Memahami Tuberkulosis dengan Benar, Kunci Mencegah Stigma dan Penularan

Oleh: Berty H. Meluko . June 28, 2026 . 16:10:33

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian dunia. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini masih menyebabkan jutaan kasus setiap tahun dan menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit menular. Di Indonesia, berbagai upaya pengendalian terus dilakukan melalui deteksi dini, pengobatan, dan edukasi kepada masyarakat. Namun, keberhasilan program tersebut sangat dipengaruhi oleh sejauh mana masyarakat memahami penyakit TB, termasuk cara penularan, pencegahan, dan pentingnya menjalani pengobatan hingga tuntas.

Pentingnya pemahaman tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Nanang Roswita Paramata dan St. Rahma dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo. Melalui penelitian deskriptif kuantitatif, tim peneliti mengidentifikasi tingkat pengetahuan masyarakat tentang tuberkulosis paru di Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun strategi edukasi kesehatan yang lebih efektif bagi masyarakat.

Penelitian melibatkan 50 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Selain menggambarkan tingkat pengetahuan masyarakat mengenai TB, penelitian juga mendeskripsikan karakteristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan sebagai gambaran umum kondisi masyarakat yang menjadi lokasi penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan pada kategori cukup, yaitu sebanyak 54 persen. Sementara itu, 38 persen responden berada pada kategori baik dan 8 persen lainnya masih memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pemahaman dasar mengenai tuberkulosis, meskipun masih terdapat ruang untuk meningkatkan kualitas pemahaman tersebut.

Menariknya, para peneliti menemukan bahwa sebagian besar responden telah memahami bahwa TB merupakan penyakit infeksi yang dapat diobati serta pentingnya menjalani pengobatan hingga selesai. Namun, masih terdapat sejumlah miskonsepsi mengenai cara penularannya. Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa TB dapat menular melalui penggunaan alat makan bersama dan bahwa penderita TB perlu dijauhi atau dibatasi interaksi sosialnya. Padahal, penularan TB terutama terjadi melalui percikan udara (droplet) yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.

Dalam pembahasannya, para peneliti menjelaskan bahwa kesalahpahaman tersebut dapat memunculkan stigma terhadap penyandang TB. Berbagai penelitian yang menjadi rujukan dalam jurnal menunjukkan bahwa stigma dapat membuat penderita merasa malu, enggan memeriksakan diri, bahkan berisiko menghentikan pengobatan. Akibatnya, upaya deteksi dini dan pengendalian penularan penyakit menjadi lebih sulit dilakukan.

Penelitian ini juga menggambarkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan dasar hingga menengah pertama. Dalam pembahasannya, penulis mengemukakan bahwa berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan tingkat pendidikan dan literasi kesehatan dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam memahami informasi kesehatan. Oleh karena itu, penyampaian edukasi mengenai TB perlu disesuaikan dengan karakteristik masyarakat agar lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menilai bahwa edukasi kesehatan mengenai tuberkulosis perlu dilakukan secara lebih variatif dan berkelanjutan. Pemanfaatan media visual, video animasi, booklet, serta pendekatan berbasis komunitas dinilai dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus meluruskan berbagai mitos yang masih berkembang. Edukasi juga perlu menekankan cara penularan yang benar, pentingnya etika batuk, menjaga ventilasi rumah, kepatuhan menjalani pengobatan, serta mengurangi stigma terhadap penyandang TB.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan dasar masyarakat mengenai tuberkulosis di Kelurahan Bulota sudah berada pada kategori cukup. Namun, masih adanya miskonsepsi mengenai cara penularan dan stigma terhadap penderita menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. Melalui edukasi kesehatan yang lebih komunikatif, menarik, dan mudah dipahami, diharapkan masyarakat tidak hanya memiliki pengetahuan yang lebih baik, tetapi juga mampu berperan aktif dalam mendukung pencegahan, deteksi dini, dan keberhasilan pengobatan tuberkulosis di lingkungan sekitarnya.

 

Sumber: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jnj/article/view/35970

Agenda

November 3, 2025

Klinik Proposal Penelitian dan Pengabdian Bagi Dosen di Lingkungan Universitas Negeri Gorontalo, Hibah DPPM KEMDIKTISAINTEK T.A. 2026

Pelaksanaan kegiatan ini direncanakan akan berlangsung pada tanggal 03 November 2025, bertempat di Ruang Sidang Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Negeri Gorontalo. Seluruh dosen di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo diundang untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.

August 21 - 23, 2025

Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset

Kegiatan Bootcamp Exclusive Optimalisasi AI untuk Riset, Menulis Jurnal, dan Menulis Systematic Literature Review akan dilaksanakan pada tanggal 21-23 Agustus 2025. Tempat : Azlea Convention Center Gorontalo

July 3, 2025

Coaching Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan 2025

Coaching Mahasiswa Peserta KKN Profesi Kesehatan Tahun 2025, Tempat : Auditorium UNG, Pukul : 10.00 Wita, Pakaian Mahasiswa : Putih Hitam Jas Almamater

June 23, 2025

Penandatangan Kontrak Penelitian dan Pengabdian bagi Dosen UNG

Penandatangan Kontrak Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Bagi Dosen Penerima dan Kepala LPPM. Penelitian-PPM Biaya DPPM Dikti dan Internal PNBP UNG