
Daun pandan (Pandanus amaryllifolius) selama ini dikenal luas sebagai bahan alami yang memberikan aroma khas pada berbagai hidangan. Namun, di balik pemanfaatannya di dunia kuliner, tanaman ini ternyata menyimpan potensi lain di bidang kesehatan. Hal tersebut terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Mohamad A. Paneo, Nurain Thomas, Fika N. Ramadhani, Multiani S. Latif, Faradila R. Moo, Lisa E. Puluhulawa, Intan Nusi, dan Angreni Ayuhastuti, yang mengkaji pengembangan gel berbahan ekstrak daun pandan untuk membantu penyembuhan luka bakar.
Penelitian tersebut berfokus pada formulasi gel yang mengandung ekstrak etanol 70 persen daun pandan dan mengevaluasi karakteristik fisik, keamanan, aktivitas antibakteri, serta potensinya dalam mendukung proses penyembuhan luka bakar derajat dua pada model praklinis. Hasilnya menunjukkan bahwa bahan alami ini memiliki prospek yang menjanjikan untuk terus dikembangkan sebagai sediaan topikal berbasis herbal.
Dalam pengembangannya, tim peneliti menyusun tiga formulasi gel dengan konsentrasi ekstrak daun pandan sebesar 30 persen, 35 persen, dan 40 persen. Masing-masing formulasi kemudian diuji untuk mengetahui stabilitas fisik, termasuk tingkat keasaman (pH) dan viskositas selama penyimpanan pada berbagai kondisi suhu. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh formulasi memiliki karakteristik yang stabil dan memenuhi kriteria yang diharapkan untuk sediaan gel.
Aspek keamanan juga menjadi perhatian utama dalam penelitian ini. Melalui uji iritasi pada model hewan, para peneliti mengamati kemungkinan munculnya kemerahan maupun pembengkakan setelah penggunaan gel. Selama masa pengamatan, tidak ditemukan tanda-tanda iritasi pada formulasi yang diuji, sehingga menunjukkan kompatibilitas yang baik terhadap kulit dalam kondisi penelitian tersebut.
Selain stabil dan tidak menimbulkan iritasi pada pengujian yang dilakukan, gel ekstrak daun pandan juga menunjukkan potensi dalam mendukung proses penyembuhan luka bakar. Pada model praklinis yang digunakan, formulasi dengan konsentrasi ekstrak 40 persen memperlihatkan proses penutupan luka yang lebih cepat dibandingkan formulasi berkonsentrasi lebih rendah maupun kelompok pembanding. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak dapat berkaitan dengan efektivitas yang lebih baik dalam kondisi eksperimen.
Potensi tersebut diduga berkaitan dengan kandungan senyawa bioaktif di dalam daun pandan, seperti flavonoid, tanin, dan polifenol. Senyawa-senyawa ini dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang dapat berperan dalam melindungi jaringan serta mendukung proses regenerasi selama penyembuhan luka. Meski demikian, mekanisme kerjanya masih memerlukan penelitian lanjutan agar dapat dipahami secara lebih mendalam.
Tidak hanya itu, penelitian juga mengevaluasi aktivitas antibakteri gel terhadap dua bakteri yang sering dikaitkan dengan infeksi luka, yaitu Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa formulasi gel mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri tersebut, dengan aktivitas yang lebih kuat terhadap Staphylococcus aureus. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan ekstrak daun pandan sebagai salah satu sumber senyawa antimikroba alami dalam pengembangan produk perawatan luka.
Meskipun memberikan hasil yang menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih berada pada tahap praklinis. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia dan evaluasi keamanan jangka panjang, sebelum formulasi ini dapat dikembangkan menjadi produk yang digunakan secara luas dalam layanan kesehatan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman yang selama ini akrab digunakan sebagai bahan penyedap makanan memiliki potensi lebih luas di bidang farmasi dan kesehatan. Dengan stabilitas formulasi yang baik, tidak menunjukkan tanda iritasi pada pengujian, memiliki aktivitas antibakteri, serta memperlihatkan potensi mendukung penyembuhan luka bakar pada model praklinis, gel ekstrak daun pandan menjadi salah satu inovasi berbasis bahan alam yang menarik untuk terus diteliti dan dikembangkan di masa depan.
Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan akan berlangsung pada tanggal 03 November 2025, bertempat di Ruang Sidang Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Negeri Gorontalo. Seluruh dosen di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo diundang untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.
Kegiatan Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset, Menulis Jurnal, dan Menulis Systematic Literature Review akan dilaksanakan pada tanggal 21-23 Agustus 2025. Tempat : Azlea Convention Center Gorontalo
Coaching Mahasiswa Peserta KKN Profesi Kesehatan Tahun 2025, Tempat : Auditorium UNG, Pukul : 10.00 Wita, Pakaian Mahasiswa : Putih Hitam Jas Almamater
Penandatangan Kontrak Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Bagi Dosen Penerima dan Kepala LPPM. Penelitian-PPM Biaya DPPM Dikti dan Internal PNBP UNG