, termasuk penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, gangguan hati, dan penyakit ginjal.
Berbeda dari penelitian yang hanya melihat faktor obesitas pada tingkat individu, penelitian ini mencoba melihat persoalan tersebut dari perspektif kewilayahan. Para peneliti menganalisis data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan 38 provinsi sebagai unit analisis. Variabel yang dikaji meliputi konsumsi makanan dan minuman manis, makanan asin, makanan berlemak atau gorengan, bumbu penyedap, makanan instan, serta pola konsumsi kacang-kacangan, buah, sayuran, susu, minyak atau lemak, dan gula. Aspek sistem budaya juga digunakan untuk membantu memahami perbedaan pola konsumsi antardaerah.
Untuk melihat hubungan antarwilayah, penelitian menggunakan analisis spasial melalui Global Moran’s I dan Local Indicator of Spatial Association (LISA). Sementara itu, analisis Ordinary Least Squares (OLS) digunakan untuk mengidentifikasi variabel yang memiliki hubungan dengan prevalensi obesitas sentral. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat apakah suatu pola konsumsi cenderung mengelompok pada wilayah tertentu sekaligus mengidentifikasi faktor yang berkaitan dengan variasi obesitas sentral antarprovinsi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas sentral di Indonesia membentuk pola berkelompok antarprovinsi. Dalam data yang dianalisis, prevalensi tertinggi ditemukan di DKI Jakarta dan Sulawesi Utara, masing-masing sebesar 45,7 persen, disusul Papua Tengah sebesar 44,3 persen. Di sisi lain, pola konsumsi makanan juga menunjukkan karakteristik yang berbeda antarwilayah. Konsumsi makanan manis tertinggi ditemukan di Bangka Belitung sebesar 66,3 persen, konsumsi makanan asin tertinggi juga terdapat di Bangka Belitung sebesar 65,1 persen, sementara konsumsi minuman manis tertinggi tercatat di Jawa Tengah sebesar 60,3 persen.
Analisis lebih lanjut menemukan empat variabel utama yang berkaitan dengan prevalensi obesitas sentral, yakni konsumsi makanan asin, makanan berlemak atau gorengan, kacang-kacangan, serta buah dan sayuran. Konsumsi makanan berlemak, gorengan, dan makanan tinggi kolesterol menunjukkan hubungan positif dengan prevalensi obesitas sentral dengan koefisien β sebesar 0,532. Temuan ini sejalan dengan pembahasan penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi makanan berlemak dan gorengan menjadi bagian dari pola konsumsi yang dapat meningkatkan asupan lemak dan energi.
Sebaliknya, konsumsi kacang-kacangan menunjukkan hubungan negatif dengan prevalensi obesitas sentral dengan koefisien β sebesar -0,474. Peneliti menjelaskan bahwa kacang-kacangan dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat. Namun, frekuensi konsumsinya dalam data penelitian masih relatif terbatas, sehingga peningkatan konsumsi dalam pola makan sehari-hari tetap menjadi perhatian dalam upaya mendukung pola konsumsi yang lebih sehat.
Temuan lain yang menarik berkaitan dengan konsumsi buah dan sayuran. Dalam model penelitian, konsumsi buah dan sayuran menunjukkan hubungan positif dengan prevalensi obesitas sentral, dengan koefisien β sebesar 0,349. Namun, hasil ini tidak dapat dimaknai bahwa konsumsi buah dan sayuran menyebabkan obesitas. Peneliti memberikan penjelasan bahwa frekuensi konsumsi buah dan sayuran dalam data yang dianalisis masih sangat rendah, yakni rata-rata sekitar satu hingga dua porsi per minggu. Kondisi tersebut membuat manfaat konsumsi buah dan sayuran sebagai bagian dari pola pencegahan obesitas belum optimal.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kebiasaan makan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya lokal. Indonesia memiliki keragaman budaya dan tradisi pangan yang menyebabkan cara masyarakat memilih, mengolah, dan mengonsumsi makanan berbeda antarwilayah. Hal tersebut terlihat pada pola konsumsi makanan asin. Dalam konteks masyarakat Indonesia, makanan asin dapat berasal dari berbagai pangan tradisional, seperti ikan asin, olahan hasil fermentasi, maupun penggunaan garam dalam masakan. Karena itu, hubungan negatif antara konsumsi makanan asin dan obesitas sentral yang ditemukan dalam penelitian perlu dipahami berdasarkan konteks pola konsumsi, metode pengolahan, dan karakter budaya masing-masing wilayah, bukan sebagai anjuran untuk meningkatkan konsumsi garam.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan obesitas sentral di Indonesia memiliki karakter yang kompleks. Pola konsumsi makanan, kondisi geografis, akses terhadap pangan, serta kebiasaan dan budaya masyarakat dapat membentuk karakteristik yang berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Karena itu, pendekatan pencegahan obesitas sentral tidak selalu dapat diterapkan secara seragam di seluruh Indonesia.
Para peneliti menyimpulkan bahwa prevalensi obesitas sentral membentuk pola berkelompok antarprovinsi dan memiliki hubungan yang beragam dengan pola konsumsi makanan. Upaya pencegahan perlu mempertimbangkan perbedaan karakteristik wilayah serta mengarahkan intervensi pada pengurangan konsumsi makanan tinggi lemak dan peningkatan akses serta frekuensi konsumsi buah, sayuran, dan kacang-kacangan sesuai prinsip gizi seimbang.
Penelitian ini sekaligus menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis data dan kewilayahan dalam memahami persoalan kesehatan masyarakat. Dengan melihat hubungan antara pola konsumsi, karakter wilayah, dan konteks budaya, hasil penelitian dapat menjadi salah satu rujukan untuk merancang strategi pencegahan obesitas sentral yang lebih kontekstual dan sesuai dengan karakteristik masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.
Sumber: https://journal.unnes.ac.id/journals/kemas/article/view/32829
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Gorontalo menggelar workshop bertajuk "Dari Pengukuran ke Publikasi: Analisis Hasil Belajar dengan Model Rasch (Winsteps) dan Penulisan Artikel Scopus Berbantuan Claude AI" pada Rabu (1/7). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Lantai 2 Gedung LPPM UNG ini dilaksanakan secara luring dan daring, dengan peserta mengikuti workshop baik secara langsung maupun melalui Zoom Meeting. Workshop ini menjadi bagian dari komitmen LPPM dalam meningkatkan kapasitas dosen dan peneliti menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi internasional.
Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan akan berlangsung pada tanggal 03 November 2025, bertempat di Ruang Sidang Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Negeri Gorontalo. Seluruh dosen di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo diundang untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.
Kegiatan Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset, Menulis Jurnal, dan Menulis Systematic Literature Review akan dilaksanakan pada tanggal 21-23 Agustus 2025. Tempat : Azlea Convention Center Gorontalo
Coaching Mahasiswa Peserta KKN Profesi Kesehatan Tahun 2025, Tempat : Auditorium UNG, Pukul : 10.00 Wita, Pakaian Mahasiswa : Putih Hitam Jas Almamater